Pustakawan Diminta Kreatif dan Inovatif

  • Bagikan
Pustakawan Diminta Kreatif dan Inovatif

Liputan 4.com, Banjarmasin-Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan, menggelar Sosialisasi Jabatan Fungsional Pustakawan, di salah satu Hotel di Banjarmasin, Kamis, (8/7) pagi.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Selatan Hj Dra Nurliani Dardie M.AP, melalui Sekretaris, DR Muhammad Ramadhan SE., ME., AK., CA., mengungkapkan, keberadaan Pustakawan di Kalsel ini masih sangat dibutuhkan, dalam artian jumlah Perpustakaan yang ada belum seimbang dengan jumlah Pustakawan.

Tingkat kegemaran membaca, yang saat ini Provinsi Kalsel masih berada di urutan ke 17 dari 34 provinsi di Indonesia.

“Indeks pembangunan literasi kita tertinggi se-Indonesia, sehingga diharapkan minat baca juga dapat menyusul dengan partisipasi semua pihak, termasuk pustakawan yang kita upayakan terus bertambah,” ujar Ramadhan.

Dengan kegiatan ini,

Pustakawan Diminta Kreatif dan Inovatif
Peserta Sosialisasi Jabatan Fungsional Pustakawan saat sesi Poto bersama (Poto Aduy)

100 peserta dari kalangan penjabat fungsional struktural di lingkungan Dispersip Kalsel dan kabupaten/kota, hingga para guru yang menjadi pengelola perpustakaan sekolah, diinginkan mau menjadi fungsional pustakawan dengan berbagai keuntungan.

“Adanya wacana penyederhaaan birokrasi dari pemerintah pusat, khususnya bagi pemegang jabatan administrator dan pengawas, yaitu eselon 3 dan 4 ke dalam jabatan fungsional, tentu jabatan pustakawan lebih diuntungkan, karena sudah lama ada sejak tahun 1988, berarti sudah memiliki kematangan secara aturan dan sudah memiliki tunjangan fungsional,” ungkap Ramadhan.

Selain itu, saat ini pustakawan masih sangat banyak diperlukan, karena setiap perpustakaan seharusnya memiliki pengelola yang profesional.

Kegiatan yang diisi narasumber berkompeten di bidangnya ini, juga bertujuan meningkatkan kompetensi peserta, yang saat ini berkecimpung di bidang perpustakaan dan kearsipan.

“Iya, mereka bisa mengikuti proses inpassing namanya, mengikuti ujian kompetensi hingga dapat menjadi pustakawan,” beber Ramadhan.

Selain melalui cara tersebut, pihak Dispersip Kalsel juga telah berupaya meminta formasi Calon Pegawai Negeri Sipil kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, untuk menambah tenaga pustakawan dan arsiparis.

“Dua tahun lalu kami telah menyurati atas nama Kepala Dispersip Kalsel, yang juga ditembuskan ke Mendagri, Badan Kepegawaian Daerah, dan alhamdulilah tahun ini formasinya dibuka sebanyak 57 orang pustakawan dan arsiparis, ini pretasi yang membanggakan, terbanyak nomor 2 setelah formasi kesehatan,” tutur Madan

“Namun alhamdulillah dengan reformasi yang dilakukan oleh Menpan-RB, bahwa sudah mulai terdata sejumlah ASN yang menduduki jabatan struktural akan dialihfungsikan menjadi pejabat fungsional, maka akan bertambah jumlah pustakawan di daerah ini,” kata Ramadhan.

Sementara itu Kadispersip Kalsel Hj Dra Nurliani Dardie M.AP, mengatakan sosialisasi ini sangat penting digelar untuk memberikan penguatan kepada Pustakawan, karena ketika ASN terahlih fungsi dari birokrasi menjadi pejabat fungsional tentunya banyak persaingan ketat akan dihadapi.

“Menjadi Pustakawan ini tidak gampang, sebab perlu melalui proses yang panjang, misalnya harus mengikuti Diklat atau di tes dulu sehingga bisa meraih sertifikat. Begitu juga perlu inpassing pada strata atau gologan. Olehnya itu para Pustakawan yang ada saat ini patut bersyukur,” ujar Bunda Nunung sapaan akrabnya.

Menurut Bunda Nunung, jika Pustakawan tidak mampu berinovasi dalam menjalankan fungsinya sebagai Pustakawan, tentunya akan tertinggal bahkan ditinggalkan oleh orang banyak.

“Ke depan, para Pustakawan akan diperhadapkan dengan persiangan yang ketat, dengan bertemu kompetitor yang memiliki inovasi tinggi, kemudian memiliki kecerdasan serta keterampilan yang baik. Olehnya itu tinggalkan kebiasan-kebiasan yang buruk dengan duduk diam menunggu saja, tetapi perlu ada kreativitas dalam mengelola Perpustakaan,” imbuhnya.

Bunda Nunung mengatakan, berkualitas atau hebatnya Perpustakaan di daerah ini, terletak di tangan Pustakawan yang ada di Kalsel.

“Kita tidak boleh beralasan misalnya kelengkapan infrastrukturnya dan mobilernya, sebab hal ini adalah persoalan kedua. Persoalan yang utama adalah kecerdasan seorang Pustakawan untuk mendesain dan mengatur pelayanan Pepustakaan menjadi menarik,” katanya.

Ia mengatakan, Pustakawan masih terperangkap dengan cara pelayanan yang buruk, seperti menunggu Pemustaka di rak-rak buku yang sudah lapuk, di tempat ruangan yang tidak pernah diubah dari 20 tahun lalu hingga saat ini, beber Bunda Nunung.

“Hanya orang kreatif yang bisa bertahan hidup di dalam persaingan ini, orang kreatif dan inovatif ini adalah orang yang mampu mengubah hal yang biasa menjadi luar biasa, seharusnya jiwa ini dimiliki oleh pustakawan,” ungkapnya.

Olehnya Bunda Nunung berpesan kepada para pustakawan harus memiliki jiwa edukatif dan mampu membina pengelola Perpustakaan.

“Karena ketika UU di negara ini menetapkan kepada seorrang ASN menjadi pejabat fungsional, maka pada saat melekat jabatan itu harus mempunyai tanggungjawab moral yang mampu mengedukasi untuk pelayanan Perpustakaan jadi lebih baik, dan dari sinilah baru tercipta budaya gemar membaca,” pungkas Bunda Nunung.

Print Friendly, PDF & Email
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
Suka
1
Waww
Waww
0
Haha
Haha
0
Sedih
Sedih
0
Lelah
Lelah
0
Marah
Marah
0
  • Bagikan