News, Opini  

Romantisme Dengan CoronaVirus: Jangan Terpersona Dengan Kata-kata Berdamai !!

Romantisme Dengan Coronavirus: Jangan Terpersona Dengan Kata-Kata Berdamai !!

Oleh : Rhudy Pravda


Wabah pendemic CoronaVirus ini memang cukup mengerikan, baik dari kesiapan kita mengatasinya (mencegah) untuk bisa pastikan tidak membunuh (membuat kita mati) ada hal penting juga, ialah; kebutuhan hidup sehari-hari kita sebagai orang-orang miskin (karena setiap manusia butuh sehat). Tentu, hal ini menguras energi yang cukup banyak, dan lama sekali sejak 2019 hingga 2020 ini tidak ada tanda-tanda berakhir yang cukup signifikan dari upaya pencegahan Covid-19 oleh Indonesia (negara-pemerintah-pejabat dll) yang terkesan maksimal.

Meskipun segala upaya sudah di lakukan dengan sebaik-baiknya oleh petugas kesehatan yang siap-siaga, bekerja terus menerus setiap saat, termasuk ada yang mati baik warga maupun petugas kesehatan sebagimana grafik kematian terus meningkat, terjangkit, dan akan lebih lama yang dilansir medis sosial. Alih-alih, pejabat publik dan lembaga terkait justru menganggap enteng soal wabah Covid-19 ini dengan pesonanya "membuat hitungan matematis lelucon tentang kematian" termasuk mengajak "beromantisme" dengan corona. Ayo, bersahabat dengan corona, berdamai dengan corona, termasuk jurus-jurus takhayul tradisional jadi senjata tempur melawan CoronaVirus.

Di lakukan PSBB, selain longgar memang justru memantik banyak protes dari warga masyarakat untuk keluar berseliweran ke jalan-jalan dengan tujuan mulyanya mengantisipasi kebutuhan makan dan minum, dan kebutuhan dasariah lainnya. Upaya pencegahan Covid-19 dengan cara mendisiplinkan warga masyarakat dengan berbagai cara: melarang mudik, diam diri di rumah, membuat konser pejabat, pantauan langsung di jalanan oleh petugas keamanan, termasuk represi-represi lainnya di lakukan adalah paketan kebijakan kerap jadi alternatif oleh pemerintah dan aparat keamanan.

Terus terang saja, bahwa wabah virus Covid-19 ini memang menjadi problem penting, karena bisa menghasilkan fenomena umum secara sosial begitu banyak. Kita lihat saja, dalam situasi ini banyak sekali kebijakan diluar kehendak masyarakat: PHK terhadap buruh, soal upah kerja, K3, sholat di mesjid, ibadah di gereja, sosial distancing, phisycal distancing, pasar jualan kecil-kecilan di paksa tutup, pelabuhan laut untuk mudik di tutup, bandara pesawat di buka, mall di buka, dan perusahaan-perusahaan kapitalis dibuka, pertambangan masih beroperasi, buruh masih kerja, pengesahan UU Minerba secara diam-diam, upaya ngebut Omnibus Law di sahkan, dan masih banyak lagi telah berlangsung ADALAH SEMUA "ROMANTISME TERBAIK KEBIJAKAN KITA DENGAN CORONAVIRUS INI.

Bisnis-bisnis kecil perusahaan tutup, dan jualan mereka yang bisa menopang hidup juga tak bertahan, sehingga mereka waras dan bagi-bagi secara gratis. Petani panennya tidak terbeli, akhirnya mereka harus bagi-bagi panenan secara gratis: sayur-mayur, dan lainnya kepada warga secara cuma-cuma. Juga ada solidaritas rakyat saling bantu memberikan bantuan langsung sesama warga untuk mempertahankan makan dan minum. Ada protes aksi, baik di lokasi perusahaan maupun di desa-desa oleh warganya karena menuntut soal bantuan tunai berupa uang, (BLT) dan anggaran yang tertutup agar bisa adil, setara dan terbuka secara langsung melalui media protes.

Kegiatan-kegiatan ini kerap di hadapi dengan konsekuensi logis: represif, penangkapan, termasuk di bubarkan—juga tak ayal pula di penjara (ditahan atas nama kepentingan lembaga terkait melakukan serangkaian dendam modal terhadap rakyat) dan selama kurang lebih beberapa bulan ini, fakta-fakta ini terjadi terus-menerus.

