SULITNYA MELOBI FAKTA

Sulitnya Melobi Fakta

Liputan4.com, Sumenep – Terungkap bahwa, di Kab. Sumenep, ada salah satu sekolah Dasar (SD) Negeri yang tidak memiliki satu pun siswa baru. Bahkan, kelas 2 dan kelas 3 di sekolah ini, hanya diisi masing-masing satu siswa saja.

Mendapatkan fakta itu, apalagi di wilayah daratan, bukan perkara gampang. Perbincangan kami, dengan narasumber, bahkan berlangsung alot. Pukul 07.34 WIB, kami masih terus melakukan lobi, agar fakta yang ingin kami ketahui, berkenan dibagi.


Namum, saat itu, narasumber yang menemui kami, menyambutnya dengan perasaan takut dan khawatir. Kami juga merasa ketar ketir.

Kami sempat berpikir, jika fakta tak berkenan diungkap, tentu kami tak boleh mengumpat dan menulisnya seenak jidat. Profesi kami, harus mengedepankan rasa hormat. Jika setelah dilobi, narasumber tetap tidak berkenan, kami harus rela untuk angkat tangan.

Dan beruntung, pukul 08.21 WIB, kami diperkenankan melakukan peliputan. Namun, proses peliputan berjalan serba canggung. Sebab, saat fakta di atas kami lobi, berkali-kali narasumber kami mengungkapkan rasa takut dan berupaya menghidari.

Pertama sekali, narasumber meminta kami untuk meminta izin kepada Dinas Pendidikan. Kami turuti. Salah satu diantara kami langsung menghubungi. Lewat gawai, narasumber dan kepala dinas segera berbincang.

Hasilnya, Kepala Dinas Pendidikan mempersilahkan untuk lakukan peliputan. Hanya saja, keputusan akhir berada di tangan narasumber kami. Mendengar itu, lobi demi lobi kembali kami lakukan.

Hingga pukul 08.12 WIB, kami masih tarik ulur keinginan. Sebab, pihak sekolah ngotot bahwa fakta itu begitu memalukan. Mereka merasa menanggung banyak beban.

Mendengar itu, satu demi satu, logika mereka kami imbangi. Soal rasa malu, misalnya, kami sampaikan bahwa semestinya perasaan itu tidak ditanggung sendiri. Mungkin saja sekolah ini adalah korban dari sistem pendidikan di negeri ini.

Misalnya, sampai saat ini, sistem zonasi masih amburadul. Penerapannya belum tegas dan mungkin sengaja dibuat abu-abu. Lebih jahat lagi, misalnya, sekolah ini tetap dipaksa ada agar pagu anggaran pendidikan tetap “terjaga”. Dan akhirnya bisa dibagi-bagi saja(?)

Saat itu, kami tegaskan, bahwa perasaan malu itu semestinya ditanggung bersama. Terutama oleh pemangku kebijakan, khususnya Dinas Pendidikan.

Bayangkan saja, sejak tiga tahun terakhir, sekolah ini hanya menerima satu siswa baru. Bahkan tahun ini nihil. Kerja melayani Dinas Pendidikan, sampai sejauh mana?

Sebenarnya, fakta yang berhasil kami lobi macam ini, sudah berkali-kali kami temui. Hanya ada tiga jawaban yang lumrah kami dengar. Pertama, akan dievaluasi. Kedua, sekolah dianjurkan perbanyak inovasi. Ketiga regrouping lagi.

Dan tahun ini, kami mendengar lagi dua jawaban lumrah tadi. Selalu akan evaluasi dan inovasi. Ah, di negeri gemah ripah loh jinawi ini, potret pendidikannya begitu ngeri. Semoga tahun 2045, Indonesia tetap jadi emas.

Sumenep, 18 Juli 2022

Nur Kholis (Wartawan Kompas TV)

Print Friendly, Pdf & Email