Scroll untuk baca artikel
Birokrasi

Gelar Rembug Stunting, Desa Panenjoan Bidik Generasi Sehat Menuju Indonesia Emas

×

Gelar Rembug Stunting, Desa Panenjoan Bidik Generasi Sehat Menuju Indonesia Emas

Sebarkan artikel ini

LIPUTAN4.COM, BANDUNG, – Pemerintah Desa (Pemdes) Panenjoan, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, terus memperkuat komitmen dalam menekan angka stunting melalui berbagai langkah intervensi yang melibatkan pemerintah, kader kesehatan, PKK, lembaga desa hingga masyarakat.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Rembug Stunting Desa Panenjoan Tahun 2026 yang mengusung semangat “Bersama Kita Cegah dan Atasi Stunting untuk Generasi yang Sehat, Cerdas, dan Kuat”, Jum’at (31/07/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus konsolidasi seluruh pihak dalam melihat perkembangan penanganan stunting di Desa Panenjoan, termasuk berbagai program yang telah dilakukan serta langkah strategis yang perlu diperkuat ke depan.

Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Pemerintah Kecamatan Cicalengka, Ketua TP PKK Desa Panenjoan, unsur UPT, Puskesmas Cicalengka, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), LPMD, serta para kader PKK se-Desa Panenjoan.

Kepala Desa Panenjoan, Asep Permana, mengatakan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan keterlibatan seluruh unsur, mulai dari pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, keluarga hingga masyarakat.

Menurut Asep, salah satu perkembangan positif yang patut diapresiasi adalah adanya penurunan stunting di Desa Panenjoan. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap posisi Desa Panenjoan yang sebelumnya berada di peringkat terakhir, kini mengalami peningkatan menjadi peringkat kedua terakhir.

“Alhamdulillah, ada penurunan stunting di Desa Panenjoan. Kalau sebelumnya posisi kita berada di peringkat terakhir, sekarang sudah naik satu tingkat menjadi peringkat kedua terakhir. Ini tentu sebuah kemajuan, tetapi belum boleh membuat kita puas,” ujar Asep Permana dalam kegiatan Rembug Stunting Desa Panenjoan Tahun 2026.

Asep menegaskan, penurunan tersebut harus menjadi motivasi bagi seluruh pihak untuk bekerja lebih keras. Sebab, target utama bukan sekadar memperbaiki peringkat, melainkan memastikan anak-anak Desa Panenjoan dapat tumbuh sehat, cerdas dan memiliki kualitas hidup yang baik.

“Yang kita kejar bukan hanya soal peringkat. Yang paling penting adalah bagaimana anak-anak kita sehat, tumbuh dengan baik, mendapatkan asupan yang cukup dan memiliki masa depan yang lebih baik. Karena mereka inilah yang nantinya menjadi generasi penerus,” katanya.

Dalam upaya memperkuat gerakan pencegahan stunting, Pemdes Panenjoan juga menekankan pentingnya dukungan terhadap para kader PKK yang selama ini menjadi salah satu ujung tombak dalam melakukan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.

Asep menyampaikan, Pemdes Panenjoan akan memberikan perhatian terhadap pemenuhan Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi seluruh kader PKK di wilayah Desa Panenjoan, di samping tetap memprioritaskan kelompok sasaran yang membutuhkan intervensi.

“Para kader PKK ini merupakan ujung tombak di lapangan. Mereka berhadapan langsung dengan masyarakat, melakukan pendampingan dan memberikan edukasi. Karena itu, kita juga harus memperhatikan mereka. Kita dorong adanya pemberian MBG untuk seluruh kader PKK di Desa Panenjoan, tentunya dengan tetap mengutamakan sasaran prioritas, khususnya B3,” tegas Asep.

Ia menambahkan, program pemberian makanan bergizi harus dipandang sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya pemenuhan gizi sejak dini.

Menurutnya, persoalan stunting bukan hanya mengenai kondisi anak ketika sudah mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi juga berkaitan erat dengan pola asuh, asupan gizi, kebersihan lingkungan, sanitasi, akses air bersih serta kesadaran keluarga dalam menjaga kesehatan.

