Sambuh Ruh Ulama Nusantara Wali Bayi Wali Ragas Wali Rogohito Plumutan Bancak Kabupaten Semarang

Sambuh Ruh Ulama Nusantara Wali Bayi Wali Ragas Wali Rogohito Plumutan Bancak Kabupaten Semarang

Sambuh Ruh Ulama Nusantara Wali Bayi Wali Ragas Wali Rogohito Plumutan Bancak Kabupaten Semarang
Oleh : @Sofyan Mohammad**
———————————————-
LIPUTAN4.COM, Kabupaten Semarang – Bermaqbaroh di pusara Wali Bayi, Wali Ragas dan Wali Rogohito di Dusun Krajan, Desa Plumutan, Kec. Bancak, Kab. Semarang akan menorehkan kisah yang berkesan. Untuk menuju lokasi bisa melalui berbagai rute dari arah salatiga bisa melalui rute Jalan Salatiga – Dadapayam juga bisa melalui rute Salatiga – Beringin. Kedua-duanya akan sama – sama melewati jalur alam pedesaan yang menawan. Tapi zaman sekarang untuk memilih rute bisa melalui aplikasi MAP ketika dipencet mbak google akan langsung memberi petunjuk jalan, meski tidak semua petunjuknya akurat dan justru bisa tersesat diarea area diluar dugaan.

Petang itu kami memilih melewati rute manual tanpa melibatkan MAP yaitu rute jalan Salatiga – Dadapayam. Memasuki kawasan Desa Dadapayam jalan yang kami lalui adalah jalan yang tergolong ekstrem karena kontur jalan yang terjal naik turun meliuk liuk, dikanan dan kiri jalan adalah jurang atau galengan yang cukup curam. Type tanah disini adalah tanah yang labil sehingga ditengah tengah jalan tiba tiba bermunculan gundukan gundukan tanah. Material aspal jalan menjadi rusak mengelupas yang menciptakan lubang lubang menggangga, setiap kubangan digenangi air yang membuat tidak dapat diterka kedalaman lubang tersebut. Melewati jalur ini tentu akan sangat merepotkan sang driver apabila menggunakan mobil bertype mpv, citycar atau sedan karena bisa jadi gardan mobil menjadi pecah menghantam gundukan gundukan tanah menyembul tak beraturan di sepanjang jalan.


Petang itu kami menikmati perjalanan dengan sensasi menunggang camel (onta) badan kami terombang ambing kekanan dan kekiri terhuyung kedepan dan ke belakang mengikuti alur jalan yang diinjak oleh roda bermotif tahu dari mobil SUV bertype Off Road yang kami kendarai. Jalan mulai halus dan rata setelah memasuki pasar Desa Dadapayam yang masih termasuk wilayah Kecamatan Suruh, Kab. Semarang.

Sambuh Ruh Ulama Nusantara Wali Bayi Wali Ragas Wali Rogohito Plumutan Bancak Kabupaten Semarang
Setelah melewati pasar desa Dadapayam maka perjalanan memasuki kawasan Kecamatan Bancak yang merupakan bulak oro oro (lahan pertanian yang luas) sepanjang mata memandang adalah hamparan sawah yang menghijau dikanan dan kiri jalan. Diujung sawah sawah terbentang bukit bukit berdiri berjajar membentuk gugusan alam menawan yang mensejukan mata bagi setiap yang memandang. Pemandangan alam disepanjang jalan itu seperti lukisan alam yang sering diimajinasikan oleh para seniman lukis dalam karya kanfasnya.

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati beberapa kampung yang berdiri bangunan rumah rumah papan kayu kas pedesaan. Sebelum sampai pada jembatan sepanjang kira kira 50 m yang di bawahnya mengalir deras sungai Gobak yang berhulu di kali Cuributhak (Dadapayam) dan berhilir di kedung ombo sebelum ditampung terlebih dahulu oleh anak sungai Serang untuk dialirkan ke waduk kedungombo sebelum dilanjutkan ke laut Jawa.

Jembatan yang melintang tersebut sering disebut dengan jembatan Kalimaling, karena di ujung jembatan adalah kawasan pasar tradisional Kalimaling yang termasuk wilayah Desa Plumutan. Berjarak sekitar 1 Km dari jembatan di pinggir jalan akan ada papan petunjuk jalan yang bertuliskan “Selamat Datang anda memasuki kawasan wisata religi Makam Wali Bayi, Ragas, Rogohito”.

