PT.Djarum Gudang Lombok, Akan Beli 4.000 Ton Tembakau Virginia Lombok FC, Dengan 706 Orang Petani Mitra.

Pt.djarum Gudang Lombok, Akan Beli 4.000 Ton Tembakau Virginia Lombok Fc, Dengan 706 Orang Petani Mitra.
Foto: Agung Sopani (kiri - Pimpinan PT.Djarum Gudang Lombok) Dan Sri Suyanto (Kanan - Humas)

Liputan4.Com – Lombok Timur, NTB – Pimpinan PT.Djarum Gudang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) Agung Sopani mengatakan pada Musim Tanam 2022 pihaknya akan membeli 4.000 ton tembakau kering dengan luas areal tanam setara dengan 2.000  hektar dengan jumlah petani mitra atau petani binaan 706 orang yang tersebar diwilayah Pulau Lombok.

“Sesuai dengan laporan kami ke Dinas Perkebunan Provinsi NTB pada Musim Tanam tahun ini, kebutuhan kami sekitar 4.000 ton tembakau kering jenis Virginia Lombok, atau setara dengan 2.000 hektar lahan pertanian yang telah sesuai dengan daftar dan telah diperifikasi pada bulan Januari dan Februari kemaren, dengan jumlah petani binaan atau mitra kami sebanayk 706 orang,” ungkap Agung di Kantornya. Jumat (03/06/2022)


Agung menambahkan dari 706 orang petani binaan PT.Djarum Gudang Lombok, ada sekitar 600 orang petani yang mendapatkan pasilitas binaan alih tekhnologi penanaman tembakau dan pasilitas kredit dan tehnis. Sedangkan yang 106 orang petani itu adalah petani swadaya murni.

“Untuk petani yang 600 orang itu telah kita support dengan alih tehnologi, dimana dari awal sudah kita lakukan pengenalan program diawal tahun, kemudian penyuluhan pembibitan dan pada akhir Mei kemaren kita lakukan penyuluhan penanaman dan pengenalan terkait cuaca,” ujarnya.

Menurut Agung informasi abdet cuaca menjadi hal yang penting pada usaha budidaya tembakau Virginia, agar petani lebir prifair dalam menjalankan usahanya, diantaranya apa yang harus dilakukan oleh petani ketika mereka sudah mendapatkan informasi cuaca.

Bentuk lain dari tanggung jawab PT.Djarum dalam kemitraannya dengan petani binaan adalan penyediaan Saprodi(Sarana Produksi) seperti pupuk dan obat-obatan serta benih unggul supaya petani mendapatkan hasil yang maksimal.

“Untuk tahun ini saprodi berupa pupuk sedikit terkoreksi atau mengalami pengurangan untuk jatah petani, disebabkan karena harga pupuk yang terus naik, karena kita di Djarum terbiasa memakai pupuk Fertila dan KNO3 yang saat ini naik 30 – 40 persen,” ungkap Agung.

Untuk mengatasi pengurangan jatah pupuk tersebut pihaknya telah menginformasikan kepada petani binaannya untuk melakukan pembelian pupuk tambahan secara mandiri agar dosis pupuk per hektar dari lahan pertanian tembakau dapat terpenuhi.

“Karena kami tahu dari jatah pupuk yang kami berikan tidak cukup untuk dosis per hektarnya, maka kami sampaikan kepada petani, berapa kekurangan dari jatah yang kami berikan untuk dosis satu hektar itu, maka kekurangan itulah yang harus diadakan secara mandiri oleh petani agar dosis kebutuhan pupuk per hektar dapat terpenuhi,”terang Agung.

Sedangkan ketika ditanya soal banyaknya pembeli liar tembakau kering Virginia Lombok yang datang saat musim panen tiba,bawa dacin dan uang. Agung mengatakan persoalan itu regulasinya sudah ada, dan diatur dengan Perda dan Pergub NTB Nomor 2 tahun 2007. Dimana setiap perusahaan yang berkeinginan untuk mendapatkan tembakau Virginia Lombok diharuskan untuk melakukan kemitraan atau membina petani tembakau.

“Persoalan itu kan sudah ada Perda dan Pergubnya, hanya kalau ada pembeli liar saat panen tiba, maka itu akan merusak harga pasar tembakau, dan kalau itu dibiarkan oleh pemerintah, maka tidak menutup kemungkinan perusahaan yang sudah berinvestasi besar, bermitra dengan petani, bangun gudang dan mempekerjakan penduduk local akan berpikir kenapa harus bina petani, kalau pada akhirnya kita bebas melakukan pembelian tembakau pada saat panen,” keluh Agung.

Sementara itu Ketua APTI (Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) NTB,Sahminuddin saat dikonfirmasi Liputan4.Com terkait banyaknya pembeli liar tembakau saat panen tiba mengatakan, hal itu tidak boleh terjadi karena dalam Perda NTB Nomor 4 Tahun 2006 dan Pergub NTB Nomor 2 Tahun 2007 sudah jelas dikatakan, Semua pihak yang membeli tembakau Virginia FC  di NTB harus bermitra. Prinsip kemitraan itu saling membutuhkan dan saling menguntungkan serta berkesinambungan.

“Perusahaan liar sangat merugikan banyak pihak diantaranya mereka tidak bayar pajak (PPH), tidak bayar retribusi, menyebabkan tidak semua tembakau NTB terdata, dan mereka membeli tembakau petani dengan harga semaunya,”pungkas Sahminuddin. (red)

Print Friendly, Pdf & Email