Selain persoalan asupan gizi, Asep juga menyoroti persoalan lingkungan yang menurutnya memiliki hubungan erat dengan kualitas kesehatan masyarakat.

Ia secara tegas mengingatkan masyarakat Desa Panenjoan agar tidak membuang sampah sembarangan. Kebiasaan tersebut dinilai dapat menimbulkan berbagai persoalan lingkungan yang pada akhirnya berdampak terhadap kesehatan keluarga dan anak-anak.

“Jangan sampai kita berbicara tentang stunting, tetapi lingkungan tempat tinggal kita masih kotor dan sampah dibuang sembarangan. Ini harus kita ubah bersama. Kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan stunting,” ungkapnya.

Pemdes Panenjoan, lanjut Asep, tidak hanya mengandalkan imbauan kepada masyarakat. Berbagai upaya juga telah dilakukan melalui pembangunan dan penguatan infrastruktur dasar yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan.

Di antaranya melalui penyediaan Sarana Air Bersih (SAB) yang memadai serta pembangunan sanitasi komunal sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Pemerintah desa terus berupaya menyediakan infrastruktur yang mendukung kesehatan masyarakat. Salah satunya penyediaan SAB yang memadai dan sanitasi komunal. Ini semua merupakan bagian dari intervensi yang harus dilakukan secara bersama-sama,” jelas Asep.

Asep menegaskan bahwa persoalan stunting tidak boleh hanya dibebankan kepada pemerintah desa maupun tenaga kesehatan.

Peran keluarga dan masyarakat justru menjadi faktor penting dalam memastikan berbagai program yang telah disiapkan pemerintah benar-benar memberikan dampak nyata.

Ia meminta para kader PKK, kader kesehatan dan seluruh elemen masyarakat untuk terus melakukan edukasi, pendampingan serta mengawal keluarga yang masuk dalam kelompok sasaran intervensi.

“Stunting ini bukan hanya pekerjaan pemerintah desa. Ini pekerjaan kita bersama. Pemerintah punya program, tenaga kesehatan melakukan pendampingan, kader bergerak di lapangan, tetapi keluarga dan masyarakat juga harus ikut menjaga,” katanya.

Asep berharap sinergi tersebut mampu mendorong penurunan angka stunting di Desa Panenjoan secara lebih signifikan pada tahun-tahun mendatang.

Ia optimistis, jika intervensi gizi, pelayanan kesehatan, sanitasi, air bersih, edukasi keluarga dan kepedulian terhadap lingkungan dilakukan secara konsisten, angka stunting di Desa Panenjoan dapat ditekan secara berkelanjutan.

“Harapan kita ke depan penurunan stunting di Desa Panenjoan bisa jauh lebih signifikan. Jangan hanya turun sedikit, tetapi harus ada perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Lebih jauh, Asep menilai upaya pencegahan stunting merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas sumber daya manusia.

Anak-anak yang tumbuh sehat dan mendapatkan asupan gizi serta lingkungan yang baik akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara optimal dan menjadi generasi produktif.

“Kalau kita ingin menyongsong Indonesia Emas 2045, maka persiapannya harus dimulai dari sekarang. Anak-anak yang hari ini kita jaga kesehatannya, mereka adalah generasi yang akan menentukan Indonesia di masa depan,” tutur Asep.

Karena itu, Rembug Stunting Desa Panenjoan Tahun 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau sekadar forum pembahasan, melainkan menjadi titik penguatan komitmen seluruh pihak untuk melakukan aksi nyata.

Pemdes Panenjoan menargetkan berbagai intervensi yang telah berjalan dapat terus diperbaiki dan diperluas, sehingga penanganan stunting tidak hanya menghasilkan perubahan angka, tetapi juga menghadirkan perubahan kualitas hidup bagi keluarga dan anak-anak di Desa Panenjoan.

“Semoga dengan berbagai upaya yang kita lakukan, mulai dari intervensi gizi, MBG, penguatan kader, penyediaan air bersih, sanitasi komunal, sampai menjaga kebersihan lingkungan, angka stunting di Desa Panenjoan bisa terus turun. Kita ingin anak-anak kita tumbuh sehat, cerdas dan kuat. Dari desa inilah kita ikut menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Asep Permana. (Akuy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *