Sambung Ruh Ulama Nusantara Dato’ Karama


Oleh : *Mohammad Sofyan*
————————————————————-

LIPUTAN4.COM, Palu- “Kapak mega menjuntai pada pun cak bukit Doda
Teluk palu terhampar
Diantara perkasanya
Gunung Nokilalaki
Gunung Gawalise
Mengiris permukaan teluk Palu
Rebah jasad Waliullah Dato Karama
Terpahat dalam kalimah Robul Izzati…. “*


Kota palu yang terbentang dalam gugusan diaroma alam mempesona diantara laut, teluk, bukit, lembah dan gunung gunung adalah cakrawala lukisan yang terpahat dalam manifestasi batin.

Cuaca mendung sejak pagi telah menyelimuti kota palu. Ketika sinar menteri yang berarak dari ufuk timur menuju siang, gerimis berlahan lahan mulai jatuh dari langit.

Air hujan secara konstan mulai membasahi kota palu. Terangnya sinar mentari telah tertutup oleh kumpulan mega mega yang mencurahkan air hujan dari siang hingga sore hari.

Pada sore hari rintik hujan belum menunjukan tanda tanda untuk mengakhiri tumpahannya, justru saat menuju tengah malam air hujan semakin deras mengguyur bumi kota Palu.

Suasana dingin yang terbawa oleh lelehan air yang jatuh dari langit telah membuat warga Palu memilih untuk berselimut dalam tidurnya. Namun tidak bagi kami sebab malam yang dingin itu kami terobos bersama moda transpotasi grab yang kami sewa untuk menyusuri jalan jalan kota Palu menuju makam ulama yang dikeramatkan oleh segenap umat muslimin kota Palu.

Hiruk pikuk susana yang terjadi di Sriti Conventions Hall dalam rangka Munas KAHMI ke XI tidak menghalangi tekad kami untuk sowan tabaruk ziaroh di makam ulama kota Palu Dato Karoma.

Kami bertiga yaitu saya sendiri selaku penderek (orang yang mengikuti atau mengawal) dari *Mas Yai Mohammad Anshori* yang dikenal sebagai seorang Kyai Muda yang gandrung pada sejarah dan peradaban dunia. Sosok beliau sudah sangat familiar bagi pegiat budaya, sastrawan, aktifis maupun politisi di kawasan Solo Raya.

Mas Yai Anshori yang berpenampilan gondrong diketahui adalah seorang aktivis Mahasiswa yang aktif dalam gerakan maupun demontrasi Mahasiswa era tahun 1998. Di almamaternya yaitu di IAIN Surakarta yang sekarang menjadi UIN RM. Said Surakarta beliau juga dikenal sebagai pegiat teater dan sastra yang hingga sekarang masih dianggap produktif berkarya dalam bidang kesenian dan kebudayaan.

Pria nyentrik yang sehari hari tinggal di Klaten ini pernah menjadi anggota Komisioner KPU Kab. Klaten periode 2013 – 2018. Saat ini sehari hari beliau mengelola sanggar kesenian dan lembaga Kebudayaan *Sayuk Rukun* Jatinom Klaten. Selain itu Mas Yai Anshori sehari hari berbagi waktu sebagai conten creator untuk menelusuri jejak jejak kehidupan masa lalu. Hasil investigasi yang dilakukan selanjutnya dituangkan dalam chanel youtube *Peduliklaten Channel* dan *Evyfour*

Hasil investigasinya selanjutnya dituangkan dalam berbagai karya tulis yang sudah terhimpun dalam beberapa buku maupun tersebar luas di beberapa media yang terkoordinir dalam literasi desa *Ansori Book*.

Salah satu karya buku yang sudah beredar adalah buku berjudul *Menjaga Desa Sebagai Desa*, saat ini Mas Yai Anshori sedang menulis buku bertema Desa dan Perempuan dalam fragmen Antologi Puisi dan tahap akhir penyelesaian penulisan novel cinta yang bergenre filsafat yang berjudul *Trilogi Kehidupan Masyarakat Jawa dan Novel Mendekap Hujan Dari Tenggara* _coming soon_

Mas Yai Anshori mengaku sejak kecil dididik oleh orang tuanya dilingkungan Muhammadiyah namun seiring dengan luasnya pergaulan dan pengetahuanya maka saat ini beliau juga dekat dan bersinergi dengan para Kyai di lingkungan Nahdlatul Ulama. Bahkan diakui oleh para rekan rekan dekatnya jika Mas Yai Anshori sudah sangat lebur dalam hal amaliah keagamaan sehingga saat ini orang akan susah mengidentifikasi apakah beliau berafiliasi dengan Muhammadiyah atau NU. Saya adalah seorang _Islam Nusantara yang berkemajuan_, kelekarnya suatu ketika.