Gapura besar sebagai penanda dengan jalan betonisasi dua lajur setelah berjalan sekitar 200 meter maka kembali melewati jembatan sempit (cukup mepet untuk ukuran satu mobil yang melintas) yang di bawahnya mengalir dengan deras sungai Banger. Bagi yang belum terbiasa membawa mobil pada medan jalan exstrem tentu akan mengeluarkan banyak keringat dingin ketika melintasi jembatan ini.

Setelah lolos melewati jembatan sempit maka telah memasuki dusun Krajan, Desa Plumutan yang merupakan Lokasi Makam. Di Dusun Krajan tersusun pemukimam khas pedesaan pedalaman tahun 1960an dimana masih terdapat rumah rumah berbahan kayu, dengan ukuran tidak besar dan tidak begitu tinggi jika dibanding rumah tradisional Jawa pada umumnya. Lantai rumah adalah jrambah papan kayu yang di bawahnya adalah kolong untuk kandang ayam maupun unggas lainnya.

Memasuki Dusun Krajan bagi orang Desa yang lahir era 70 s/d 80 an dan sekarang tinggal di Kota maka akan kembali teringat memori tentang visual masa kecil. Deretan rumah rumah penduduk, sikap bersahaja penduduk, bentangan alam sekitar dusun dan berbagai suasana yang tak begitu terdampak jauh pada kemajuan ITE sebuah kearifan lokal khas Desa yang sangat dirindukan pada saat ini.

Rumah juri kunci makam berada di tengah tengah deretan rumah warga, rumah yang terbuat dari kayu, berlantai jrambah dan berhalaman cukup luas untuk menjemur padi hasil panen. Setelah kami memarkirkan kendaraan di halaman langgar, kami bergegas menuju rumah Mbah Sujak selaku Juru Kunci Makam. Pria sepuh yang usianya lebih dari 90 tahun, namun terlihat masih sehat bugar dan enerjik. Kami langsung dijamu dengan ramah oleh mbah Sujak dan anak perempuannya yang langsung menyuguhi kami dengan teh hangat.

———————————————-
Malam itu Mbah Sujak berjalan didepan secara tertatih tatih dengan menyalakan obor baterai sementara kami mengikuti dari belakang. Setelah berjalan dari rumah sekitar 150 m maka sampailah kami dipintu gerbang makam yang harus meniti jembatan terlebih dahulu. Sebelumnya kami sudah diberitahu oleh Mbah Sujak jika area makam adalah semacam Pulau karena seluruh arah mata angin dikelilingi oleh air aliran sungai Pangkuk yang melingkari makam. Aliran sungai ini kemudian menyatu dengan aliran sungai Banger maupun sungai Gobak di Kalimaling.
Memasuki gapura makam maka langsung tercipta aura mistis, tampak beberapa pohon raksasa yaitu pohon jati, pohon preh dan pohon bringin yang tinggi menjulang sangat kokoh. Semilir angin menciptakan aroma yang membuat bulu kuduk merinding. Setelah melewati beberapa pusara makam warga penduduk sampailah pada cungkup makam yang hendak dituju. Cungkup dengan pagar pembatas gapura terbuat dari susunan batu alam berwarna silver stone setinggi sekitar 1,5 m yang diatasnya disusun secara rapi ram kayu jati melintang berjajar. Bangunan tembok melingkar berukuran sekitar 3×3 m yang diatasnya tak beratap. Bagian depan bangunan terdapat dua pilar pilar gapura setinggi sekitar 2,5 m yang tersusun secara artistik dari bahan batu alam yang sama sehingga menampilkan tonjolan timbul pilar yang kokoh. Desain gapura adalah model gapura majapahitan yang ditengah tengahnya terdapat pintu gerbang terbuat dari besi selebar 1 x 1 m sebagai pintu masuk. Mendekati bangunan dari luar saja sudah semakin tercipta suasana magis yang kental.
Sambil menunggu Mbah Sujak membuka kunci pintu gerbang cungkup makam, kami hanya diam tertunduk sambil merapalkan beberapa doa salam untuk ahli qubur
“Assalamu’alaìkum dara qaumìn mu’mìnîn wa atakum ma tu’adun ghadan mu’ajjalun, wa ìnna ìnsya-Allahu bìkum lahìqun” tanpa terasa bulu roma kami begidik seiring datangnya angin berhembus yang telah menggurkan daun daun jati yang jatuh tepat mengenai kami.
Setelah pintu gerbang terbuka Mbah Sujak mempersilahkan kami masuk dengan menyalakan lampu baterai yang temaram terlihat tiga pusara berjajar. Semua pusara terbuat dari belahan kayu jati yang melintang berukuran sekitar 70 cm x 1,5 cm yang di setiap sudut kayu menonjol lebih panjang melintang dengan ketinggian diatas tanah sekitar 20 cm. Kayu jati untuk pusara tersebut terlihat sangat tua yang dapat disentuh pori pori galih nya sudah seperti memfosil dan tidak terlihat lapuk atau dimakan rayap sama sekali.
Paling ujung kanan adalah Pusara Simbah Wali Bayi, ditengah Pusara Simbah Wali Ragas dan di ujung timur Pusara Simbah Wali Rogohito.
Setelah Mbah Sujak membuka bungkusan kembang dan meminta kami untuk menaburkan keseluruh pusara makam, beliau melanjutkan merapalkan doa pembuka dan kami hanya diam secara khidmat. Selanjutnya Mbah Sujak meminta kami untuk memulai berdoa secara berjamaah Sholawat Salamullahi Ya Syadah secara jahr kami lantunkan
“Salâmullâhi yâ sâdah minar-Rahmâni yaghsyâkum
‘Ibâdallâhi ji’nâkum qashadnâkum thalabnâkum
Tu’înûnâ tughîtsûnâ bihimmatikum wa jadwâkum
Fa ahbûnâ wa a’thûnâ ‘athâyâkum hadâyâkum
Falâ khayyabtumû dzannî fahâsyâkum wahâsyâkum
Sa’idnâ idz ataynâkum wa fuznâ hîna zurnâkum
Faqûmû wasyfa’û fînâ ilâr-rahmâni mawlâkum
‘Asâ nuhdzâ ‘asâ nu’thâ mazâyâ min mazâyâkum
‘Asâ nadzrah ‘asâ rahmah taghsyânâ wa taghsyâkum
Salâmullâhi hayyâkum wa ‘ainullâhi tar’âkum
Wa shallâllâhu mawlânâ wasallam mâ atainâkum
‘Alâl mukhtâri syâfi’înâ wa munqidzinâ wa iyyâkum”
Setelah kami membaca bacaan tahlil – tahmid dan berdoa di hadapan pusara Simbah Wali Bayi, Ragas, Rogohito secara khidmat dan khusuk selanjutnya kembali membuka pejaman mata kami dan alhamdulillah sugesti indra kami yang merasa sebelumnya cuaca terasa mendung dan gelap kini terlihat tampak cerah dan terang sehingga ketika kaki melangkah keluar dari cungkup makam sampai keluar arena makam yang berbentuk pulau tersebut nampak nampaknya sudah tidak ada perasaan takut nan hohor sebagaimana pada saat kami masuk.
———————————————-
Berziarah ke makam para ulama dan wali-wali Allah adalah hikmah untuk mengingat akan kematian, disamping akan mendatangkan keberkahan bagi para peziarah. Berziarah ke makam waliullah adalah
menyadarkan akan kealiman dan kesolehan orang yang berada di dalam kubur.
Bermaqbaroh di pusara maka Simbah Wali Bayi, Simbah Wali Ragas dan Simbah Wali Rogohito di Pemakaman Dan. Krajan, Desa Plumutan, Kec. Bancak, Kab. Semarang telah membuka pintu pengetahuan jika mata hati punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran dari pada indra penglihatan karena hikmah Tuhan menciptakan dunia supaya segala sesuatu yang ada dalam pengetahuan-Nya menjadi tersingkap untuk itu semoga kita semua bisa memperkecil diri agar bisa tumbuh besar dari dunia dan jati diri kita akan terungkap tanpa kata-kata.
والله عالم بشواب
Semoga Allah memberi ampunan
Semoga Allah meridloi
———————————————-
* Esai disusun berdasarkan pengamatan empirik yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian yang membentuk proposisi ditambah dengan sumber wawancara, bacaan Pustaka serta meguru pada ahlinya.
– Tunggu #Part 2
** Penulis adalah Santri mbeling sehari hari tinggal di bantaran Kali Serang, Muncar, Susukan Kab. Semarang.

Print Friendly, Pdf & Email