Syahrul Ungkap Pesan Terakhir Putra Bungsunya, 6 Tahun Rinra Wafat

Makassar,HAK SUARA – Rabu, 1 Februari, tepat enam tahun kepergian Rinra Sujiwa Syharul Putra, anak bungsu dari Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Taruna IPDN ini meninggal dunia di usia 21 tahun, setelah penyakit usus buntu yang dideritanya meledak.
Usai melakukan pelantikan pejabat eselon III dan IV di Gedung CCC, SYL bersama istrinya Ayunsri Harahap serta rombongan SKPD pemprov Sulsel melakukan ziarah ke kuburan Rinra di TPU Panaikang.
Kepada beberapa awak media yang mencoba mewawancarainya, Syahrul awalnya enggan memberikan komentar terkait kenangannya bersama putra sulungnya tersebut. Sebab dirinya sejak sudah berjanji untuk tak menetaskan air mata lagi.
“Anak itu adalah segalanya, dia rela meninggalkan sekolahnya di luar negeri hanya karena mengikuti perintah saya untuk masuk di IPDN. Bahkan dia tak pernah mau pamer kalau dia anak seorang gubernur,” kata Syahrul.
Meski kehilangan anak kesayangannya, Syahrul masih mengingat beberapaa pesan yang sering diucapkan Rinra saat berbicara dengan dirinya. Terutama berbicara masalah karier politik dan jabatan ayahnya.
“Salah satu yang sering dia bilang, bapak itu orang yang dibutuhkan secara nasional, tak boleh berhenti hanya sebagai Gubernur,” tutur Syahrul, sembari berusaha mengusap matanya.
Di mata Syahrul, Rinra merupakan sosok yang mandiri dan penyayang. Bahkan dari kesehariannya, Rinra tak mau membebani orang di sekitarnya termasuk, bapaknya.
Tak hanya itu, dirinya juga beberapa kali meminta ayahnya untuk menahan emosinya. “Kalau ada yang saya marahi di rujab, baik itu sopir atau pegawai lainnya, dia yang selalu bela,” jelas Syahrul.
Setelah lulus di IPDN tahun 2007, Rinra bahkan tak mau ditemui ayahnya di dalam kampus di Jatinagor Sumedang. Menurut Syahrul, anaknya tersebut hanya mau ditemui di Masjid atau penjual bakso di luar kampus.
Menjelang beberapa hari sebelum meninggal, kepada Syahrul, Rinra meminta izin untuk membawah temannya untuk memperkenalkan kepada keluarganya.
“Yang berkesan, menjelangdirinya mau meninggal dia mau undang seluruh temannya untuk ke rujab. Ternyata yang dia maksud adalah seluruh, teman-temannya dari berbagai daerah datang melayat ke rumah,” tutupnya.
Saat ziarah kubur kemarin, turut hadir dua kakak kandung dari Rinra, yaitu Indira Chunda Thita Syahrul Putri dan Kemal Redindo Syahrul Putra. (*)

Makassar,HAK SUARA – Rabu, 1 Februari, tepat enam tahun kepergian Rinra Sujiwa Syharul Putra, anak bungsu dari Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Taruna IPDN ini meninggal dunia di usia 21 tahun, setelah penyakit usus buntu yang dideritanya meledak.
Usai melakukan pelantikan pejabat eselon III dan IV di Gedung CCC, SYL bersama istrinya Ayunsri Harahap serta rombongan SKPD pemprov Sulsel melakukan ziarah ke kuburan Rinra di TPU Panaikang.
Kepada beberapa awak media yang mencoba mewawancarainya, Syahrul awalnya enggan memberikan komentar terkait kenangannya bersama putra sulungnya tersebut. Sebab dirinya sejak sudah berjanji untuk tak menetaskan air mata lagi.
“Anak itu adalah segalanya, dia rela meninggalkan sekolahnya di luar negeri hanya karena mengikuti perintah saya untuk masuk di IPDN. Bahkan dia tak pernah mau pamer kalau dia anak seorang gubernur,” kata Syahrul.
Meski kehilangan anak kesayangannya, Syahrul masih mengingat beberapaa pesan yang sering diucapkan Rinra saat berbicara dengan dirinya. Terutama berbicara masalah karier politik dan jabatan ayahnya.
“Salah satu yang sering dia bilang, bapak itu orang yang dibutuhkan secara nasional, tak boleh berhenti hanya sebagai Gubernur,” tutur Syahrul, sembari berusaha mengusap matanya.
Di mata Syahrul, Rinra merupakan sosok yang mandiri dan penyayang. Bahkan dari kesehariannya, Rinra tak mau membebani orang di sekitarnya termasuk, bapaknya.
Tak hanya itu, dirinya juga beberapa kali meminta ayahnya untuk menahan emosinya. “Kalau ada yang saya marahi di rujab, baik itu sopir atau pegawai lainnya, dia yang selalu bela,” jelas Syahrul.
Setelah lulus di IPDN tahun 2007, Rinra bahkan tak mau ditemui ayahnya di dalam kampus di Jatinagor Sumedang. Menurut Syahrul, anaknya tersebut hanya mau ditemui di Masjid atau penjual bakso di luar kampus.
Menjelang beberapa hari sebelum meninggal, kepada Syahrul, Rinra meminta izin untuk membawah temannya untuk memperkenalkan kepada keluarganya.
“Yang berkesan, menjelangdirinya mau meninggal dia mau undang seluruh temannya untuk ke rujab. Ternyata yang dia maksud adalah seluruh, teman-temannya dari berbagai daerah datang melayat ke rumah,” tutupnya.
Saat ziarah kubur kemarin, turut hadir dua kakak kandung dari Rinra, yaitu Indira Chunda Thita Syahrul Putri dan Kemal Redindo Syahrul Putra. (*)

Leave a Reply