x

Tangis Pecah di Pengadilan: Korban Penganiayaan Diduga Oknum Polisi Tuntut Keadilan

waktu baca 2 menit
Jumat, 5 Jul 2024 13:50 0 102 TORNADO

LIPUTAN4, BANJARMASIN – Tangis seorang perempuan berinisial N pecah di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada Kamis (4/7/2024). Sambil terisak, N menceritakan penganiayaan yang dialaminya, diduga dilakukan oleh seorang oknum polisi berinisial Bripda A dan seorang perempuan berinisial NV yang kini menjadi terdakwa.

N hadir di ruang sidang sebagai saksi korban atas dugaan penganiayaan yang dialaminya pada Rabu (1/11/2023) di rumah Bripda MNA. Sidang yang awalnya tertutup kemudian dibuka untuk umum. Dalam persidangan, N menjelaskan bahwa ia datang ke rumah Bripda MNA untuk menyelesaikan sebuah permasalahan, namun terjadi cekcok dengan terdakwa yang merupakan kekasih Bripda MNA.

Menurut kesaksian N, Bripda MNA juga ikut menganiaya dirinya hingga mengalami sejumlah luka. “Terdakwa menyerang saya menggunakan tumpukan batangan besi ke bagian perut. Bripda MNA juga ikut menganiaya,” ujar N.

Selain N, Bripda MNA juga dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Yusriansyah. Meskipun Bripda MNA mengaku tidak menganiaya korban, Majelis Hakim menunda persidangan hingga 9 Juli 2024 dengan agenda pemeriksaan terdakwa.

Usai persidangan, Penasihat Hukum korban, Nita Rosita, SH dari Kantor Borneo Law Firm,

(Penasihat Hukum korban, Nita Rosita, SH dari Kantor Borneo Law Firm)

mempertanyakan mengapa hanya NV yang ditetapkan sebagai terdakwa dalam perkara ini. “Kami mempertanyakan juga kenapa si oknum statusnya hanya sebagai saksi. Padahal dari keterangan korban, si oknum ini juga ikut melakukan penganiayaan,” kata Nita.

Nita menambahkan bahwa pihaknya telah melaporkan kasus ini kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) serta Kompolnas untuk memastikan perlindungan dan penegakan hukum yang sesuai prosedur. Dalam perkara ini, Jaksa Penuntut Umum mendakwa NV dengan Pasal 351 Ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Kasus ini mencuat setelah N melaporkan bahwa ia telah menjadi korban pengeroyokan dan kekerasan fisik lainnya yang dilakukan oleh Bripda MNA. Meskipun memiliki bukti kuat, termasuk hasil visum yang mendukung kesaksiannya, penyidik Polresta memutuskan untuk tidak menetapkan Bripda MNA sebagai tersangka, yang menurut N menunjukkan keberpihakan terhadap tersangka.

N juga mengungkapkan bahwa kehadiran Bripda MNA dalam hidupnya telah merusak mental dan psikisnya, dengan ancaman menggunakan rekaman video pribadi tanpa izin yang dapat menghancurkan masa depannya. Saat ini, N berharap pihak berwenang dapat menangani kasus ini dengan adil dan transparan serta memberikan perlindungan yang layak bagi korban kekerasan seperti dirinya. (Tim)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stik Famika Makassar
LAINNYA
x
x