Sambung Ruh Ulama Nusantara  Ki Ageng Getas Pendowo 

Sambung Ruh Ulama Nusantara  Ki Ageng Getas Pendowo 

Sambung Ruh Ulama Nusantara  Ki Ageng Getas Pendowo 

Oleh : Sofyan Mohammad**


LIPUTAN4.CIM, Salatiga – Menelusuri sejarah Mataram Islam maka pasti tersebut salah satu nama yaitu Ki Ageng Getas Pendowo. Sebagai salah satu leluhur Dinasti Mataram maka Ki Ageng Getas Pendowo juga mewarisi nama besar trah keturunan Prabu Brawijaya V Raja terakhir Kerajaan Majapahit yang kemudian tercatat keturunannya menduduki tempat terhormat dimata masyarakat dengan menyandang nama dan gelar Ki Gede, Ki Ageng, Nyai Gede, Nyai Ageng yang memiliki makna sebagai tokoh besar dalam bidang keumatan (keagamaan) maupun tokoh pemerintahan yang dihormati. Sebab dianggap memiliki kelebihan dan kemampuan dalam sifat-sifat keteladanan dan kepemimpinan dalam suatu wilayah.

Menurut catatan dalam Babad Tanah Jawi jika Prabu Brawijaya terakhir kali memiliki istri yang berjuluk putri Wandan Kuning dan berputra Raden Bondan Kejawan/ Arya Lembu Peteng yang merupakan murid sekaligus anak mantu dari Ki Ageng Tarub. Sebab Arya Lembu Peteng menikah dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu seoranh Bidadari yang bernama Dewi Nawang Wulan. Dari perkawinan antara Raden Lembu Peteng dengan Dewi Nawangsih telah melahirkan 3 orang anak salah satunya adalah Ki Ageng Getas Pendowo.

Dengan demikian Ki Ageng Getas Pendowo merupakan cucu dari Prabu Brawijaya V dan juga cucu dari Ki Ageng Tarub. Jika ditarik lagi keatas dari kakeknya yaitu Prabu Brawijaya merupakan trah Rajasa yang berarti Ken Arok atau Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi yang merupakan pendiri Kerajaan Singhasari yang memerintah pada pada 1222 – 1227. Sekaligus juga pendiri Wangsa Rajasa. Sehingga dalam darah Ki Ageng Getas Pendowo mengalir darah Wangsa Rajasa.

Kakeknya yang satu dari pihak ibu yaitu Ki Ageng Tarub menurut berbagai sumber merupakan keturunan dari Syech Jumadil Kubro dengan Dewi Rasa Wulan. Melalui kutipan Wikipedia Syekh Jumadil Qubro yang berasal dari Samarkand, Uzbekistan merupakan keturunan ke-10 dari al-Husain, cucu Nabi Muhammad SAW. Sedangkan neneknya yaitu Dewi Roso Wulan adalah putri dari Tumenggung Wilatikta yang juga ayah dari Kanjeng Sunan Kalijogo. Dengan demikian Ki Ageng Getas Pendowo termasuk Sayid karena ada silsilah yang tersambung hingga Nabi Muhammad SAW.

Dalam kehidupan masyarakat jawa kuno secara sosiologis dibagi menjadi tiga golongan yaitu Begawan, Bangsawan dan Kawula Dasih. Golongan Begawan adalah orang yang menjalankan hidup asketis dengan mengarungi laku batin. Adapun golongan bangsawan merupakan trahing kusuma rembesing madu yang di darahnya merupakan keturunan ningrat sehingga biasanya dalam hidupnya memiliki tekad dan pengabdian yang kokoh dalam hal kepemimpinan. Untuk tekad tersebut demi kedamaian negara dan dunia, mereka rela rawe-rawe rantas malang-malang putung, meski harus mengorbankan jiwa dan raga. Adapun golongan Kawula Dasih adalah golongan rakyat dengan berbagai profesi sehari hari yang berjalan secara berkesinambungan sehingga terwujudlah negara yang aman nan tenteram.

Ki Ageng Getas Pendowo diyakini sejak kecil hingga akhir hayat tinggal di wilayah grobogan – Purwodadi maka dalam babad ditemukan deksripsi jika Ki Getas Pandawa tumbuh sebagai seorang pemuda yang gemar mengembara di hutang dan gunung gunung yang keramat dan hasilnya beliau dikenal sebagai seorang seorang yang alim, sakti dan pinunjul. Akan tetapi ada sumber lain menyebutkan jika pada dasarnya beliau adalah seorang yang pemalu dan tidak mau tampil dimuka. Dalam kehidupan sehari-hari beliau dikenal sebagai seorang petani menggarap sawah dan menanam berbagai tanaman sayuran dan palawija lainnya. Hasil panen pertanian tidak semua dimanfaatkan untuk diri dan keluarganya sendiri. Namun sebagian lainnya adalah dibagi bagi pada masyarakat sekitar.

Sambung Ruh Ulama Nusantara  Ki Ageng Getas Pendowo 
Sofyan Mohammad

Kisah hidup Ki Ageng Getas Pendowo yang ahli laku batin dan topomeleng namun untuk kehidupan sehari hari justru berprofesi sebagai petani padahal disadari dalam darahnya mengalir darah trah yang besar dan mulia. Sehingga kisah Ki Ageng Getas Pendowo adalah potret kehidupan yang tawadhu sebagai sebuah perilaku manusia yang memiliki watak rendah hati, tidak sombong atau merendahkan diri agar tidak terlihat sombong. Tawadhu bukan hanya sekadar tata kerama belaka, namun perilaku ini memiliki makna yang jauh lebih dahulu dari sopan santun, yaitu sikap batin yang menjelma dalam praktik lahiriyah secara wajar dan bijaksana.

