Penembakan di Mabes Polri Merupakan Tantangan Terbuka Dari Kelompok Radikal Kepada Bangsa/Negara RI

  • Bagikan
Penembakan di Mabes Polri Merupakan Tantangan Terbuka Dari Kelompok Radikal Kepada Bangsa/Negara RI

Liputan4.com || Jakarta – Terjadinya Penembakan oleh seorang wanita muda yg teridentipikasi bernama Zakiah Aini membuat terkejut seluruh masyarakat Di Republik ini. Pertama2 Kami turut Prihatin atas Kejadian tsb. Dan ini merupakan kejadian yg Ketiga Golongan Radikal Beraksi Di Markas Besar Kepolisian.

(1).Pertama pemboman gedung Bhayangkari , Yg kedua Penyanderaan di Mako Brimob dan yg Ketiga saat ini Penembakan ruang jaga Mabes Polri. Hal ini perlu disikapi sangat2 Serius oleh Polri dan seluruh elemen Bangsa. Karena dg terjadinya hal tsb menunjukan satu bukti yang nyata2 di depan mata bahwa
Mabes Polri saja sudah berani diserang secara terang2an, artinya mengisyaratkan kelompok mereka sudah berani menantang Polri sampai disartroni kekandangnya , menantang Polri sbg Aparat Negara utk perang secara Terbuka.

(2).Kedua mengindikasikan bahwa Kelompok Radikalisme & Terorisme ini sudah masif mengakar dan menyebar ke segala arah & lapisan, tua muda, laki2 perempuan, bahkan Terbukti pelaku penembakan ternyata seorang wanita yg masih muda baru berumur 26 tahun.

(3).Ketiga Menunjukan Lemahnya Standar Oprasional Sistem Keamanan Markas komando di Mabes Polri. Artinya setingkat mabes Polri saja , ada orang bawa senjata sampai tidak terditeksi, dan inipun bisa juga sbg sebuah pesan, satu pelecehan terhadap Marwah harkat dan wibawa Mabes Polri. Ternyata Mabes Polri saja Sbg Rajanya Polri sistem keamananya begitu mudah ditembus & ditaklukan.apalagi ditempat lain.

(4).Keempat sangat prihatin dg teknik dan taktik Penanganan dlm melumpuhkan Penyerang.seharusnya bisa dilumpuhkan dan di tangkap Hidup2 sehingga bisa dikorek keteranganya utk menggali dari kelompok mana dan siapa dalang yg menggerakan di balik semua ini. Dg Tewasnya Pelaku yg memang sengaja di pasang seorang wanita memberi pesan juga seolah2 Polri bertindak tidak Profesional dan telah Membunuh seorang wanita. Hal ini justru yg sangat diharapkan oleh kelompok radikal tsb utk mengundang Simpati agar masyarakat Dunia mencemoohkan Polri.

(5).Kelima ada kesan sbg satu mediodrama aksi balas Dendam tertembaknya anggita FPI ???.
Apapun juga yg terjadi dg adanya Perustiwa ini , menunjukan bahwa Kelompok Radikal sudah ada di titik Zona Lampu Merah. bukan hanya utk Polri tapi utk seluruh masyarakat dan Bangsa Indonesia. Untuk hal ini tidak bosan2nya kami ingatkan mari kita buka mata dan hati kita dg jernih, bahwa musuh kita sudah ada di depan mata. mari kita lawan bersama. Dan saat ini lah kita betul2 harus kompak menabuh genderang utk melawan kelompok radikal ini dg super serius. Kikis habis sampai ke akar2nya. Sejalan denga Pesan Presiden RI pak Jokowi. Beberapa waktu yang lalu.

Karena kalau tidak dikikis habis setiap saat pasti akan terus Merongrong dan merongrong bangsa dan Negara ini dg segala cara. ibarat penyakit sudah jadi penyakit Kronis. Bahkan saat ini kelompok radikal tersebuy, bukan hanya sebagi penyakit tapi sudah jadi Habitus Kronis di Indonesia.

Kemudian mohon Waspadai juga Keamanan internal Polri. Tidak menutup Kemungkinan di tubuh Polripun Sudah Terpapar Gerakan ini. Karena gerakan ini kita amati sudah begitu masif masuk kesegala lini.

Salah satu alternatif solusinya, Penanganan masalah ini bukan hanya bersipat operasi lapangan secara phisik saja, tapi Gerakan ini lebih kpd Indoktrinasi secara Iedologi .maka cara memerangi dan Mengantisipasinya pun harus dg War Iedologi. Perang Iedologi secara Masif dan terstruktur.karena merekapun bila kita amati sudah melakukan indoktrinasi2 secara masif dan terstruktur ke segala lini tidak tekecuali mahasiswa .dosen BUMN.ASN dan lain-lain .bahkan TNI POLRI tadi kami sampaikan tidak menutup kemungkinan sudah ada yg terpapar. Jika TNI Polri sudah Terpapar pertanda Negara akan mengalami Sakit Kronis yg Panjang.Salah satu upaya yg pernah dilakukan utk antisipasi War Iedologi ini , kami pantau pernah dilakukan oleh Polda Jabar pd thn 2017 dg mengadakan Sawala Kebangsaan, ( semacam pelatihan singkat camping out bond, selama 3 hari namun khusus masalah radikalisme dan intoleransi ) dg mengikut sertakan elemen inti kader2 masyarakat, mulai dari kader tokoh2 central kelompok LSM. Ulama Dai Kamtibmas. Akhli2 IT. Dosen Mahasiswa Budayawan dll. agar sadar arti penting bahaya radikalisme. Karena utk menangani masalah ini sbg mana kita sadari bersama bukan hanya tanggung jawab Polri semata, tapi harus menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat, POLRi tidak bisa Bekerja sendiri. Mutkak Harus dibantu seluruh elemen masyarakat . Namun baru 3 kali dilaksanakan tidak sempat Berlanjut karena pola ini membuat gerah & Ketakutan kelompok2 Radikal.

Dan seperti biasanya mereka melakukan Pembusukan2 Hoax, dll thd upaya2 yg pernah dilakukan Polda Jabar tsb. Sehingga pola yg dilakukan Polda jabar ini , mendapat respon kurang Positip baik dari pihak internal maupun dari Mabes Polri sendiri.

Maka dg adanya Kejadian ini Semakin Banyak PR Polri di awal tahun 2021 ini. Lalu Apakah semua peristiwa yg terjadi akhir2 ini ada keterkaitan satu dg yg lainya? Mulai dari Tertembaknya anggota FPI, Sidang HRS , Pemboman Makasar. Ledakan Pertamina Balongan. dan sekarang Penembakan Mabes Polri. PR besar Polri dan PR yg harus kita jawab Bersama

Masih akan Munculkah aksi2 lain yg akan terjadi ? , Insya Allah Dg Kebersamaan POLRI TNI dan seluruh elemen masyarakat semua akan teratasi , dan Semoga kejadian Penembakan Penjagaan Mabes Polei ini ; merupakan yg Terakhir dari yg terakhir..

Sumber:DR H Anton Charliyan MPKN.

Print Friendly, PDF & Email
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Suka
Waww
0
Waww
Haha
0
Haha
Sedih
0
Sedih
Lelah
0
Lelah
Marah
0
Marah
  • Bagikan
HARITA NICKEL