Suyono Sumarto, Sang Motivator Bagi Pemuda Papua Yang Tak Memiliki Pekerjaan tetap di Kabupaten Keerom – Papua

Suyono Sumarto, Sang Motivator Bagi Pemuda Papua Yang Tak Memiliki Pekerjaan Tetap Di Kabupaten Keerom - Papua

KEEROM (PAPUA) LIPUTAN4.COM – Sosok Suyono Sumarto sudah tidak asing  bagi sebagian anak anak asli keerom di wilayah Distrk Arso, Distrik Arso Barat, Distrik Arso Timur, serta Distrik Mannem, bahkan seluruh Distrik di Kabupaten keerom. Pria kelahiran purwodadi tersebut kadang hadir sederhana sebagai sang motivator bagi kalangan muda yang tak memiliki pekerjaan tetap/pengangguran.

Dalam aktifitasnya, kadang Suyono terlihat begitu rama bagi anak anak asli keerom. Pria yang memiliki rental mobil dengan rute pelayanan dalam kota maupun pedalaman tersebut, memiliki seluruh sopir rentalnya anak anak asli Keerom/Papua,


Selain mempekerjakan anak anak Asli Keerom, walau sebagai sopir rental, maupun penjual bensin enceran, dirinya juga membagi beberapa lahan kapling dari asset pribadi yang di milikinya kepada anak anak dari luar Distrik Arso

Lahan yang di bagikan kepada sejumlah anak asli keerom yang ia kenal tersebut, dengan tujuan agar dapat membangun rumah sehingga tidak tinggal di kos kosan maupun kontrakan dengan biaya yang begitu mahal.

Awalnya ia adalah orang pendatang yang hidup pas pas, namun dirinya terus hadir memberikan kontribusi bantuan keagamaan. Ada beberapa pembangunan fasilitas  ibadah (Masjid maupun Gereja) di sekitar lokasih yang ia domisili kadang mendapat bantuannya  (seng maupun semen)

Sejumlah bantuan dalam keduakaan, bagi orang orang asli Keerom/Papua yang di kenalnyapun kerap ia lakukan, tak hanya di daerah perkotaan (Wilayah Arso) namun sampai ke daerah pedalaman keerom.

Saat di wawancarai liputan4.com, (Kamis/29/9/2022) terkait kedekatan dan bantuannya kepada anak anak asli keerom/Papua yang tak memiliki lapangan kerja yang jelas, Pria kelahiran 1962 tersebut, mengatakan, sejak saya  pertama kasli menginjakan kaki di Propinsi Papua terutama di Kabupaten Keerom pada tahun 1986 saya sudah berusaha untuk mengenal lebih dekat anak anak papua yang ada di Kabupaten Keerom.

Saya hanya berusaha menciptakan lapangan kerja bagi anak anak asli Keerom/Papua yang tidak memiliki lapangan kerja, walau hanya sebatas sopir rental untuk melayani permintaan masyarakat Keerom. Karena melalui pekerjaan seperti ini mereka juga dapat menghidupi keluarga walau tidak seberapa hasilnya.

Memang memberdayakan orang asli papua oleh orang orang pendatang tidak banyak kita temukan di daratan papua ini, sekalipun dia pejabat belum tentu memiliki kepedulian yang tinggi terhadap Orang Asli Papua.

Untuk bangun orang asli Papua, harus memiliki kepedilian dan komitmen yang tinggi, kita harus memberi ruang dan peluang kerja bagi mereka, meberi motivasi, serta memberi penguatan dari sisi cara berpikir, dan bersaing,

Jika demikian maka, anak anak Papua akan merasa di hargai  dan terus berusaha untuk maju  serta dapat bersaing bersama kita pendatang di Tanah Papua., namun sebaliknya jika kita biarkan mereka ruang dan peluang pada berbagai sisi, apalagi malas tau dengan keberadaan mereka maka, kadang perbedaan pendapat muncul di sini. Ujar Suyono

Menurut suyono, anak anak Papua harus kita bangun dengan pendekatan budaya mereka, kita  bangun mereka sesuai kebutuhan mereka, kita bangun mereka sesuai kondisi dan situasi wilayah mereka, selain itu kita bangun mereka sesuai arah senyum mereka. Hari ini mereka tak bisa kita paksa ikuti pikiran kita, tetapi kita harus memahami apa keinginan mereka, seperti itulah yang saya berusaha lakukan di kabupaten keerom ini.

Saat ini ada beberapa anak asli Keerom/Papua dari wilayah I yang tak memiliki tanah atau rumah di Arso, sehingga walaupun saya ini pendatang namun ada beberapa kapling yang saya bagi kepada mereka, agar dapat membangun rumah, walaupun tanah yang saya bagi awalnya saya juga beli kepada pemilik

Hal ini saya lakukan agar mereka tidak tiinggal di kos kos an maupun kontrakan yang setiap saat harganya terus meningkat. Anak anak asli keerom seharusnya mereka tidak tinggal di kos dan kontrakan karena ini adalah tanah mereka, namun justru sebagian dari mereka kondisinya demikian.

Saya berharap, kedepan anak anak keerom ini harus lebih baik dari hari ini, dalam segala bidang pembangunan, sehingga mereka tidak menjadi nomor dua di tanahnya sendiri, kita sebagai pendatang patut menghargai mereka sebagai pemilik. Kita juga berhak memberi motivasi perubahan bagi mereka, agar mereka juga bisa maju…Tutup Suyono.