PPDB KOTA MEDAN 2022

Ziarah Dalam Jalinan Komunikasi Kematian

Ziarah Dalam Jalinan Komunikasi Kematian

Ziarah Dalam Jalinan Komunikasi Kematian
Oleh : Sofyan Mohammad

LIPUTAN4.COM- Salatiga,
“”Di tahap akhir, aku akan mati dari keadaan sebagai manusia
Untuk bisa berubah menjadi salah satu sayap malaikat
Setelah jadi malaikat
Aku akan terus mencari ufuk lain karena
“ Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya.”*


Dalam salah satu sudut pandang kematian dapat dipahami sebagai suatu proses menuju kehidupan lain. Hal ini merujuk pada suatu pengertian jika kematian merupakan sesuatu peristiwa keluarnya ruh dari jasad manusia. Dalam Islam, kematian menjadi awal perpindahan dari alam dunia ke alam barzah, roh manusia yang wafat akan tinggal di alam barzah hingga kebangkitan manusia dari kuburnya saat kiamat kelak.

Kematian dalam pandangan tasawuf sebagaimana disebutkan dalam syair karya Jalaludin Ar Rummi tersebut diatas sehingga kematian ini bukan yang biasa kita pahami dan kita lihat sehari-hari sebagai hilang­nya fungsi indra, punahnya kemampuan beraktivitas dan lenyapnya kehidupan (fisik). Allah SWT berfirman dalam QS. Qaf ay at 19 yang berbunyi “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya (bil-Haqq). Itulah yang kamu selalu lari darinya”. Saat kematian adalah saat semua manusia kembali kepada Allah SWT sekaligus saat penggiringan setiap makhluk ke sisi-Nya.

Kematian bukan ketiadaan melainkan perkembangan dan perpindahan, musnah dari satu tingkat untuk memulai hidup di tingkat yang lain. Kematian adalah non-eksistensi, hanya saja ia bukan non-eksistensi mutlak namun adalah non-eksistensi relatif, yaitu non-eksistensi dari satu tahap demi eksistensi di tahap lain. Dari pengertian ini maka nampaknya manusia tidak akan mengalami kematian mutlak, melainkan hanya akan kehilangan kondisi tertentu dan beralih ke kondisi lain. Dengan demikian kesirnaan itu bersifat relatif. Misalnya, tanah yang berubah menjadi tetumbuhan, tidak mengalami kematian mutlak. Tanah itu hanya mengalami kematian relatif, karena forma dan ciri-khas tanah sebelumnya sebagai benda mati telah lenyap, namun ia mati dari satu kondisi dan keadaan untuk beroleh kehidupan dalam kondisi dan keadaan lain.

Dalam Kitab Tanwirul Qulub karya Syekh Muhammad Amin al-Kurdi menyebutkan ada empat bentuk kematian yaitu mautu akhmar, mautu aswad, mautu abyadh, dan mautu akhdhor. Keempatnya disimbolkan dengan anasir warna yaitu Mautu akhmar atau kematian merah adalah bagaimana seorang sufi melawan hawa nafsunya sendiri. Mautu aswad atau kematian hitam adalah menahan derita yang berasal dari sesama makhluk. Mautu abyadh atau kematian putih yaitu menahan akan godaan lapar dan tidak makan secara berlebihan (porsi makan) dan Mautu akhdhor atau kematian hijau yaitu menjaga diri gaya hidup yang hedonisme dan glamour.

Ketakutan dan kegusaran manusia terhadap kematian akan membuat pikirannya senantiasa terlibat dengan dirinya adalah sesuatu yang berbeda dengan naluri menghindari bahaya. Lari dari kematian dan kegusaran terhadapnya merupakan buah dari hasrat manusia pada keabadian dan mengingat tidak ada hasrat yang sia-sia di alam ini, maka hasrat ini sendiri bisa menjadi dalil bagi kekekalan hidup manusia sesudah mati.

Ziarah Dalam Jalinan Komunikasi Kematian
Kematian bukanlah akhir dari jalinan komunikasi hal ini bertolak dari pengetahuan manusia akan adanya kehidupan setelah kematian sehingga memunculkan keinginan manusia yang tidak ingin terputus dengan hadirnya kematian itu sendiri, hal ini dapat dimaknai sebagai bagian dasar spiritual keberagamaan manusia yang termanifestasi dalam bentuk dan praktek ziarah atau berkunjung ke makam orang yang sudah meninggal dunia. Fenomena berziarah merupakan bentuk aktivitas manusia yang didasarkan pada kesadaran untuk memenuhi kebutuhan rohani manusia. Hal inilah yang sampai saat ini telah dipraktekan baik oleh manusia primitive sejak dahulu kala maupun manusia sekarang diera modern.

