Muhammad Ali Sebut Insiden Penolakannya Menjadi Rektor UM Sorong Hanyalah Akibat Miss Komunikasi

Muhammad Ali Sebut Insiden Penolakannya Menjadi Rektor Um Sorong Hanyalah Akibat Miss Komunikasi

LIPUTAN4.COM, SORONG, PAPUA BARAT – Insiden penolakan dan pemalangan kampus dari sebagian mahasiswa dan masyarakat adat malamoi beberapa pekan lalu disebutkan oleh Rektor baru periode 2020-2024 sebagai sebuah akibat miss komunikasi antara mereka dan pihak-pihak yang melakukan pemalangan tersebut, “Saya menyikapi hal itu sebagai miss komunikasi, sebab mereka mencintai proses pendidikan yang baik. Mereka mencintai kedamaian dan mereka ingin meningkatkan sumber daya yang baik. Sehingga saya harus rangkul semua mahasiswa, karena mahasiswa bagian yang harus dididik, jadi jika ada yang tidak setuju bisa datang dan kita bicara baik-baik agar tidak terjadi miss komunikasi” tutur Dr. H. Muhammad Ali,MM.,MH, kepada media ini, Rabu (20/5/2020).


       Ali menjelaskan bahwa proses pelantikannya sebagai Rektor UM Sorong sudah sesuai dengan SK Pimpinan Muhammdiah se-Indonesia. Namanya diajukan oleh Hermanto Suaib(Mantan rektor-red), yang kemudian disetujui oleh anggota senat universitas UM Sorong. Kemudian proses administrasi dilaksanakan untuk melengkapi semua berkas dan membuat pernyataan pelaksanaan tugas sehingga telah sesuai prosedural yang dimaksud, “Saya terpilih sebagai Rektor UM Sorong atas penunjukan Pak Hermanto untuk menjadi salah satu kandidat terkuat, oleh sebab itu saya angin melanjutkan visi/misi yang sudah ada sejak rektor yang lama” tuturnya.

      Ia menjelaskan, Kapolres Sorong Kota telah menjamin keamanan di UM Sorong. Karenanya, pihak kampus sekarang berusaha mengejar ketertinggalan proses belajar mengajar. Mengenai penetapannya selaku rektor UM Sorong periode 2020-2024, ia menjelaskan bahwa dirinya dilantik sejak tanggal 18 april 2020 di Swiss Bell Hotel Sorong, “ saya akan melakukan konsolidasi dan sososialiasi pada elemen masyarakat kususnya pemerintah dan TNI Polri atas amanah sebagai pimpinan baru di UM Sorong” Katanya.

     Menurutnya, mahasiswa harus meningkatkan kualitasnya dalam system multi pelayanan. Ia juga meminta semua elemen mendukung program kerjanya, khususnya mahasiswa dan dosen. Bagi mahasiswa yang familiar dengan teknologi, dipersilahkan bermain tentang teknologi dan mahasiswa yang masih transisi, seperti oknum mahasiswa yang memiliki kemampuan berteknologi tetapi tidak ditunjang dengan fasilitas teknologi, juga pada poin satu dan dua tidak memiliki kemampuan berteknologi maka akan diberikan pelayanan dan pendampingan oleh dosen-dosen berkapasitas kemampuan teknologi yang handal. “  juga untuk dosen yang hanya S2 harus memenuhi syarat ukuran kualitas dosen dengan harus memiliki kualitas pendidikan Strata 3,” Pungkasnya.

[zombify_post]