THEO L. SAMBUAGA: SABAM SIRAIT KONSISTEN DUKUNG KEMERDEKAAN PALESTINA, DEMOKRASI, DAN HAM

Theo L. Sambuaga: Sabam Sirait Konsisten Dukung Kemerdekaan Palestina, Demokrasi, Dan Ham

Sabam Sirait merupakan politisi senior Indonesia yang berkiprah sejak Orde Lama. Sabam lahir pada 13 Oktober 1936 di Pulau Simardan, Tanjung Balai, Sumatera Utara dan meninggal di Jakarta pada 29 September 2021 silam.

Banyak jejak politik Sabam Sirait, salah satunya yang memperlihatkan konsistensinya adalah mempertahankan Partai Demokrasi Indonesia dari polemik yang terjadi dalam tubuh partai ini pada 1996.

Sabam Sirait menjadi anggota legislatif sejak Orde Lama hingga dirinya menutup mata terakhir (DPD RI). Sabam memulai karier politiknya di Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan duduk di parlemen.

Setelah Parkindo difusikan ke dalam Partai Demokrasi Indonesia, Sabam pun menjadi sosok yang memperjuangkan partai ini. Selain menjadi sosok yang mengajak Megawati Sukarnoputri masuk PDI (PDI-P), Sabam konsisten memperjuangkan demokrasi dan HAM di Indonesia.

Sebagai begawan politik, sosok Sabam meninggalkan keteladanan hidup. Ia berpihak kepada persoalan hak asasi manusia (HAM). Manusia memiliki martabat yang mulia sebagai ciptaan Tuhan. Maka, Sabam konsisten memperjuangkan kemerdekaan rakyat Palestina dan kritis terhadap persoalan eksploitasi manusia.

Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia menggelar diskusi publik bertema “Sabam Sirait Dalam Perjuangan Bagi Demokrasi dan HAM di Indnesia” di Gedung Nusantara IV Kompleks MPR RI, Senin (28/3/2022). DPP GMKI melihat banyak hal yang menarik untuk dipetik dari perjuangan Sabam Sirait dalam menjalankan perutusannya dalam konteks demokrasi.

Drs. Theo L. Sambuaga, yang menjadi salah satu narasumber dalam diskusi ini, mengatakan, sudah mengenal Sabam Sirait sejak awal 1970-an, saat dirinya di senat mahasiswa UI. Theo mengenal Sabam sebagai senior Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Sabam selalu mendorong kegiatan-kegiatan di mahasiswa UI, pada awal 1970-an. Pada 1974 terjadi peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari).

“Kemudian saya mengenal beliau saat saya di Dewan Pengurus Pusat GMNI (sekarang Presidium GMNI), 1976, dan saya juga aktif di Kelompok Cipayung. Beliau juga termasuk senior GMNI dan turut mendorong gerakan-gerakan mahasiswa, khususnya Kelompok Cipayung,” Theo berkisah.

Saat masuk KNPI, 1978, Theo juga bertemu Sabam Sirait. Di KNPI bergabung seluruh organisasi mahasiswa. Menurut Theo, Sabam selalu menempatkan diri sebagai senior yang membimbing dan menggembleng mahasiswa dengan kata-katanya yang tegas diselingi humor.

Pada 1982 saat Theo menjadi anggota DPR RI Fraksi Golkar, mereka bertemu lagi. Sabam sudah lebih dulu di DPR RI, dari Fraksi PDI. Theo di DPR RI selama 19 tahun, sampai 1997, kemudian Theo menjadi menteri, dan balik ke DPR RI lagi pada 2004-2009.

Selama di DPR RI, Theo Sambuaga dan Sabam berada di Komisi I, di Badan Kerja Sama Antar Parlemen. Theo merasa komunikasinya dengan Sabam sangat intensif. “Kami selalu bertemu dan komunikasi kami di DPR sangat baik, walau kita berbeda partai. Beliau selalu memberi pemikiran-pemikiran cerdas dan sangat kritis dan konstruktif,” kenang Theo.

Komisi I DPR RI membidangi hubungan luar negeri. Seingat Theo, sejak awal, Sabam Sirait selalu konsisten memperjuangkan kemerdekaan rakyat Palestina. Orang sering berpikir bahwa Sabam Sirait itu tokoh Kristen. Namun dia sangat nasionalis, termasuk yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Sabam ikut memprotes pendudukan Israel terhadap Jalur Gaza, sampai sekarang.

Di akhir 1980-an, saat hubungan RI-Australia agak renggang terkait Timor Leste, Sabam mengungkapkan suara-suara kritis terhadap Australia, yang kurang bersahabat dengan Indonesia, saat itu, termasuk saat Australia tidak menerima Dubes Mantiri, yang mau ditugaskan ke Australia.

Sabam juga mengkritisi pendudukan Uni Soviet terhadap Afganistan dan memprotes perang Amerika terhadap Irak.

Nah, semua itu, menurut Theo Sambuaga, memperlihatkan sikap dan perjuangan Sabam Sirait terhadap demokrasi dan HAM, baik dalam negeri maupun pada hubungan internasional.

Terhadap mereka yang lebih muda, Sabam Sirait selalu bersikap membimbing dan memberikan semangat, menggembleng.

“Karena itu, saya kira, ada alasan yang tepat bila beliau diperjuangkan untuk menjadi pahlawan nasional dan kami semua mendukung. Dari jalur mana pun kita mendukung ide itu. Sesuai aturan, inisiatif harus datang dari daerah di mana Sabam Sirait berasal, Sumatera Utara,” ujar Theo L. Sambuaga.

Menurut Theo, partai politik itu wadah, alat perjuangan. Kalau mau berjuang di lapangan politik harus masuk partai politik. Sabam sangat konsisten menjadikan partai politik sebagai alat perjuangan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat melalui pemilihan umum.

Partai politik, melalui wakil-wakilnya di lembaga legislatif dan pemerintahan, mewujudkan cita-cita menyejahterakan rakyat melalui pembangunan nasional dalam segala bidang. Setiap lima tahun sekali mereka dites lewat pemilihan umum. Kalau menurut rakyat, orang itu tidak berjuang untuk kesejahteraan rakyat, tentu dia tak dipilih rakyat lagi. Sabam Sirait menggunakan mekanisme ini dengan sebaik-baiknya. * (Rika)