Sekda Palas, Arpan Nasution Irup Gelar Apel Kesiapan Pencegahan Karhutla di Mapolres Palas

Sekda Palas, Arpan Nasution Irup Gelar Apel Kesiapan Pencegahan Karhutla Di Mapolres Palas

LIPUTAN4.COM, PADANG LAWAS  -Polres Padanglawas gelar apel kesiapan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dihalaman Mapolres Padanglawas,Jumat(11/08/2022).

Peserta apel terdiri dari personil Polres Palas,Dinas Perhubungan, Satpol PP dan Damkar,BPBD, TNI dan Manggala Agni.


Bertindak sebagai Inspektur upacara Sekda Kabupaten Padanglawas,Arpan Nasution.S.Sos dan Komandan Upacara, Iptu Budi Chandra Nasution.

Hadir dikegiatan apel tersebut,Kapolres Padanglawas, AKBP Indra Yanitra Irawan. Wakapolres, Kompol JW Sijabat, Kabag Ops Kompol Alsem Sinaga, serta sejumlah PJU Polres Palas serta Pimpinan OPD jajaran Pemkab Palas.

Amanat Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi yang dibacakan Sekda Palas, Arpan Nasution, menyampaikan, penganggulangan bencana Karhutla Tahun 2022 dilaksanakan secara serentak di seluruh Kabupaten/Kota se-Provinsi Sumatera Utara.

“Hal ini sebagai upaya untuk memelihara kelestarian hutan dan lahan yang ada di Indonesia,umum Provinsi Sumut dan khususnya Kabupaten Palas,” katanya.

Sekda juga menjelaskan, di pembukaan Forum Internasional Global Platform for Disaster Risk Reduction 2022 di Bali. Presiden RI, Ir Joko Widodo menyampaikan secara umum indonesia telah berhasil menurunkan Kebakaran Hutan dari 2,6 juta Hektare menjadi 358.000 Hektare pada Tahun 2021. Namun demikian kondisi tersebut berbanding terbalik dengan penanganan Karhutla di Provinsi Sumatera Utara.

Dikatakan, berdasarkan data yang ada,di Semester I Tahun 2022 telah terdapat 206 Hotspot dan 156 kejadian kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Sumatera Utara. Hal tersebut mengalami peningkatan sejumlah 36 Titik bila dibandingkan dengan Semester I Tahun 2021.

“Adapun wilayah dengan Hotspot terbanyak pada Periode Januari sampai dengan Juli 2022 antara lain Kabupaten Tapanuli Utara (37 titik), Kabupaten Tapanuli Tengah (23 titik), Kabupaten Labuhanbatu (20 titik), Kabupaten Toba (18 titik) dan Kabupaten Tapanuli Selatan (5 titik),” ungkap Sekda mengutip amanat Gubsu.

Kita menyadari bahwa upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan,lanjutnya bukanlah hal yang mudah karena banyak faktor penyebab kebakaran hutan di Indonesia.

Diantaranya faktor alam dan faktor manusia, baik yang dilakukan dengan sengaja, kelalaian ataupun karena motif ekonomi seperti untuk membuka lahan,tambahnya.

Selain faktor diatas, katanya Provinsi Sumatera Utara sendiri memiliki wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan seluas 3,7 juta hektare dan lahan gambut seluas 261 ribu hektar.

Menurut Gubernur,imbuh Sekda keberadaan lahan gambut mengalami kerentanan kebakaran hutan dikarenakan memiliki potensi karbon yang mudah terbakar. Ada beberapa wilayah diantaranya Kabupaten Labuhanbatu, Padang lawas(Palas) Padang lawas Utara(Paluta) Mandailing Natal (Madina), Dairi serta Asahan.

Dari berbagai faktor tersebut,sambungnya tentunya penanganan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Sumut tidaklah mudah karena tantangan tersebut harus kita hadapi bersama, agar tidak berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

Dalam mengatasi bencana kebakaran hutan dan lahan, untuk penanggulangannya ada tiga langkah yang harus dilakukan.Pertama melakukan pencegahan dengan memberikan sosialisasi yang berisi himbauan kepada masyarakat.

Kedua dengan tindakan kecepatan penanganan pada saat terjadinya kebakaran hutan dan lahan dan Ketiga dengan melakukan penegakan hukum serta mengungkap fakta terjadinya kebakaran hutan dan lahan tersebut.

Sebelum menutup arahan Gubenur Sumut ada beberapa poin penekanan untuk dipedomani dan dilaksanakan antara lain, meningkatkan kepekaan, kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam pelaksanaan tugas serta pahami tugas pokok dan peran masing masing.

Selanjutnya, prioritaskan upaya pencegahan karhutla melalui pemberian sosialisasi dan edukasi secara terus menerus kepada masyarakat, dengan pemberdayaan Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Kepala Desa serta pelibatan para Tokoh Masyarakat dan bangun posko terpadu serta laksanakan manajemen lapangan yang saling bersinergi dan terorganisir dengan baik.

Disisi lain,kata Sekda penanganan karhutla harus dilakukan secara bersama-sama sehingga dapat dengan cepat mencegah timbulnya titik api yang baru serta manfaatkan teknologi untuk melakukan pemetaan dan monitoring di area rawan terjadinya karhutla serta melakukan modifikasi cuaca.

Hal lain yang perlu dilakukan,berdayakan potensi masyarakat dan perusahaan dengan membentuk regu pengendalian kebakaran hutan yang bertugas melakukan patroli dan pemadaman api,lakukan patroli secara rutin untuk mengecek sarana prasarana penanggulangan Karhutla seperti embung air, kanal air, selang dan pompa air serta lain sebagainya.

“Berikan solusi kepada masyarakat dan korporasi dalam pembukaan lahan dengan tidak melakukan pembakaran lahan dan lakukan langkah-langkah penegakan hukum yang tegas kepada seluruh pihak yang dengan sengaja melakukan pembakaran hutan dan lahan, baik yang dilakukan oleh konsesi milik korporasi maupun masyarakat,” pungkasnya.( Sbn)