"Jaga jarak, dan pakai masker dalam kegiatan tersebut, itu mencerminkan kita patuh dan disiplin untuk melawan Corona." Diam diri di rumah begitu anjuran romantisme kelas menengah dan orang-orang kaya untuk yang tercukupi kebutuhan mereka". "Lalu kita kerap akan sulit mendapatkan semua akses, termasuk pemenuhan kebutuhan kita sehari-hari".

Ya, selain kita murka dengan segala upaya tidak serius pemerintah untuk menangani ini, dan mengkritisi segala represi-represi lainnya yang kita alami—kita juga bisa melakukan insiatif sendiri di setiap desa tempat kita tinggal dengan sanggup yang bisa kita kerjakan sebagai bentuk solidaritas terhadap segala hak hidup sehat sebagai manusia yang wajib untuk dipertahankan.

Ada hal-hal kecil ini, yang mungkin bisa di jangkau ataupun akan ada kesulitan pula kita lakukan, seperti:

1. Kebutuhan masker, tenaga kesehatan, dan kebutuhan lainnya: Masker itu khusus yang penyakitan, termasuk juga kalau ada gejala penyakit lainnya. Dalam situasi Covid-19 ini memang masker penting, phisycal distancing; tapi tergantung bila ada masker yang disediakan oleh Pemdes dan warga bisa sanggupi beli masker. Ibadah di gereja juga, sholat di mesjid, bila tidak nyaman karena ada anjuran pencegahan, bisa di rumah asal jangan aneh-aneh kebijakan desa (aparat desa, kemanan, dan petugas kesehatan) melarang tidak sesuai dengan situasi yang dialami warga.

2. Kalau memang di desa-desa, tidak ada sama sekali gejala Covid-19 dan baik-baik saja, untuk apa berlebihan disiplin sebagaimana yang di lakukan oleh Pemdes, petugas kesehatan, keamanan dll. Tokh, bukan berarti mengabaikan protokol pencegahan Covid-19.

3. Yang harus di lakukan oleh desa itu adalah karantina desa atau karantina RT/RW, karantina kesehatan, dan cek semua keadaan warganya oleh yang punya akhli pengetahuan disitu. Kemudian penuhi kebutuhan warganya soal hak-hak dasar warga. Bahkan bisa lokdown desa sesuai insiatif. Yang bisa masuk desa cukup barang kebutuhan warga yang di sentralisasi oleh pemdes, dan petugas kesehatan tidak boleh orang luar, untuk masuk karena mencegah pendemic.

4. Anggaran semua bisa di kelola oleh anggaran desa, bila mandek dari bantuan kabupeten, propinsi, dan nasional. Karena ini cukup cepat dan insiatif kadang tidak boleh patuh pada aturan anggaran, karena situasi terdesak wabah; asal tidak berlebihan dan keluar anggarannya juga harus transparan jangan tertutup.

4. Petugas kesehatan, termasuk mahasiswa yang kuliah di kesehatan harus kerja konkritnya bisa membagi tugas selain buat posko kesehatan pencegahan Covid-19, mereka harus setia-hati, suka rela abdikan pengetahuan mereka melakukan cek kepada warga masing-masing di rumah. Arahkan semua tenaga produktif orang-orang yang punya akhli pengetahuan kesehatan ini, paham betul, cek gejala keseluruhan di warga bahkan bagi tugas kalau mencukupi: bisa buat kelompok petugas 3 orang tangani 2-4 kk, setiap hari rutin cek dengan segala logistik yang tersedia agar bisa diketahui gejala apa saja yang ada kaitannya dengan corona.

5. Kalau masker itu perlu, maka cek semua keseluruhan warga berapa ratus atau berapa ribu orang dari keseluruhan jumlah warga desa (RT/RW) agar pikirkan anggaran masker bisa di penuhi harus ada semua warga dapat makser untuk dipakai dalam beraktivitas. Anggaran itu bisa langsung dari warga (hibah dan sumbangan sukarela) bisa saja kalau tidak ada uang, gunakan anggaran desa yang ada beli makser.

6. Atau bisa kreatifitas: kalau bisa insiatif buat kelompok pemuda dan mahasiswa buat masker jaitan sendiri. Bisa Kordinasi dengan tukang jahit di kampung pakai kain (beli ke toko terdekat) supaya bikin sendiri untuk kasi ke warga Desa (RT/RW).

Harapan untuk sehat ini memang harus kita jujur, bahwa kita sendiri yang melakukan itu, termasuk untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari. Negara, kapitalis, dan pemerintah justru mengabaikan hak-hak dasar kita—maka, jalan keluarnya kita harus kehendak sendiri. Salam sehat, dan terus melawan!

[zombify_post]