Opini : Ada Apa Dibalik ” Danding Cigu” ?

blank

Oleh : Wens Panggal

Usai sambutan Bupati Manggarai Timur, Elar viral dengan “danding atau Nenggo Cigu”. Hal ini disampaikan ketika beliau dipercayakan sebagai pembicara diskusi ilmiah talk show dalam rangka memperingati hari kesaktian Pancasila di SMAN 3 Borong (1/10/2020) RADARNTT. Ketika itu Bupati Manggarai Timur menyampaikan, bahwa budaya kritik dan demo adalah bukan budaya Manggarai apalagi kritik sampai ke tahap frontal dan berlebihan. Untuk soal kritikan beliau menyampaikan pujian kepada warga Elar yang menyampaikan kritikan melalui “Nenggo/Danding” (RADARNTT).

Sesuasi pernyataan diatas tentu menggambarkan bahwa Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur pada saat ini, secara tidak langsung belum menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan makna demokrasi yang sebenarnya yang ditandai dengan adanya sifat anti kritik terhadap berjalannya sistem pemerintahan, khususnya pada pengambilan kebijakan di Kabupaten Manggarai Timur.

Berbicara tentang kritikan, tentu merupakan hak dan kewajiban dari setiap warga masyarakat dalam membicarakan terhadap proses pembangunan di wilayahnya. Dan apabila sekelompok orang sudah turun aksi yang frontal ke lapangan, mungkin saja terdapat hal yang tidak beres dong…atau sekiranya bagaimana??  Saya berpendapat bahwa sebagai warga Negara Indonesia khususnya warga Manggarai Timur yang menganut paham demokrasi sudah pantas dan selayaknya berbagai kritikan wajib ada dan harus diterima.

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi terdapat banyak generasi muda Manggarai Timur yang berpotensi sembari mengejar pendidikan tinggi diluar daerah yang besar kemungkinan memiliki pengetahuan yang cukup khususnya dalam dunia sejarah pergerakan mahasiswa pada tahun 1998 tentang reformasi dan intisari dari pergerakan ini adalah untuk membongkar sistem otoritarianisme, melalui aksi atau pergerakan mahasiswa.

Hemat saya aksi adalah solusi ketika audiens atau penyampaian aspirasi melalui musyawarah bersama yang tidak dindahkan  atau tanpa ada respon dari pihak terkait untuk pengambilan keputusan yang tidak menimbulkan kontroversial dalam masyarakat. Oleh karena itu pemerintah kabupaten Manggarai Timur sebaiknya bangga memiliki masyarakat yang peduli terhadap kinerja pemerintah dan untuk menjawab hal ini sebaiknya membentuk diskusi publik agar segala aspirasi dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan daerah.

Sebagai warga Manggarai Timur khususnya Kecamatan Elar, tentu menyampaikan ucapan terima kasih terhadap pujian Bapak Bupati Manggarai Timur yang memang kenyataanya bahwa Elar memberikan kritikan atau permintaan tidak dengan cara aksi yang frontal tetapi melalui danding atau Nenggo, namun kesalnya belum ada pembangunan yang signifikan yang dirasakan dan parahnya lagi diantara warga belum ada yang jebol panggung Indonesian Idol….

Kecamatan Elar seingat saya merupakan Kecamatan tertua dari Kecamatan lainnya yang berada di wilayah Kabupaten Manggarai Timur, namun sampai dengan saat ini, wilayah Elar dalam mendapatkan Kue pembangunan selalu di anak tirikan, atau apakah Elar kekurangan keterwakilan masyarakat yang duduk di kursi legislative?? Sesuai dengan yang terjadi, salah satu cara yang ampuh untuk menyampaikan aspirasi tentu melalui Danding atau Nenggo, karena ketika dipentaskan, secara langsung Bapak Bupati menyaksikan dan oleh karena itu dianggap penting untuk menyiratkan kata aspirasi atau permohonan yang bersifat “Cigu’ atau kritikan yang memiliki makna pedis sampai ke ulu hati. Hehehe mohon maaf Pak….