Manusia yang mengadakan silaturrahim dan berkunjung kepada sanak famili dan para kerabatnya hakikatnya adalah mengingatkan rohani manusia bahwa semuanya itu memiliki ikatan jalinan individu dengan objek yang dikunjungi. Sehingga silaturrahin dengan cara berziarah kekuburan akan memberikan pandangan dan pengalaman yang luas ditengah aktifitas keberagamaan. Silaturrahim ini tidak terbatas kepada sanak family maupun kerabat dekat saja demikian berziarah tidak hanya sebatas kemakam para keluarga dan kerabat dekat saja namun juga berziarah juga bisa ke Makam para Guru, Kyai, Ulama atau Waliullah. Dalam pengertian ini berziarah sama halnya bertadabur dengan mengunjungi destinasi atau tempat yang memiliki nilai-nilai kesejarahan, baik sejarah nubuat maupun jejak peradaban manusia.

Berkunjung ketempat destinasi sejarah nubuat adalah praktek yang nampaknya justru dianjurkan dalam ajaran Islam. Seperti dapat dilihat dalam praktek berhaji atau umroh ke Mekkah adalah dengan berkunjung ke Ka’bah, ke Masjidilharam, ke Gunung Uhud, ke Bukit Shafa dan Marwa, ke Jabal Rahman dan tempat-tempat bersejarah yang lain. Sedangkan berkunjung ketempat yang menjadi sejarah peradaban manusia antara lain seperti berkunjung ke Candi Borobudur, ke Situs Gunung Padang, ke Sangiran Sragen, ke perpustakaan National atau Perpustakaan Radyaspustaka dll yang merupakan destinasi sejarah peradaban manusia.

Fenomena ziarah adalah catatan panjang tentang sejarah peradaban manusia sehingga praktek ziarah juga merupakan bagian tidak terpisahkan dengan peradaban Islam. Makam makam yang lazim diziarahi oleh umat muslim Indonesia khususnya para ahli ziarah atau sering diistilahkan secara satire dengan sebutan “SARKUB” (Sarjana Kuburun) adalah makam para Waliyullah, Kyai atau ulama yang dikenal alim dan sholeh karena telah berhasil menorehkan kisah kisah keteladanan selama hidupnya.
Waliyullah dalam pengertian umum dapat merujuk kepada kaidah “Laa ya’rifu al-waly illa al-waly (tidak mengetahui kewalian seseorang kecuali sesama wali). Kaidah ini, mempunyai pengertian ketika seseorang menduga orang lain adalah waliyullah, maka yang menduga juga waliyullah, demikian sebaliknya, namun demikian fakta ke-walian seseorang dapat dipahami secara ilmiah.

Konsepsi waliyullah dapat ditelaah secara ilmiah melalui “teori vibrasi energi” yaitu semua entitas di alam semesta adalah realitas energi, tak terkecuali manusia, sebagai bagian entitas alam semesta. Hal ini merujuk pada QS. Al-Baqarah ayat ke 30 mengenai kedudukan manusia sebagai khalifatullah fil ardhi, yang merupakan sebuah kedudukan yang tinggi karena manusia telah dibekali dengan sebuah kemampuan, dimana energi manusia menjadi penentu keberadaan alam semesta. Bertolak dari hal ini maka kualitas energi manusia dapat mengubah realitas di sekitarnya.

Ziarah Dalam Jalinan Komunikasi Kematian
Dalam kehidupan sehari hari khususnya bagi orang Muslim, maka orang yang mempunyai kapasitas vibrasi energi positif yang kuat selanjutnya dapat dinisbatkan sebagai orang yang sholeh dan alim. Vibrasi positif yang kuat ini diperoleh melalui proses laku spiritual “riyadloh atau prehatin” yang sangat ketat dan disiplin. Proses spiritual tersebut pada akhirnya bisa mengantarkan pada jenjang sebutan “Waliyullah” sebagaimana pendapat Imam Al-Qusyairi, Wali mempunyai dua pengertian yaitu pertama, orang yang sekuat tenaga berusaha menjaga hatinya agar tetap hanya bergantung kepada Allah dan terus menerus melakukan ketaatan tanpa diselingi kedurhakaan (wali Salik). Kedua, orang yang hatinya secara penuh dan terus menerus dalam penjagaan dan pemeliharaan Allah (waliy majdzub). Pada intinya dari penegertian Waliyullah ini, bahwa ada orang-orang tertentu yang dirinya sampai pada kesadaran murni yang kapasitas energinya berada di zona tak terlukiskan. Seperti kalimat berbahasa Jawa yang berbunyi “Suwung kang sejatine ono, tanpo hambedani tanpo keno kinoyo ngopo lan tanpo keno kinoyo”.

Pengertian tentang energi manusia dapat mengubah realitas di sekitarnya memunculkan spekulasi jika manusia sebagai penentu keberadaan alam semesta, hal ini tentu berhubungan dengan kualitas energi manusia itu sendiri, semakin baik energi manusia, maka efek positif dari keberadaannya terhadap kehidupan di sebuah wilayah sekitar dapat lebih dirasakan manfaatnya. Untuk mengetahui ukuran vibrasi energi seseorang tersebut berkualitas tinggi, secara sederhana bisa dijawab jika keberadaan orang tersebut membawa dampak positif secara materiil maupun spirituil bagi lingkungannya dalam kehidupan sehari hari.

