Muaradua Oku Selatan Liputan 4 com .– Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang digelar pada Rabu, 27 November 2024, menyisakan riak besar di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan. Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati nomor urut 2, Iwan Hermawan dan M. Faisal Ranopa (INOPA), melancarkan serangan tajam terhadap proses pemilu yang dinilai penuh dengan pelanggaran serius.
Dalam konferensi pers Sabtu malam, 30 November 2024, tim pemenangan INOPA secara terbuka menuding adanya manipulasi sistematis yang melibatkan berbagai pihak. Mereka tidak hanya melaporkan dugaan pelanggaran ke Bawaslu Kabupaten, tetapi juga mendesak Pemungutan Suara Ulang (PSU) di seluruh 688 TPS di wilayah tersebut.
Dugaan Pelanggaran yang Menggegerkan
Tim INOPA menyebutkan tiga poin utama dalam laporannya:
1. Pencoblosan Ganda: Terdapat dugaan pemilih melakukan pencoblosan lebih dari sekali di beberapa TPS, terutama di Desa Napalan, Kecamatan Buay Pemaca.
2. Keterlibatan ASN dan Kepala Desa: Belasan ASN dan kepala desa di 12 kecamatan diduga terang-terangan mendukung pasangan calon tertentu, melanggar asas netralitas.
3. Intimidasi Pemilih: Pemilih diklaim mengalami tekanan psikologis dengan ancaman pencabutan bantuan sosial, seperti PKH, jika tidak memilih calon tertentu.
Ketua Tim Pemenangan INOPA, Aljuandi, memastikan bahwa laporan mereka didukung bukti kuat, termasuk saksi-saksi yang siap memberikan keterangan. “Kami tidak hanya meminta penyelidikan, tetapi juga PSU sebagai solusi atas kecurangan ini,” tegasnya.
Bawaslu Diminta Tegas
Komang Wardiasa, Kordiv Penanganan Pelanggaran dan Datin Bawaslu OKU Selatan, memastikan bahwa laporan INOPA sudah diterima dan akan diproses secara serius. “Penyelidikan ini adalah ujian bagi integritas demokrasi kita. Kami meminta semua pihak bersabar dan menjaga situasi tetap kondusif,” ujarnya.
Namun, langkah Bawaslu dinilai sebagai pertaruhan besar. Jika dugaan ini terbukti, bukan hanya PSU yang bisa terjadi, tetapi juga potensi pengusutan pidana pemilu terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Reaksi Publik dan Ketegangan Politik
Laporan ini memicu respons beragam di masyarakat. Pendukung INOPA mengaku kecewa dengan proses pemilu yang dianggap tidak adil, sementara pendukung pasangan lain membantah tuduhan tersebut sebagai upaya delegitimasi hasil pemilu.
“Jika ini dibiarkan, kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi akan runtuh,” ujar salah seorang pendukung INOPA yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, situasi di OKU Selatan kian memanas. Pendukung pasangan calon diimbau menjaga ketertiban dan tidak terprovokasi isu-isu yang dapat memecah belah.
Akankah PSU Terjadi?
Permintaan PSU ini menjadi sorotan utama. Jika Bawaslu memutuskan untuk melakukannya, maka ini akan menjadi babak baru dalam sejarah pemilu OKU Selatan. Namun, jika ditolak, tak menutup kemungkinan kasus ini berlanjut ke Mahkamah Konstitusi.
Hasil investigasi Bawaslu kini menjadi penentu arah demokrasi di Bumi Serasan Seandanan. Semua mata tertuju pada lembaga pengawas pemilu untuk memberikan keadilan dan transparansi yang dinanti-nantikan publik. Tutup.