Kedatangan beliau di Kota Palu adalah dalam kapasitasnya sebagai Koordinator Presidium Korps Alumni HMI (KAHMI) Majelis Daerah Klaten yang merupakan utusan penuh dalam penyelenggaraan Munas KAHMI ke XI yang berlangsung di Kota Palu Sulawesi Selatan.

Selain saya _ndereke_ Mas Yai Anshori malam itu sekaligus saya juga _ndereake_ seorang senior yang bernama *Ahmad Ali Saefudin* atau biasa disapa Gus Aas. Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini sekarang adalah seorang interprenuership sekaligus owner perusahaan dibidang alat alat kesehatan yang berkantor di Tegal – Jawa Tengah.

Gus Aas lahir dari lingkungan yang syarat dengan tradisi NU dan pesantren. Beliau adalah seorang santri tulen sebab sejak kecil sudah malang melintang dibebarapa pondok pesantren di Jawa Tengah dan terakhir nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur yang merupakan Ponpes legendaris yang didirikan oleh Hadrotusyekh Hasyim Asya’ari pendiri Jami’yah Nahdlatul Ulama dan merupakan kakek kandung KH. Abdurahman Wahid Presiden RI ke IV.

Setelah menamatkan sanad keilmuan Aliyah di Pondok Pesantren selanjutnya Gus Aas melanjutkan pendidikan di Fakultas Psikologi pada Universitas Muhammadiyah Surakarta. Selama menjalani kuliah di Gus Aas adalah seorang aktivis Mahasiswa. Beliau tercatat pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sukoharjo – Jawa Tengah.

Sosok yang kritis namun cenderung pendiam dalam pembawaaanya ini setelah lulus kuliah selanjutnya kembali ke daerah asalnya di Tegal – Jateng dan mengembangkan usaha dengan membuat perusahaan yang bergerak di bidang alat kesehatan.

KULIAH GRATIS BEASISWA

Untuk mengaktualisasikan pengetahuan agama sakaligus kepeduliaan sosial kemasyarakatan maka saat ini Gus Aas aktif dan terhimpun dalam kegiatan Rijalul Anshor Cabang Tegal selain masih aktif pula sebagai Presidium MD KAHMI Kab. Tegal.

Kehadiran beliau di Kota Palu adalah sebagai utusan dalam perlehelatan Munas KAHMI ke XI yang dipusatkan di Sriti Conventions Hall Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Kami bertiga oleh sang Driver Grab tanpa harus menggunakan petunjuk navigasi MAP dapat mengantarkan kami sampai pada tujuan tepat pada waktu sepertiga malam sekira pukul 02.00 WIT. Hujan yang tadinya deras sudah mulai susut dan hanya menyisakan rintik rintik ketika kami turun disebuah pelataran yang tertutup oleh pintu gerbang berteralis besi.

Dibagian kanan pojok terpampang plank bertuliskan “Makam Keramat Dato Karama” yang terpasang di sudut tembok. Pintu gerbang di pinggir jalan itu tidak bergeregel dan nampak terbuka sedikit yang menandakan dapat dibuka siapapun agar dapat masuk.

Setelah beberapa kali kami ucapkan uluk salam secara batin maupun secara jahr selanjutnya kami membuka pintu gerbang dan mulai masuk menuju jalan berlorong sepanjang sekitar 50 meter dengan lebar sekitar 3,5 m.

Diujung jalan berlorong kami terhadang oleh lapis pintu gerbang yang terbuat dari tralis besi yang terkunci gembok dari dalam. Dari balik pintu gerbang disebelah kiri terdapat sebuah rumah panggung yang diatasnya terlihat nyala lampu yang sinarnya menembus celah jendala kaca. Kami lantas mengucapkan uluk salam secara jahr berkali kali berharap penghuni rumah panggung tersebut dapat membukan pintu gerbang. Namun setelah beberapa saat tidak ada yang menjawab uluk salam dari kami karenanya pintu gerbang masih tertutup rapat.

Karena malam itu kami belum bisa masuk kearea dalam makam, sehingga kami putuskan untuk kembali kedalam mobil. Gerimis sudah mulai mereda dan kami langsung diantar ke sebuah pantai yang terdapat situs masjid terapung yang jaraknya sekitar 500 meteran dari lokasi makam.

