Kisah  

Puluhan Tahun Hidup Berkebun Duren dan Duku, Ibu Aisyah (63) Tetap Selalu Bersyukur

Puluhan Tahun Hidup Berkebun Duren Dan Duku, Ibu Aisyah (63) Tetap Selalu Bersyukur

Liputan4.com sumatera selatan – Baturaja, 20 tahun lebih tak terasa menjalani kehidupan berkebun dari berkebun buah duren, duku, kopi dan lain – lainnya. Ibu Aisyah (63) bersama Puteranya yang bernama Gan (38) saat dikunjungi awak media Liputan4.com bersama rekan – rekan lainnya di Pondoknya yang sangat sederhana tanpa penerangan listrik namun sangat mensyukuri yang selama ini dijalani demi menyambung hidup.

Puluhan Tahun Hidup Berkebun Duren Dan Duku, Ibu Aisyah (63) Tetap Selalu Bersyukur


 

Pondok panggung ukuran  3 x 4 meter yang berdiri ditengah tengah kebun, dimana dikeliling tanaman duku dan duren itu sumber ekonomi yang menopang untuk memenuhi kebutuhan hidup, meskipun harus memperoleh hasil panen setahun sekali.

Puluhan Tahun Hidup Berkebun Duren Dan Duku, Ibu Aisyah (63) Tetap Selalu Bersyukur

Aisyah (63) mengatakan, dirinya bersama suami Mat Zohir (66) sangat senang dan tenang hidup dengan berkebun, karena jiwa berkebun sudah sejak kecil atau sudah menjadi turun temurun dari orang tua dan nenek. Kebun yang terletak didaerah Tanjungan Desa Pusar Kecamatan Barat, sudah dibeli sejak 20 tahun yang lalu dari keluarga.

Puluhan Tahun Hidup Berkebun Duren Dan Duku, Ibu Aisyah (63) Tetap Selalu Bersyukur

“Senang hidup dikebun karena merasa tenang jauh dari kebisingan. Apalagi jika panen duku dan duren tiba, semua sibuk dari anak dan cucu untuk menikmati hasilnya,”kata ibu Aisyah saat diwawancarai dengan didampingi putera yang bernama Gan pada hari Senin, (17/01/2022).

 

“Alhamdulilah kalau air tidak kesulitan meski harus ke sungai dan berjalan kaki kurang lebih 20 meter. Untuk penerangan diwaktu malam, berhubung belum ada aliran listrik terpaksa memakai lampu batok dengan bahan bakar minyak tanah, yang dibeli didesa warung seberang seharga Rp.11.000 /perliter,”tutur Ibu Aisyah sambil menyuguhkan kopi duren.

 

“Hari – hari demi dijalani tidak terasa, kehidupan dikebun sangat menyenangkan. Alhamdulilah dari hasil kebun bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan ke 4 anak saya semuanya   sekarang sudah berkeluarga,”pungkas Ibu Aisyah.

Liputan4.com sumatera selatan – Baturaja, 20 tahun lebih tak terasa menjalani kehidupan berkebun dari berkebun buah duren, duku, kopi dan lain – lainnya. Ibu Aisyah (63) bersama Puteranya yang bernama Gan (38) saat dikunjungi awak media Liputan4.com bersama rekan – rekan lainnya di Pondoknya yang sangat sederhana tanpa penerangan listrik namun sangat mensyukuri yang selama ini dijalani demi menyambung hidup.

Pondok panggung ukuran 3 x 4 meter yang berdiri ditengah tengah kebun, dimana dikeliling tanaman duku dan duren itu sumber ekonomi yang menopang untuk memenuhi kebutuhan hidup, meskipun harus memperoleh hasil panen setahun sekali.

Aisyah (63) mengatakan, dirinya bersama suami Mat Zohir (66) sangat senang dan tenang hidup dengan berkebun, karena jiwa berkebun sudah sejak kecil atau sudah menjadi turun temurun dari orang tua dan nenek. Kebun yang terletak didaerah Tanjungan Desa Pusar Kecamatan Barat, sudah dibeli sejak 20 tahun yang lalu dari keluarga.

“Senang hidup dikebun karena merasa tenang jauh dari kebisingan. Apalagi jika panen duku dan duren tiba, semua sibuk dari anak dan cucu untuk menikmati hasilnya,”kata ibu Aisyah saat diwawancarai dengan didampingi putera yang bernama Gan pada hari Senin, (17/01/2022).

“Alhamdulilah kalau air tidak kesulitan meski harus ke sungai dan berjalan kaki kurang lebih 20 meter. Untuk penerangan diwaktu malam, berhubung belum ada aliran listrik terpaksa memakai lampu batok dengan bahan bakar minyak tanah, yang dibeli didesa warung seberang seharga Rp.11.000 /perliter,”tutur Ibu Aisyah sambil menyuguhkan kopi duren.

“Hari – hari demi dijalani tidak terasa, kehidupan dikebun sangat menyenangkan. Alhamdulilah dari hasil kebun bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan ke 4 anak saya semuanya sekarang sudah berkeluarga,”pungkas Ibu Aisyah.

Print Friendly, Pdf & Email