News, Opini  

Kado Dari PT. MHI Berupa Sembako Kepada Warga Untuk Ramadhan dan Idul Fitri

Kado Dari Pt. Mhi Berupa Sembako Kepada Warga Untuk Ramadhan Dan Idul Fitri

Oleh: Victor Zapata 


Melihat kondisi PT. Mahakarya Indonesia  hutan indonesia (MHI) bertekad menyalurkan bantuan langsung secara rutin kepada warga Wasile Utara, Tengah, dan Timur | Kabupaten Halmahera Timur berupa sembako untuk Idul Fitri dan bagi yang menjalankan puasa (ramadhan) serta wajib (berhak) mendapatkan bantuan itu sedang berlangsung cukup mengerikan. Fakta ini sebenarnya cara lama, bagian dari modus perampasan hutan dan merusak lingkungan hidup (ekosistem) di wilayah operasional PT. MHI. 

Dalih karena bantuan atas dasar kemanusiaan, dan remah-remah untuk bisa bermanfaat oleh warga kerap tidak dianggap dan dipahami warga bahwa itu adalah senjata pamungkas merampok (mengeksploitasi) alam (kekayaan) dan semua sumber hidup masyarakat yang ada di 3 kecamatan atas nama pengumpulan modal perusahaan.

Dengan entengnya, PT. MHI dan orang-orangnya yang mengeluarkan serta menjalankan bantuan ini, menyimpulkan bahwa kerja keras ini alih-alih agar bisa barokah dan warga bisa mendoakan suksesi MHI kedepannya, termasuk untuk memperbaiki perusahaan tersebut sebagimana yang dilansir berita hari ini lengkap dengan paket, kebutuhan, desa, dan yang berhak. (Lihat: https://cerminhalmahera.com/pt-mhi-salurkan-sembako-ke-warga-yang-menjalankan-ibadah-puasa/)

Apakah benar ini adalah bantuan kemanusiaan, agar bisa bermanfaat, suatu kewajiban untuk yang berhak dan lain-lain dan lain-lain? Tentu bukan, karena sejak awal; memang perusahaan perampok dan perusak hutan ini tidak menghendaki kemanusiaan; tidak membawa kebaikan, kita bisa lihat klaim memiliki luas wilayah ratusan bahkan ribuan hektar di 3 kecamatan Wasile adalah sebuah manipulatif yang melandasi keberadaannya. Pembalakan hutan, pencemaran lingkungan hidup, kerusakan sumber air, sumberdaya alam, merosotnya hewan buruan, kebun warga yang dirampas paksa dengan ancaman, teror, dan intimidasi, termasuk menggunakan jalan agama sebagai modus memuluskan eksploitasi terhadap hak-hak warga secara terang-terangan di lakukan; tanpa tedeng aling-aling mempertimbangkan hak warga yang diatur dalam ketentuan UU Dasar, 

Kovenan internasional hak azasi manusia, UU No 5 tahun 1960, UU lingkungan hidup, hak adat masyarakat, dan masih banyak lagi aturan yang melindungi segenap keperluan hidup dan jaminan sosial warga masyarakat termasuk kondisi lingkungan yang ekologis sedang diabaikan.

Hari ini, situasi dimana wabah virus Covid-19 juga menjadi problem penting yang mengancam aktivitas masyarakat, bukan sebaliknya bantuan masker katanya untuk memanfaatkan momentum wabah Covid-19 ini atas nama MHI. Karena tolak ukur bantuan dengan tujuan agar "mendukung perusahaan" adalah tingkah laku memalukan dan keji. Bukankah cara terbaik untuk menghentikan mata rantai wabah ini dengan harus berhentikan eksplorasi dan eksploitasi perusahaan, termasuk menghentikan kerja bagi buruh penabang kayu, termasuk semua langkah yang diambil selama ini, karena ini bisa jadi pencitraan semata-mata agar dukungan solidaritas terhadap MHI semakin banyak. Jalan radikal yang lebih maju (progresif) dan manusiawi adalah tutup PT. MHI atau angkat kaki dari jajirah Wasile Kabupeten Halmahera Timur.

Jadi, kita tahulah ini sebenarnya KADO (ole-ole) MHI dalam bentuk sembako kepada warga agar bisa membeli harga diri dan martabat masyarakat Wasile, baik yang beragama Islam maupun beragama kristen dengan turut menyerahkan (membiarkan) kerusakan hutan untuk hari ini dan masa depan anak cucu. Dan kita semua tidak punya hak merusak hutan, apalagi menjual kepada investasi asing. Itulah kenapa, sebagimana kata Pramoedya Ananta Toer: "Tak ada satu bangsa akan dijajah terkecuali bekerja sama dengan orang dalam".

[zombify_post]