PASPARAWI XIII SE-TANAH PAPUA

Harga TBS Naik dan Harga Pupuk pun Meroket, Gulat Manurung : Pemerintah Harus Turun Tangan

Pewarta: Erwin Nababan Topik: Ekonomi & Bisnis, Riau
  • Bagikan
Harga TBS Naik dan Harga Pupuk pun Meroket, Gulat Manurung : Pemerintah Harus Turun Tangan
Liputan4.com, Riau – Kenaikan harga komoditi tandan buah sawit (TBS) ternyata menyisahkan suatu persoalan bagi petani sawit. Dimana harga TBS naik seiring harga pupuk pun naik melampaui harga TBS.
Hal itu dibenarkan langsung oleh Ketua Umum  Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Ketum DPP APKASINDO), Dr cn Ir Gulat Manurung, MP.,C.APO.
“Ya benar, dilema, harga TBS naik, tapi harga pupuk sudah naik melampaui kenaikan harga TBS. Dan biasanya kalau harga TBS turun, malah harga Pupuk tidak ikut turun”, sebut Gulat Manurung, (27/7/21).
Ia juga menjelaskan, “kenaikan harga pupuk tentunya meningkatkan biaya Produksi (HPP). Dan biaya pemupukan ini diperkebunan Kelapa Sawit menyerap 30% dari total rata-rata Biaya Produksi. Berat memang. Contoh untuk Pupuk MOP saja bulan ini mengalami kenaikan Rp.910 – Rp.1460 per kg. Artinya kenaikan nya bisa mencapai 13 % – 27 % per Kg. Kenaikan pupuk ini, di mulai pada bulan Februari 2021, trendnya cenderung selalu naik setiap bulan. Pemerintah harus turun tangan”, pinta Gulat Manurung.
Gulat juga menyampaikan bahwa terkait persoalan tersebut sudah dipertanyakan pihaknya ke beberapa Produsen Pupuk mitra APKASINDO. Seperti Wilmar/Sentana ( Pupuk Mahkota), Pupuk Kaltim dan Petrokimia. Semua mengatakan kenaikan harga dikarenakan naiknya harga bahan baku dari Luar Negeri. Pupuk kimia yang mereka produksi sekarang bahan bakunya sebagian besar berasal dari Impor.
Dan Gulat juga mempaparkan bahwa hasil hitungan pihak Apkasindo, kenaikan harga TBS bulan Juli sangat tidak berarti bagi Petani Sawit, sekalipun harga TBS naik secara signifikan. Dimana setiap kenaikan harga TBS Rp.100/Kg, maka kenaikan itu akan di ikuti oleh naiknya harga pupuk sebesar Rp.75/kg. Selama bulan Juli di Riau, kenaikan harga TBS rerata Rp. 300/Kg, artinya kenaikan itu hanya menyisakan Rp.75/kg ke Petani. Lanjutnya, kenaikan harga Pupuk ini juga berlangsung di 22 Provinsi perwakilan APKASINDO.
“Jadi semua merasakannya. Kami paling miris melihat saudara-saudara kami di Provinsi lain yang rerata harga TBS nya lebih rendah 20-30% dari Riau. Seperti di Sulawesi Selatan dan Banten, dimana kenaikan harga pupuk disana bisa kebalikan dari Riau. Artinya Setiap kenaikan harga TBS Rp100/kg, maka kenaikan tersebut akan terserap oleh harga pupuk Rp.125/kg”, paparnya kemudian.
Dan diakhir penjelasannya, terkait Pupuk Subsidi, bahwa Petani hampir diseluruh Indonesia, jarang menggunakan pupuk subsidi. Dan pihaknya cenderung mendahulukan saudara-saudara kami Petani Tanaman Pangan dan Hortikultura.
Print Friendly, PDF & Email
  • Bagikan