x

Mengenal Sosok Gus Rozin, Pengembangan Seni Budaya Dipesantren Sebagai Media Dakwah Yang Berkesinambungan

waktu baca 5 menit
Kamis, 13 Jul 2023 14:47 0 761 JARKONI

                                                                          Gus Rozin

Part 7
Oleh @ Sofyan Mohammad**

LIPUTAN4.COM, Kabupaten Semarang- Hidup ini terasa indah, jika kita selalu bersyukur. Duduklah lihat betapa indahnya karya seni Tuhan

Fakta sejarah menunjukkan bahwa penyebaran agama Islam di Nusantara wabhil khusus ditanah Jawa dilakukan dengan pendekatan seni dan budaya yang berbasis kearifan lokal.
Persebaran agama Islam di Jawa sangat erat kaitannya dengan perjuangan dakwah Wali Songo hingga menuai sukses gilang gumilang.

Wali Songo sendiri sebagai dewan dakwah waktu itu secara denotatif dapat dimaknai sebagai masyayikh dan atau ulama berjumlah sembilan. Salah satu diantara yang paling masyur dan melegenda hingga sekarang yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga yang diakui oleh masyarakat luas diberi titel sebagai Guru Suci ing Tanah Jawi.

Dalam melaksanakan dakwahnya, Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan seni dan kebudayaan berbasis kearifan lokal dienginering dengan metode momong yang berarti bersedia mengemong mengasuh, membimbing, dan mengarahkan.

Kegemilangan dakwah Islamiyah dahulu dikakukan tanpa menyisakan catatan adanya kekerasan atau pemaksaan pada masyarakat yang belum kenal Islam. Mengambil ibrah kesuksesan tersebut maka pendekatan seni dan kebudayaan dalam dakwah Islamiyah saat ini masihlah relevan untuk terus dilakukan. Terlebih saat ini bangsa kita menghadapi ancaman yang cukup serius berupa paham Trans nasionalisme.

Di tengah “tsunami” informasi yang berlangsung secara masif, maka ideologi transnasional – radikalisasi dengan sangat mudah masuk, menyebar dan menyasar kedalam lini kehidupan sehari hari masyarakat. Untuk itu diperlukan tindakan pencegahan melalui pendekatan seni – budaya berbasis kearifan lokal yang dipandang sangat efektif untuk menangkal radikalisasi.

Dengan terlibatnya pengaruh seni-budaya atau kearifan lokal dalam kehidupan bermasyarakat sangat membawa dampak positif dan kontribusi yang cukup tinggi terhadap terciptanya modal sosial, baik itu melalui individu ataupun kelompok dengan cara menguatkan jejaring sosial. Dengan menguatnya modal sosial atau jejaring sosial maka hal tersebut dapat menjadi daya penahan dari pengaruh gerakan radikalisme

Pengembangan Seni dan di Pondok Pesantren

Pengembangan seni dan budaya dalam pendidikan di pondok pesantren yang berafiliasi dengan aqidah Aswaja NU (Nahdlatul Ulama) memiliki peran yang penting untuk memperkaya pengalaman belajar santri sekaligus memperkuat identitas keislaman mereka. Terlebih pondok pesantren NU selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang menganut paham Islam moderat dan toleran.

Pengembangan seni dan budaya di dalamnya lebih diarahkan untuk memperkaya pemahaman santri tentang Islam serta memperluas wawasan mereka tentang seni dan budaya secara umum.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan seni dan budaya dalam pendidikan pondok pesantren salah satu diantaranya adalah dengan pengajaran Al-Qur’an melalui seni dalam hal ini Pondok pesantren NU menggunakan seni sebagai sarana untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada santri. Misalnya melalui penggunaan ilustrasi, kaligrafi dan karya seni visual lainnya. Santri dapat mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara yang menarik dan interaktif.

Pembelajaran seni kepada santri seperti seni kaligrafi, seni tari, seni musik dan seni rupa merupakan bagian cara pengajaran atas nilai-nilai keindahan dalam seni sekaligus mengajarkan cara mengapresiasi warisan budaya Indonesia.

Pertunjukan seni dan budaya sebagai bagian dari kegiatan keagamaan dan kebudayaan. Pertunjukan ini melibatkan santri dalam penampilan seni seperti tari, musik, teater dan drama. Selain itu, acara-acara seperti festival budaya atau pagelaran seni diadakan untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada santri dan masyarakat sekitar.

Pada saat ini Pondok pesantren perlu mengintegrasikan penggunaan media dan teknologi dalam pengembangan seni dan budaya. Misalnya, santri diajarkan untuk menggunakan alat-alat modern seperti kamera, komputer, dan perangkat lunak desain grafis untuk menciptakan karya seni digital yang menggabungkan elemen-elemen Islam dan budaya.

Program studi seni dan budaya perlu diselenggarakan pada pondok pesantren NU sebagai media bagi para santri yang memiliki minat dan bakat dalam bidang seni agar mereka berkesempatan untuk mendalami dan mengembangkan keterampilan mereka dalam seni dan budaya tertentu, seperti seni rupa, musik, atau tari.

Dalam perspektif kebudayaan, karakter pendidikan pesantren selama ini tidak kehilangan akar tradisinya karena masih mempertahankan ilmu-ilmu kuno Nusantara. Selain itu, pesantren juga mengembangkan ilmu-ilmu dari peradaban Islam yang berkembang di Timur Tengah, India, Turki, Mesir, yang dibawa dan diolah oleh para ulama yang kemudian diajarkan di sini.

Karakternya masih tersambung karena dilengkapi ilmu-ilmu di bidang aqidah, syariah, dan akhlak tasawuf. Khusus untuk ilmu tasawuf, misalnya, ia bisa menghubungkan dan menyatukan seluruh keilmuan yang berbasis tekstual, baik itu yang bersumber dari kitab suci maupun penghayatan kepada alam.

Pengembangan seni dan budaya dalam pendidikan pondok pesantren NU bertujuan untuk menciptakan santri yang berpengetahuan luas, peka terhadap keindahan dan mampu mengapresiasi serta memperkaya budaya bangsa. Dengan demikian, pendidikan di pondok pesantren NU tidak hanya fokus pada aspek keagamaan semata, tetapi juga memberikan ruang bagi pengembangan seni dan budaya sebagai bagian integral dari pembentukan karakter santri yang berwawasan ke Islaman dan ke Indonesian.

Jangan merasa kesepian, seluruh alam semesta ada di dalam diri kamu
Sehingga
Berhenti merasa kamu begitu kecil. Kamu adalah alam semesta yang bergembira**

____________________
* Esai ditulis bertolak dari pokok pikiran KH. Abdul Ghoffar Rozin, M. Ed (Gus Rozin) berangkat dari pengalamannya mengasuh pondok pesantren sekaligus pernah menakhkodai Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU

** Penulis adalah penderek Gus Rozin, kini sehari hari tinggal di desa.

* Puisi Syekh Jalaluddin Ar – Rumi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stik Famika Makassar
LAINNYA
x
x