Pemda Maros Siapkan Anggaran 63 Miliar Untuk Menekan Angka Stunting

Pemda Maros Siapkan Anggaran 63 Miliar Untuk Menekan Angka Stunting

Liputan4.com MAROS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros melalui Dinas Kesehatan tengah mengupayakan program untuk menekan angka stunting yang saat ini masih cukup tinggi.

Berdasarkan data terakhir Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, terdata sebanyak 4.434 atau 14.94 persen dari 29.685 balita yang mengalamui stunting di tahun 2022.


Jumlah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada 2021, penyakit gagal tumbuh pada anak akibat akibat kekurangan gizi itu hanya 2.892 atau 9.47 persen dari 30.584 balita yang diperiksa.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maros, Muhammad Yunus mengatakan, Pemkab Maros berkomitmen memperbaiki permasalahan gizi bagi anak di Maros.

“Salah satunya dengan melakukan rembuk stunting selanjutnya akan menjadi dasar dalam gerakan penurunan stunting di Kabupaten Maros,” katanya, Kamis, (23/6/2022).

Tingginya angka stunting di Maros, kata Yunus, berdasarkan dugaan awal, karena beberapa masyarakat masih belum memilik sanitasi yang baik.

“Karena akses sanitasi perlu ditingkatkan khususnya kepemilikan jamban karena merupakan potensi resiko untuk stunting,” bebernya.

Angka tersebut dinilai Yunus cukup tinggi sehingga ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian semua pihak untuk penanganannya.

“Komitmen dan kolaborasi bersama pemerintah, swasta, organisasi dan masyarakat untuk mendukung percepatan penurunan stunting,” katanya.

Kemudian melakukan komunikasi, edukasi, informasi dan intervensi terhadap sasaran stunting.

“Memperbaiki pencatatan dan pelaporan disemua level tingkatan mulai tingkat dusun lingkungan sampai tingkat kabupaten,” katanya.

Sementara itu, Bupati Maros, Chaidir Syam, mengatakan Pemkab Maros akan terus memastikan keberlangsungan pelaksanaan rencana kegiatan intervensi pencegah dan penurunan stunting.

Alumni Ilmu Pemerintahan Unhas itu mengatakan upaya penurunan stunting memerlukan intervensi yang terpadu, mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif.

“Intervensi gizi spesifik merupakan kegiatan yang langsung mengatasi terjadinya stunting seperti asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular, dan kesehatan lingkungan. Sedangkan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung,” jelasnya, saat membuka Rembuk Stunting 2022 di Grand Town Mandai.

Pihaknya pun berencana meningkatkan anggaran pencegahan stunting di Maros pada tahun 2022.

“Tahun 2021 anggaran untuk pencegahan stuntung sekitar Rp 45 miliar. Kami berencana meningkatkan anggaran pencegahan menjadi Rp 63 miliar,” tutupnya

 

Print Friendly, Pdf & Email