Mengapa demikian?? Tentu karena sesungguhnya Elar adalah salah satu daerah yang memiliki potensi, yang berada di wilayah Manggarai Timur. Adapun potensi alam yang ada yaitu keindahan akan pesona  alam atau pariwisata, daerah persawahan yang terdapat di Gising serta budaya leluhur yang diwariskan turun-temurun, maksud kami Pak, tolong kembangkan inilah…!!! Untuk  Konteks budaya yang sering diperbincangkan dan dikenal, yaitu Danding. Danding merupakan salah satu budaya Manggarai yang dipentaskan pada saat ritual adat serta kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah yang bekerja sama dengan kepala kampung atau Tua Teno setempat. Di Elar danding sering dipentaskan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, Hari Pendidikan Nasional, Kunjungan Pejabat daerah, dan lain sebagainya. Melalui kegiatan ini, terdapat nilai didik yaitu sebagai pembelajaran setiap  generasi agar tidak tergerus dengan arus perkembangan zaman.

Adapun hal lain yaitu pada saat “hgan ute weru gu elak taun” (Syukuran hasil panen dan pergantian tahun) selalu diawali dengan ritual adat dan syukur kepada Tuhan atas berkat-Nya melalui misa syukur di Gereja. Yang menarik pada proses ritual adat, diwarnai dengan acara Danding dan Mbata bersama mulai dari malam hari hingga terbitnya matahari. Tujuan Danding adalah dalam rangka memeriahkan acara atau diera modern sekarang kerap dikenal dengan dentuman  musik DJ dan lain sebagainya.

Untuk Danding ketika ada kunjungan Kepala Daerah seperti Gubernur, Bupati dan pejabat lainnya, kata-kata yang tersirat dalam “Goet Danding” tentu berbeda. Lazimnya “goet“(kata) dalam danding berupa ucapan selamat datang dan menyampaikan aspirasi serta permintaan melalui setiap syair yang tersirat. Sebagai contoh ada lirik Danding diawal yaitu “Cai Aw Ema Dami Ami Nisang Nai, Ew Ramak Dami Ga, A Oow Woko Cai Ema Dami Ami Nisang Nai”. Tuuuuttthh (hentakan kaki kepala Danding), Ini artinya ucapan terima kasih dan rasa senang atas kehadirannya, selanjutnya pada pertengahan danding, misalnya “Baeng Ema Ge…Lako Salang Watu Ba’eng Ema Ge, Aow Sangget Darat Tana Neka Pangga Salan Eang Aew” ini artinya bahwa ucapan dari lubuk hati masyarakat kepada seseorang bahwa beliau menuju ke Elar melewati jalan bebatuan dan doa masyarakat setempat  agar terhindar dari gangguan roh jahat yang menghambat perjalanan. Sedangkan untuk makna sigu atau kritikan yaitu bahwa terdapat wilayah lintas ke kecamatan yang belum di aspal dan terdapat  rerumputan dipinggiran ruas jalan.

Oleh karena itu, harapannya jalan ini agar segera diperhatikan dan bisa dianggarkan untuk pembersihan rumput disekitar jalan dari ibu kota kabupaten sampai di Elar. Salah satu pengakuan dari kepala Daerah, tentu masyarakat setempat bangga yang walaupun pemerataan pembangunan khususnya jalan dan listrik belum direalisasikan namun selalu menunggu masa yang mungkin disuatu saat nanti bisa terwujud sebelum kami dipanggil pulang yang Maha Kuasa.

 

Print Friendly and PDF
share 0 Komentar

Yakin Ngga mau Komen?

ADVERTISING LAMPUNG SELATAN Mau beriklan?

Klik Disini!
  • blank
  • blank
  • blank
  • blank
  • blank
  • blank
  • blank
blank1 blank2 blank3 blank4 blank5 blank6 blank7