Kata Sebut Kanda – Yunda Dan Kalimat Yakin Usaha Sampai Dalam Makna Perjalanan HMI

#Part2

                                                          Sofyan Mohammad

LIPUTAN4.COM, Palu- “Bunga mawar tidak pernah mempropagandakan harumnya, namun keharumannya sendiri menyebar melalui sekitarnya”


Penyelenggaraan Munas KAHMI (Korps Alumni HMI) Ke XI di Kota Palu, Sulawesi Tengah yang berlangsung di JCC dan berpusat di Sriti Conventions Hall Palu tanggal 23- 26 November 2022 menjadi peristiwa yang cukup berkesan.

Paling tidak bagi masyarakat Kota Palu yang masih dalam proses bangkit akibat bencana alam gempa bumi yang diikuti tsunami dan likuifas pada 28 September 2018. Setelah lebih dari tiga tahun sejak bencana itu terjadi maka Kota Palu berangsur bangkit. Gedung gedung perkantoran, hotel, restoran, fasilitas publik hingga rumah rumah penduduk sudah mulai direnovasi kembali. Meski semua belum begitu normal sebagaimana mestinya namun aktifitas dan gerak ekonomi sudah berangsur membaik.

Penyelenggaran Munas KAHMI adalah salah satu event berskala Nasional pertama yang digelar dikota Palu sejak bencana alam terjadi. Para peserta Munas yang merupakan utusan dan peninjau serta pengembira yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia bahkan perwakilan dari berbagai negara turut hadir dalam ajang lima tahunan bagi Alumni HMI ini.

Penyelenggaran Munas KAHMI nampaknya menjadi semacam berkah dan secercah harapan bagi masyarakat Palu yang masih berjuang bangkit dari bencana alam. Hotel, motel hingga kos sewa di Kota Palu habis penuh oleh peserta Munas. Restoran dan rumah makan ramai dikunjungi para peserta Munas. Toko toko dan PKL yang menjajakan oleh oleh khas Sulawesi Tengah menuai berkah. Destinasi wisata ramai oleh para pengunjung. Tak kurang moda transpotasi berbasis online seperti gojek dan gocar meraup untung. Sebab para peserta Munas hilir mudik tiada henti menuju berbagai lokasi di kota Palu.

Melalui ajang Munas ini masyarakat kota Palu jadi sangat familiar sekali dengan kata sebutan Kanda – Yunda maupun tagline slogan Yakusa – Yakin Usaha Sampai.

Di berbagai sudut kota Palu terpampang berbagai atribut HMI yang berwarna khas Hijau Hitam serta berbagai papan reklame – MMT yang bertuliskan Selamat Datang Kanda – Yunda Peserta MUNAS KAHMI DIKOTA PALU

Papan reklame – MMT – bilboard yang terpampang disetiap sudut kota nampaknya mampu membuat masyarakat kota Palu menjadi akrab dengan kata sebut Kanda – Yunda maupun kalimat Yakin Usaha Sampai hingga menjadi ikut ikutan mengucapkan.

Para pelayan restoran dan hotel menyambut tiap tamu dengan sebutan kata Kanda – Yunda. Para pelayan toko, pedagang PKL melayani pembeli dengan sebutan kata Kanda – Yunda. Para driver Gojek maupun Grab sangat fasih melayani order dengan sebutan kata Kanda – Yunda. Bahkan tak kurang tukang parkir sekalipun akan memberi aba aba parkir pun tidak lupa menyebut kata kata Kanda – Yunda

Sebagai penutup pelayanan rata rata menggunakan kalimat yang terlihat fasih diucapkan yaitu Yakin Usaha Sampai atau sering juga cukup disingkat dengan kata YAKUSA sambil mengepalkan tangan.

Dilingkungan HMI – KAHMI – KOHATI – FORHATI menjadi merasa canggung untuk saling memanggil senior – yunior dengan sebutan Pak, Ibu, Kak, Mas, Kangmas, mbakyu, daeng dll sebagai penyebutan yang berkonotasi lokal. Kader HMI dalam kehidupan sehari hari meski berstatus sebagai Ulama, Kyai, Ustadz, Guru Besar, pengusaha sukses, pimpinan partai politik, pejabat tinggi negara sekalipun, ketika bertemu dengan sesama kader HMI akan tetap menyebut Kanda – Yunda dan sesekali ada sebutan abang. Inilah ciri khas kultur HMI.

Seperti kisah H. Yusuf Kalla yang dahulu masih menjabat sebagai Wakil Presiden, maka ketika para menteri anggota kabinet melakukan rapat bersama dan ada menteri yang notabenenya adalah kader HMI maka secara spontan akan memanggilnya Kanda. Ada cerita suatu ketika Hj. Mufidah Jusuf Kalla sempat protes pada sang suami ketika ada kader HMI yang masih muda kira-kira seumuran cucunya tiba tiba memanggil H. Jusuf Kalla dengan sebutan “Kanda”. Yang nampak seperti tidak sopan sebab memanggil orang seumuran kakeknya dan seorang pejabat tinggi dengan panggilan kanda. Namun setelah diterangkan jika sebutan itu semacam tradisi di lingkungan HMI maka Yunda Mufidah Jusuf Kalla terkekeh kekeh dan dapat memakluminya.

