Terkait Kasus Korupsi Bea Siswa, Itu Pembodohan Terhadap Masyarakat Aceh

Terkait Kasus Korupsi Bea Siswa, Itu Pembodohan Terhadap Masyarakat Aceh

Liputan4.com | Aceh Timur – Untuk menciptakan generasi yang berkualitas dan mencerdaskan anak bangsa, langkah yang paling utama adalah dengan mensejahterakan para guru.

Secara logika bagaimana bisa seorang guru mencerdaskan para muridnya sedang guru di landa ketidak kecukupan, ibarat gelas yang kosong harus di isi dengan air terlebih dahulu sebelum diberikan kepada orang lain.


Pendidikan merupakan hal dasar yang wajib dimiliki oleh setiap manusia, di negara maju, pendidikan setiap penduduk harus diperhatikan agar setiap penduduk mempunyai Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.

Negara maju adalah wilayah dan perwilayahan yang mengalami perkembangan ekonomi yang baik melalui kebijakan dan perwakilan dalam sistem pemerintahan, khususnya lebih mengedepankan kepentingan publik tanpa adanya intervensi dan korupsi.

Dalam hal lain kemampuan SDM mencerminkan kualitas usaha yang diberikan oleh seseorang dalam waktu tertentu untuk menghasilkan barang dan jasa.

Banyaknya Sumber Daya Alam (SDA) tidak menjamin suatu negara atau daerah itu maju apabila SDM nya tidak rendah. Dalam konteks wilayah Aceh, indeks pendidikan masih sangat rendah. Buktinya sampai sekarang Aceh masih masuk dalam provinsi termiskin di sumatera. Seharusnya dengan tingkat kekayaan alam yang berlimpah ruah dari berbagai sektor mulai dari hasil laut yang luar biasa , Perkebunan , pertambangan dan masih sangat banyak lagi, sepertinya sangat tidak masuk di akal pikiran.

Ini adalah tugas kita bersama terutama sekali dari pemerintah, jangan terlalu fokus kepada infrastruktur. Jika Sumber Daya Manusia (SDM) kita tidak mempunyai .

Ciri ciri suatu negara maju adalah bagaimana SDM dan SDA bisa dimanfaatkan secara optimal. Aceh Timur khususnya dan umumnya Provinsi Aceh dengan sumber daya alam (SDA) yang berlimpah ruah tetapi dinikmati dan dimanfaatkan oleh bangsa luar. layaknya seperti pertandingan S
sepak bola, kita hanya jadi penonton.

Harapan saya dan saya kira ini harapan kita semua dimana kita bisa menepis, suatu hadist maja ” Buya krueng teudong doeng buya tamong meuraseuki ” menjadi ” Buya krueng meuraseuki dan berintegriti” Begitu lah kata dari Senior saya Firman dandy SE.M.Si. Selama ini masih banyak terjadi hal – hal yang sedemikian rupa, sangat di sayangkan sekali dimana kita hanya dimanfaatkan oleh mereka tanpa feedback yang setimpal.

Entah memang mereka yang melakukan itu atau mungkin di pangkas oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab. Saya berani mengatakan seperti itu bukan tanpa alasan dikarenakan masih ada sebagian dari kalangan pemangku jabatan mereka ikut andil membodohi rakyatnya sendiri.

Tidak berhenti disitu ditambah lagi kekecewaan saya terakait kondisi pendidikan di Aceh yang sangat memprihatinkan ditambah dengan penyelewengan dana beasiswa yang diduga melibatkan oknum wakil rakyat kita yaitu anggota DPR Aceh, diamana seharusnya mereka memperjuangkan aspirasi rakyat, tapi malah mengibuli rakyatnya sendiri.

Berkedok Aspirasi rupanya nasi basi yang kalian beri kepada mahasiswa dan mahasiswi. Bagaimana bisa kita mewujudkan kesejahteraan, sedang para perwakilan dari rakyat itu sendiri Terang – terangan memanipulasi rakyatnya demi kepuasan semata. Dimana seharusnya tugas mereka mengayomi, menampung aspirasi, membentuk peraturan – peraturan untuk kesejahteran rakyat tapi nyatanya banyak dari perwakilan kita malah merusak peraturan yang sudah ditetapkan. Lebih parahnya lagi mengatas namakan kepentingan rakyat atas kepentingan pribadi.

Seharusnya bisa berperang melawan kebodohan dengan adanya program beasiswa tersebut tetapi malah semakin di bodohi oleh mereka oknum – oknum yang tak bertanggung jawab. sedikit pantun untuk para Wakil rakyat yang terlibat dalam permasalahan ini “Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi kalau ada tangan yang panjang boleh lah kita bagi – bagi fee”.

Reporter Saif Aceh

Print Friendly, Pdf & Email