Masjid Apung adalah sebuah masjid yang mengapung di Teluk Palu. Menurut cerita warga sekitar sebelumnya masjid ini adalah masjid pada umumnya hanya saja berdiri di bibir pantai yang bernama masjid *Arqam Babu Rahman*. Namun sebuah bencana terjadi tepatnya pada tanggal 28 September 2018, kota Palu dan sekitarnya dilanda gempa bumi yang disertai gelombang dahsyat tsunami.

Masjid yang berada di tepi pantai Teluk Palu ini tak luput dari terjangan tsunami. Sehingga tiang penyangga masjid tersebut runtuh dan sebagian bangunan masjid tenggelam ke dalam air laut. Sejak saat itu masjid Arqam Babu Rahman lebih dikenal sabagai *Masjid Apung* Kota Palu.

 

Di akhir pertiga malam kami habiskan bersama deburan ombak pada teluk palu. Guridam Dzikir mengepak bersama buih buih yang menghentak susunan batu pantai secara konstan.

Langit menampakkan keagungan Tuhan yang lindap pada sanubari yang melayang bersama bintang gumintang. Cahaya bulan berpendar pada gelombang air laut menyibak kedalaman rohani dalam titian tanpa warna tanpa rasa.

Ketika sang fajar berlalu bersama pekik Adzan subuh maka kami menuju Masjid di kampung baru yang berjarak sekitar 200 meter dari teluk yang berdiri Masjid Apung.

Tatkala sinar mentari mulai menerobos mega mega diufuk timur. Kami menuju Makam dan langsung masuk sebab pintu gerbang sudah dalam posisi terbuka. Jendala rumah panggung juga sudah terlihat terbuka. Kami ucapkan salam dan langsung disahut dengan ramah oleh seorang laki laki setengah baya.

Setelah kami sampaikan maksud adalah untuk berziarah maka laki laki ramah tersebut bergegas lari mengambil kunci pintu agar bisa dibuka. Pagi itu sungguh cerah, air hujan yang hampir semalaman mengguyur telah menguap bersama angin yang sejuk. Guguran daun daun di sekitar makam telah mengantarkan langkah kami bertiga berjalan jalan dibagian luar komplek makam sambil menunggu juru kunci masuk rumah panggung mengambil kunci pintu makam dalam.

Kami kembali berjalan menuju pintu gerbang berwana putih yang diapit oleh tembok hijau dengan ornamen Guma, seperti senjata tradisional Suku Kaili yang digunakan Tadulako tempo dulu.

Di sebelah rumah panggung terdapat lenskap bangunan rumah tradisional Suku Kaili yang difungsikan sebagai mushola bagi para peziarah. Tepat lurus didepan pintu gerbang berdiri bangunan yang terlihat sangat sakral dan profan yang merupakan bangunan untuk komplek pemakaman bagi Dato Karama dan kerabatnya.

Bangunan rumah berarsitektur rumah gadang khas Sumatra Barat namun didominasi dengan warna kuning yang konon merupakan warna ciri khas Suku Kaili. Sehingga bangunan ini merupakan akulturasi dua kebudayaan yaitu minang dan kaili.

Di sekitar bangunan terdapat berbagai tanaman bunga dan rerumputan hias yang cukup terawat sehingga meskipun bangunan sakral nan profan akan tetapi juga menampilkan kesan yang asri dan sejuk.

Selanjutnya sang Juru Kunci Makam yang memperkenalkan diri bernama Aziz Muhammad Paderu membukan pintu masuk dan dengan ramah mempersilahkan kami untuk masuk kedalam komplek makam.

Begitu kami sudah masuk kedalam makam tampak berjajar jajar pusara makam yang sudah sangat tua berbalut dalam nisan batu yang eksotik. Terhampar suasana profan, sakral dan keramat. Terjatuh kami dalam genangan dimensi rohani.
_Berjejer tenger dalam riuh tapi diam_
_Dalam selaksa warna warni_
_Terentang pentang kubur dari segala cinta_
_Terbisik syahdan dalam batas hayat_
_Lantas terbaring dalam samudra wushul tak bertepi_

Kami bertiga mulai bertekur tak beranjak.

Lahul Fatihah
Semoga bermanfaat

Bersambung………. . . . . . . . . .
————————————————————
*Esai ditulis dalam lawatan penulis sebagai pengembira dalam Munas KAHMI Ke XI di Palu, Sulawesi Tengah, 23 – 27 November 2022.

** Penulis adalah tukang ngarit dan angon wedus didesa yang dilibatkan sebagai pengembira yang bertitel Romli (Rombongan Liar) dalam Munas KAHMI ke XI di Palu Sulawesi Tengah.