Program Tim Detektor Penuh “Cibiran Warga Dan Masalah”

Reporter: Radaksi L4.com Kategori: Jendela Birokrasi, Pemerintahan, Peristiwa
  • Bagikan

Program Tim Detektor Penuh “Cibiran Warga Dan Masalah”

Liputan4.com, Makassar-Program Pemerintah Kota Makassar Tim Detector, yang bertujuan bagaimana mencegah dan mendeteksi penyeberan Virus Corona-19 di masyarakat kota makassar, Tim Detector Yang di Lauching pada hari jumat 2/7/2021, sebanyak 15,306 orang yang terbagi 10.000 relawan, 5.000 tenaga kesehatan, 306 Dokter.

Pada hari sabtu tanggal 10/7/21 Tim Detektor dengan serentak turun di 5.000 RT dan sambangi rumah-rumah warga, (dor-todor).
Dalam pelaksanaan Tim Detector diperkiran rampung salama 3 (tiga) hari.

Tak disangka mulai dari launching Program Tim Detector sudah penuh dengan kritisi warga masyarakat kota makassar sampai dengan anggota dprd kota maskassar’pun terut mengkritisi hal kerumunan yang terjadi saat launching di lapangan karebosi, dan terekpos di beberapa media.

Belum dinginnya kiritisi warga tentang krumunan dari Launching tim Detector, kantor walikota makassar di rundung 24 jajarannnya positif covid-19 dan 1 orang meninggal dua karna covid, sehingga kantor walikota harus Lockdown, dengan Surat Edaran (SE) Nomor.060/415/ORG/VII/2021, Pertanggal 8/7/2021.(Balaikota Makassar Diberlakukan pada sampai tanggal, 15 /7/2021.

Ditanggal 11 Juli 2021, sontak mengagetkan warga makassar dengan pernyataan Walikota Makassar, bahwa akan memecat cemat dan lurah di kota makassar, lakukan penyebaran  pernyataan provokatif yang sangat meresahkan di masyarakat kota makassar,  ” Mengajak Orang Lain Untuk Tidak Perlu Mendukung Program Pemerintah Dalqm Penangan Covid-19″ jelas walikota makassar.

Entah “kemalangan” apa yang terjadi di pemeritahan Walikota Makassar, yang di Pimpin DP.

Tak disangka di hari pertama Tim Dectektor Turun kelapangan banyak warga yang bidak tau program ini, malah ada warga yang menolak sabtu, (10/7/21), sehingga, walikota makassar mengeluar pernyataan, bahwa

Warga Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang menolak pemeriksaan kesehatan oleh Tim Detektor Covid-19 secara door to door terancam tak mendapat fasilitas pelayanan publik.

Hal itu dipertegas Wali Kota Makassar Moh. Ramdhan “Danny” Pomanto bahwa warga yang menolak pemeriksaan detektor bisa saja nantinya akan menyesal.

Danny menjelaskan, saat Tim Detektor turun melakukan pemeriksaan, mereka akan mencatat  status kesehatan warga yang diinput melalui QR Kode. Bagi yang menolak, tak akan mendapatkan QR Kode tersebut

“Tidak apa-apa kalau menolak, tapi jangan juga sesalkan kita, kalau kau tidak dapat QR Code. Kan kita gerakan ini untuk dia ji, kalau tidak mau tidak usah,” jelas Danny di kediamannya Jalan Amirullah, Makassar, Senin (12/7/2021).

Danny memaparkan bahwa nantinya QR Code ini memiliki fungsi agar warga bisa menikmati  pelayanan dari pemerintah. Layanan tersebut seperti fasilitas perekonomian di Mal dan lainnya di Makassar.

“Ini kan untuk mereka, bukan untuk kita. Artinya dia menolak diberikan QR Code, jadi mereka menolak dilayani oleh Pemkot. Termasuk dia sakit, tidak dilayani KIH, dan semua yang menolak sudah ada semua namanya. Barcode ini untuk banyak hal, misalnya masuk fasilitas, harus ada QR Codenya, bahkan untuk masuk mal harus ada,” tutur Danny.

“Jadi kalau tidak mau tidak apa apa. Kita syukur juga, tugasnya jadi ringan. Intinya jangan menyesal, kalau mereka tidak bisa urus apa-apa di pemerintah kota kalau tidak punya QR Code, ituji,” sambungnya.

Saat berita ini di tayangkan l, walikota makassar beserta dengan jajaran, melakukan rapat evaluasi sejak terbentuknya dan turun kelapangan tim detector, secara virtual, di kediaman pribadi, 12/7/21

Print Friendly, PDF & Email
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Suka
Waww
0
Waww
Haha
0
Haha
Sedih
0
Sedih
Lelah
0
Lelah
Marah
0
Marah
  • Bagikan