Dari pengertian tersebut diatas maka bisa jadi tanpa kita sadari dan tanpa kita ketahui ada orang di sekitar kita yang menjadi “Waliyullah” yang berfungsi sebagai “pilar jagat”. Barangkali orang tersebut diluar pengetahuan dan sudut pandang kita sejatinya memiliki vibrasi energi positif yang tinggi. Namun karena sifat ego, sifat kesombongan kita yang sering merendahkan orang lain, kedengkian kita yang tidak mau mengakui keunggulan orang lain atau karena ketidaktahuan kita tentang hal hal tersebut maka kita tidak menyadari jika disekitar kita sejatinya ada orang yang memiliki vibrasi energi positif yang tinggi bahkan mungkin memiliki derajat kewalian.

Waliullah adalah orang yang sangat dekat dengan Allah sehingga memiliki vibrasi positif yang sangat tinggi. Keberadaan mereka, senantiasa menjadi penetralisir vibrasi negatif yang terjadi dilingkungan sekitar beliau tinggali. Keberadaan orang yang memiliki vibrasi positif yang tinggi secara rohani, pancaranya juga akan berlangsung meski telah mengalami kematian secara fisik. Sehingga makam makam orang yang semasa hidup memiliki vibrasi positif yang tinggi tentu makamnya juga memiliki energi vibrasi positif. Hal itulah kenapa makam makam para ulama atau Waliullah menjadi tujuan ziarah khususnya bagi para SARKUB.

Dalam ajaran Islam sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kepada umatnya agar mengingat mati. “perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yang sudah lazim dinamakan kematian”. Bertolak dari Hadits Nabi tersebut diatas, maka dapat dipahami jika berziarah memiliki fungsi seperti cermin terbalik karena akan bermanfaat untuk ahli kubur yang diziarah itu sendiri. Dalam pengertian ini dengan diziarahi maka dapat menjadi pintu syafaat atau penolong untuk meringgankan beban siksa dan fitnah kubur, sedangkan untuk peziarah sendiri adalah untuk mengingatkan dan meneguhkan rasa kesadaran Ilahiah dan Insaniah sebagai salah cara untuk meningkatkan kezuhudan.

Kesadaran Ilahiah itu dapat hadir lantaran do’a-do’a yang dipanjatkan kepada Allah SWT untuk memohonkan ampunan kepada ahli kubur. Lantunan dzikir dan do’a adalah salah satu wujud dari manifestasi cinta atau mahabbah kepada para penerus risalah Nubuat yang telah mencapai martabat insan kamil atau wushul dalam pencapaian rohani yaitu para para Nabi dan para Wali Allah.
Banyak hal yang dapat dipelajari dari fenomena ziarah, seperti mengingatkan diri akan kematian, mengingat tentang akhirat, dapat melembutkan hati serta mengevaluasi diri atas segala dosa dan kesalahan diri yang selama ini diperbuat serta meningkatkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah diperoleh selama ini.
Berziarah adalah jalinan komunikasi bathin (sambung ruh) dan bentuk lain dari zairin dan zairat untuk suplay makanan bathin manusia dalam siraman vibrasi energi positif. Seperti penggalan Sholawat Ya Shadah yang berbunyi : “Kami bermaksud bersentuhan dengan rohanimu dan kami berharap berkahmu. Untuk menolong kami menyejukkan kami dengan siraman yang berasal darimu, sesuai dengan tekad dan pencapaianmu selama ini”
Semoga Bermanfaat..
Wallahu a’lam bish-shawab
Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
—————————————————————-
* Esai yang ditulis dengan menyari dari ngaji Dan diskusi dengan Gus Ganung (Pengasuh Suwuk Nusantara, Toroh, Grobogan, Jateng) Tabarukan 24/05/22. Ngaji dengan Kyai Ora Aji (Sukun, Malang, Jatim) Tabarukan 19/05/22 yang dilengkapi dengan sumber bacaan :
1. Ubaidillah Achmad & Yuliyatun Tajuddin, Suluk Kiai Cebolek: Dalam Konflik Keberagaman Dan Kearifan Lokal, Prenada Media, Jakarta. 2014.
2. Haidar Bagir, Belajar Hidup dari Rumi : Serpihan-serpihan Puisi Penenang Jiwa, Penerbit Mizan/Noura, Jakarta. 2015
3. Tanwirul Qulub karya Syekh Muhammad Amin al-Kurdi
Tulisan ini adalah untuk mengawali repotase Safari Ziarah Sirah Maqosidana Sambung Roh Ulama Nusantara Ramadhan – Sawal 1443 H.
* Penulis adalah pehobi wisata kuburan sehari hari tinggal di Desa

Print Friendly, Pdf & Email