Tahta Salib, Mahkota Duri: Yesus Raja Yang Tidak Biasa.
Oleh : Gregorius Cristison Bertholomeus, S.H.,M.H
Renungan hari ini tanggal 23 November 2025 (Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam dan Hari Orang Muda Sedunia) mengangkat pada makna Yesus sebagai Raja yang berbeda dari semua raja di dunia.
Berdasarkan bacaan 2 Sam 5:1-3 (pemakmuran Daud sebagai raja Israel), Kol 1:12-20 (Kristus sebagai pembuat dan pemimpin segala ciptaan), dan Luk 23:35-43 (Yesus di salib dengan tulisan “INRI” dan percakapan dengan penjahat), renungan ini mengajak kita melihat kebenaran bahwa:
Yesus adalah raja yang bersengsara: Tulisan “Yesus, orang Nasaret, Raja orang Yahudi” di atas salib menjadi tanda ironis, seorang raja yang dihukum dengan cara yang paling hina, disejajarkan dengan penjahat.
Bahkan Pilatus yang menulisnya mungkin merasa ragu, dan banyak orang (bahkan sekarang) sulit mengakui Dia sebagai raja karena bentuk kemuliaan-Nya yang tidak sesuai harapan manusia.
Tahta-Nya adalah salib, mahkotanya adalah duri: Bukan dengan kekerasan atau kemewahan, Yesus memerintah dengan kasih dan pengorbanan.
Dia rela menanggung hukuman dosa kita, bahkan berdoa untuk orang yang menyakitinya: “Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”
Pengakuan kebenaran datang dari kelemahan: Contohnya adalah penjahat yang disalibkan bersama-Nya, yang dengan jujur mengakui kekurangannya dan meminta Yesus untuk mengingatnya.
Ini menjadi cerminan kita sebagai pendosa yang membutuhkan penebusan.
Kehidupan-Nya penuh dengan keanehan raja: Dilahirkan di kandang, diungsikan dari Yudea, hidup sederhana di Nazareth, berkarya melayani orang miskin dan sakit, tanpa pengawal atau kemewahan.
Berbeda dengan raja yang melayani diri sendiri, Yesus hidup untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan kita.
Renungan ini menantang umat beriman untuk berani mengakui Yesus sebagai raja sejati, yang memimpin dengan Roh Kasih, menjadi gembala dan tuhan kita, di mana kita menemukan kepenuhan Allah dan perdamaian melalui darah-Nya.
Akhir kata dari penulis, bahwa: “Raja yang sebenarnya bukanlah yang paling tinggi di atas tahta, melainkan yang paling dalam di hati orang banyak.
Yesus tidak datang untuk memerintah dengan tongkat baja, melainkan dengan tangan yang memeluk, hati yang mencintai, dan nyawa yang diserahkan.
Di tengah kegelapan dunia yang selalu mencari kekuasaan dan kemewahan, salib menjadi cahaya yang menerangi: bahwa kebenaran kemuliaan terletak pada pengorbanan, dan kebenaran raja adalah kasih yang tidak pernah putus.”
Semoga hari raya ini membawa kita lebih dekat kepada Yesus Raja kita, yang membuat kita berani berdiri tegas sebagai umat-Nya, bahkan ketika dunia tidak memahami bentuk kemuliaan-Nya.
Mari kita hidup sebagai generasi muda yang mengakui Dia sebagai pemimpin segala pergerakan kita, hidup dalam terang-Nya, dan menyebarkan kabar gembira kerajaan Allah yang penuh dengan kasih dan harapan.
Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.
Diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan Bapa kita Daud.
Amin.