Ikwal penyebutan “Kanda – Yunda – Adinda” dilingkungan HMI adalah sejak awal awal HMI berdiri. Dalam beberapa catatan sejarah disebutkan HMI sebagai organisasi mahasiswa yang baru lahir, namun terbilang cukup dihormati kala itu, sebab kiprahnya yang progresif dan revolusioner.

Sebagai organisasi baru dan memiliki visi untuk mempertahankan kemerdekaan, HMI terlibat langsung dalam revolusi fisik. Gerakan HMI pada saat itu menggunakan penggabungan pola intelektual dan gerakan fisik sehingga diperlukan kode /sandi untuk mengenali posisi kawan atau lawan.

Sebab saat itu musuh bukan hanya dari pihak kompeni yang masih berkeinginan melanjutkan penjajahan namun didalam negeri juga muncul pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 yang berlanjut pada insiden G30 S PKI pada tahun 1965.

                                                       Sofyan Mohammad

Konstelasi politik pasca kemerdekaan yang belum stabil hingga memunculkan pemberontakan demi pemberontakan maka menjadikan HMI mau tidak mau harus terlibat membela bangsa dan negara. Hal itulah yang kemudian muncul sebutan Kanda – Yunda – Dinda sebagai sebuah kode atau sandi penyebutan bagi sesama kader HMI.

Penyebutan kata Kanda – Yunda – Dinda sebagai sebuah sandi atau kode juga relevan bagi HMI yang merupakan organisasi kader yang merekrut anggota sebagai kader dengan melakukan pelatihan pelatihan secara berjenjang. Sehingga secara otomatis muncul kader senior maupun kader yunior, dalam hal ini jelas penyebutan Kanda – Yunda – Adinda adalah implementasi dari pada pola pengkaderan itu sendiri.

Penyebutan kata Kanda – Yunda – Adinda dilingkungan HMI terus berlanjut hingga menjadi sebuah tradisi dan ciri khas organisasi ini.

KULIAH GRATIS BEASISWA

HMI sebagai Organisasi Mahasiswa Islam tentu juga mengimplentasi ajaran fundamental dalam agama. Sebagaimana telah diajarkan oleh para ulama saat menyebut nama orang yang lebih tua (senior), guru atau ahli ilmu maka tidak boleh menyebut dengan nama mereka saja. Hendaknya dipanggil dengan sebutan yang santun. Kanda – Yunda adalah kata sebutan yang santun dan beradab.

Memanggil orang yang lebih senior sebagai suatu adab dan ahlaq adalah sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak termasuk golongan kami siapa yang tidak menyayangi yang kecil di antara kita dan tidak menghormati yang lebih tua di antara kita.” (HR. Tirmidzi No. 1919.

Selain adab dalam ajaran agama maka penyebutan Kanda – Yunda – Dinda adalah salah satu bentuk norma kesopanan dalam kehidupan sehari hari kita sebagai masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi adat ketimuran. Dengan demikian pola pengkaderan dalam tubuh HMI juga relevan dengan jati diri kebudayaan masyarakat Indonesia.

Di arena Munas KAHMI ke XI di Palu kata kata Kanda – Yunda – Dinda terdengar seperti lafadz dzikir yang secara jahr diucapkan sebab setiap peserta memanggil para peserta lainnya dengan sebutan yang familiar yaitu Kanda – Yunda – Dinda dan sesekali juga ada yang menyebut abang.

Memanggil peserta laki laki yang terlihat lebih senior atau secara fisik lebih tua maka akan dipanggil dengan sebutan “Kanda” atau jika sudah merasa sudah akrab sesekali maka bisa memanggilnya “abang”. Jika memanggil peserta perempuan yang lebih senior dengan sebutan ” Yunda”.

Kata sebutan Kanda – Yunda – Dinda dalam lingkungan HMI menjadi semacam kebiasaan yang susah untuk dihilangkan pengucapanya. Dalam setiap event dan kegiatan HMI kata sebut tersebut terus diucapkan secara berulang ulang dan seperti telah masuk didalam alam bawah sadar bagi kader HMI.

Karena diucapkan secara terus menerus maka kata dan kalimat tersebut secara tidak langsung menjadi sebuah kata yang “magis” dan sakral. Sebab memiliki spirit yang positif yang berlaku sebagai sebuah doa yang positif pula baik bagi yang mengucapkan maupun kepada sesiapa sebutan itu ditujukan.