Dalam menjalani kehidupan sehari hari nampaknya Ki Ageng Getas Pendowo mampu secara tepat menggabungkan laku hidup dalam tingkat stratifikasi sosial yaitu sebagai seorang Begawan, sebagai seorang Bangsawan sekaligus dapat berperan sebagai seorang Kawulo Dasih. Ki Ageng Getas Pendowo termasuk seorang yang didalam darahnya mengalir darah Trahing Kesumah, Rembesing Madu, Wijining Tapa, dan Tedhaking Andanawarih yang artinya bahwa seorang yang memiliki darah keturunan ningrat (kesumah / bunga) atau bangsawan, tapa /pertapa /alim ulama, berwawasan agama dan berasal dari keturunan pilihan utama.

Trahing kusumo rembesing madu maksudnya adalah keturunan bunga tirisan madu yang berarti keturunan orang yang mulia. Dalam keyakinan orang Jawa – Nusantara trahing kusumo rembesing madu seakan sudah menjadi jaminan bahwa setiap yang lahir dari garis keturunan tersebut pastilah orang yang baik yaitu baik etika, tikah laku, perbuatan, berbudi pekerti, ucapan, moral, akhlak dan adabnya, baik agamanya, baik segalanya. Selanjutnga dalam kajian Islam Trahing Kusumo Rembesing Madu meskipun tidak menjadi jaminan tingginya derajat seseorang, akan tetapi trah kusumo madu haruslah dibarengi dengan keteladanan ahlaq yang mulia sabagai manifestasi ketakwaan pada Allah SWT. Dengan demikian implementasi Trahing Kusuma, Rembesing Madu adalah perilaku yang harus dibarengi dengan laku wijining atapa, tedhaking andana warih sehingga dapat menginternalisasi antara bobot, bibit dan bebet.

Dalam catatan sejarah Ki Ageng Pandawa memiliki 7 putera-putri yaitu Ki Ageng Selo, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purno, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong dan Nyai Ageng Adibaya.Ki Ageng Getas Pendowo mempunyai saudara Ki Ageng Wonosobo dan Nyai Ageng Ngerang (Siti Rochmah / Dewi Roro Kasihan) yang menikah dengan Ki Ageng Serang / Sunan Ngerang / Seikh Muhammad Nurul Yaqin putra Maulana Maghribi II.

Dengan demikian Ki Ageng Getas Pendowo adalah salah satu orang yang menjadi keluhur dinasti Mataram Islam karena melahirkan generasi yang mampu menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam yang masih lestari hingga saat ini yaitu Kasultanan Surakarta Hadiningrat, Kasultanan Ngayogyakarta, Pura Mangkunegaran Surakarta dan Pura Pakualaman Yogyakarta.

Leluhur dalam kajian Antropologi Budaya adalah nenek moyang yang berpola karena adanya kekerabatan (kin) yang berada pada struktur garis keturunan di atas seseorang (ego) baik pada masyarakat dengan pola patrilineal maupun matrilineal. Dalam hal ini maka jelas tercatat Ki Ageng Getas Pendowo adalah leluhur Panembahan Senopati Ing Ngalogo raja pertama Mataram yang berpusat di Kota Gede Yogyakarta pada tahun 1568 – 1601.

Dengan bersilatu-roh- mi melalui ziarah kubur ke Pusara Makam Ki Ageng Getas Pendowo merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap kemulyaan saat beliau masih hidup di dunia. Dengan lantunan doa semoga Allah SWT memberi Ridlo dan Rahmat – Nya. Berziarah ke makam leluhur juga akan mengingatkan kita yang masih hidup di dunia akan datangnya kematian dan bahwa ada kehidupan setelah alam dunia yang pasti dihadapi, yaitu akhirat. Dengan mengingatnya, diharapkan kita dapat meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Allah SWT dengan mengumpulkan bekal demi menggapai kebahagian di akhirat.

Semoga Bermanfaat..!
Lahul Fatihah

Wallahu a’lam bish-shawabi (والله أعلمُ بالـصـواب)
Dan Allah Mahatahu yang benar atau yang sebenarnya”

———————————————————————————-
Tulisan ini diramu dari wawancara dan diskusi dengan Juru Kunci makam serta diracik pula dengan sumber bacaan yaitu :
1. Babad Tanah Jawi. (terjemahan). Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. Narasi. Yogyakarta. 2007.
2.Moedjianto. Konsep Kekuasaan Jawa : Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Kanisius. Yogyakarta. 1987.
3. Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Yayasan Bina Sarwono Prawirohardjo. 2006
4. Purwadi. Menulusuri Jejak Kehidupan Masyarakat Jawa Kuno, Solusi Buku. Yogyakarta. 2015.
5. Ranggasutrasna, Ki Ngabehi Darusuprapta. Dr. Marsono, Centhini., Tim Penyadur Teks Naskah Suluk Tambangraras (1991-2010). Centhini, Tambangraras – Amongraga (edisi ke-Cet. 1). Balai Pustaka. Jakarta. 2010.
6. Wikipedia

————————————————————
* Penulis adalah pehobi wisata ziarah sehari hari tinggal di desa.

Print Friendly, Pdf & Email