Kata sebutan Kanda – Yunda – Dinda dilingkungan HMI secara tidak disadari telah menjadi sangat sakral. Hal ini disebabkan kata kata tersebut memungkinkan orang semakin rileks dan masuk pada keadaan trance. Kalimat ini memang lebih bersifat metafora dengan gaya bahasa hiperbola, namun pada kenyataanya dapat membantu penggunannya untuk melakukan visualisasi terhadap keadaan yang diinginkan. Kata sebut Kanda – Yunda – Dinda yang diulang-ulang menjadi afimaris, pembelajaran di level unconscious dan membangun sugesti diri.

Dalam perspektif ini maka kata Kanda – Yunda – Dinda memiliki peran fundamental sehingga perlu adanya proses pelestarian secara berkelanjutan sebagai sebuah warisan budaya yang berkonotasi baik dan memanggul nilai spiritualitas yang positif.

Dilingkungan HMI selain tagline Kanda – Yunda – Dinda maka ada quotes istimewa yang menjadi semacam trademark yaitu kalimat “Yakin Usaha Sampai” atau disingkat YAKUSA. Kalimat ini menjadi slogan yang bervisi motifasi dan bermakna sangat filosofis.

YAKUSA, Yakin Usaha Sampai sebagai sebuah slogan motivatif sebab HMI sebagai organisasi dengan barisan intelektual islam dalam berbagai latar belakang.

Dengan slogan inilah telah menjadikan para kader HMI memiliki semangat. YAKUSA Yakin Usaha Sampai telah dijadikan motivasi untuk mencapai tujuan organisasi secara kolektif dan nampaknya mampu menuai kesuksesan hidup secara pribadi.

Dalam perspektif Ushul Fiqh, disebutkan “al yaqinu La yuzailu bisysyak” hal Inilah yang barangkali menjadi dasar kuat bahwa ketika seseorang merasa yakin, maka keyakinan itu tidak dapat dikalahkan oleh keraguan atasnya sedikitpun.
Al Ashlu Baqo’u ma kana ‘ala ma kana, asal mula ada adalah tidak ada.

Slogan YAKUSA Yakin Usaha Sampai memiliki makna movement dalam perjuangan diri maupun perjuangan sosial. Slogan ini sebagai bagian dari Ikhtiar sebagaimana dalam Al Quran Qs. Ar-ra’d 13 yang berbunyi “Allah tidak akan merubah nasib suatu kamu apabila kaum itu sendiri yang tidak mau merubahnya”.

Penggalan Firman Allah SWT tersebut memberikan pesan jika keberhasilan akan tercapai yang akan bergantung dari usaha pribadi manusia itu sendiri.
Allah SWT juga menilai umatnya bukan melihat hasil yang dicapai tapi yang dilihat adalah usaha dari manusia itu sendiri.

Dengan demikian HMI sudah mengawali niat ikhtibar melalui slogan tersebut sebagai sebuah konsep “Yakin Usaha Sampai” yakin Kuasa Allah, akan membuat bersemangat untuk terus bergerak mencapai sesuatu dengan keyakinan bahwa Allah selalu bersama kita untuk berjuang dan dengan penuh keyakinan makan segala pertolongan-Nya akan selalu datang kepada umatnya yang selalu berusaha tanpa kenal lelah. Untuk itu dengan merapal slogan YAKUSA adalah manifestasi komitmen untuk beristiqomah berjuang mencapai Ridlo Allah SWT.

Slogan kata sebut Kanda – Yunda – Dinda dan kalimat YAKUSA Yakin Usaha Sampai adalah trademark yang sudah mendarah daging dalam ruang gerak dan spiritualitas HMI. Sehingga dalam perjalanannya disadari atau tidak, diakui atau tidak HMI telah memberikan kontribusi yang kongkrit dan signifikan terhadap pembangunan Bangsa dan Negara.

Kata sebut Kanda – Yunda – Dinda dan kalimat YAKUSA Yakin Usaha Sampai selalu diucapkan dalam ruang gerak organisasi HMI sehingga tercapai hasil nyata jika para kader HMI memiliki mental “juara dan pemenang” yang dapat dibuktikan jika senyatanya HMI telah memiliki sumberdaya manusia yang luas dalam berbagai ragam profesi dan peran dalam fatsun politik, sosial, ekonomi maupun budaya di Indonesia.

——————————————————————–
Semoga Kanda – Yunda – Dinda semua selalu diberi kesuksesan dalam merajut hari hari sebagai insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Semoga Kanda – Yunda – Dinda semua melalui Munas KAHMI ke XI di Palu, Sulawesi Tengah dapat benar menjadi pintu masuk untuk dapat bangkit bersinergi membangun negeri menuju peradaban baru.

Yakin Usaha Sampai
Bahagia HMI

Bersambung………
——————————————————————–

Oleh : Sofyan Mohammad*
*Esai ditulis dalam repotase pelaksanaan Munas KAHMI ke XI di Palu Sulawesi Tengah
. ** Penulis adalah alumni Maperca HMI yang bertugas menyiapkan kopi bagi Kanda – Yunda peserta Munas ke XI di Palu Sulawesi Tengah