OPINI: Masihkah Ada Tanda Kemerdekaan?

Masihkah Ada Tanda Kemerdekaan?

Oleh: Ermansyah R Hindi)*

Muat Lebih

Mungkin kita sedang tidur pulas, berbelanja, menonton, bercerita, bersolek, bekerja, atau merenung akan pelintasan batas-batas dan pengulangan peristiwa. Di tempat lain, orang-orang melibatkan dirinya untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di setiap 17 Agustus.

Setelah itu, hari-hari dimana orang-orang menjalani dengan langkah demi langkah, suatu momen dengan seluruh ingatan terhadap pelintasan batas-batas dan pengulangan perayaan Hari Kemerdekaan akan mengakhiri suara tidak terekam dan tidak tertulis dari setiap peristiwa yang luar biasa. Teks-teks kehidupan dan pemikiran selalu ada sebagai tanda yang beragam dan menyebar di sekitar kita tanpa kecuali Hari Kemerdekaan.

Pelintasan batas-batas dan pengulangan perayaan memisahkan dirinya dengan teks tertulis yang dilintasi buku Menuju Merdeka 100 %, sebuah karya Tan Malaka membuat titik tolak pengaruh yang tidak kadaluarsa dari tanda yang menandai permulaan sama sekali tidak kita bayangkan sebelumnya. Permulaan itu bukanlah permulaan kosong dan baru. Kisah heroik bukanlah jenis manusia langkah, mereka adalah pelintas batas-batas dan penziarah bagi bayang-bayang masa depan. Ia tidak lagi menghentikan perjalanan yang merintangi di hadapannya menuju ‘pertukaran tanda ritual perayaan’ yang meriah dan boros. Tatanan epik tidak datang pada kita tatkala orang bepergian melintasi jejak-jejak perbedaan yang telah digariskan untuknya dengan jalan meletakkan kembali jalur pelintasan dan pengulangan baru. Dari hal-hal yang berbeda dan beragam seperti tanda, bentangan teks yang singkat, suatu kata yang ia ambil tidak dari paragraf atau kalimat demi kalimat terbuka sebuah naskah. Perlintasan batas-batas dan pengulangan perayaaan itu diringi dengan sebuah teks lagu Indonesia Merdeka dari sosok Hussein Al Muthahar yang menciptakannya. Seluruh eksistensinya akan membawa teks perjuangan bersama bahasa, nyanyian kematian yang menggebu dan jejak-jejak lainnya mengikuti halaman per halaman memiliki ketidakjarakan dengan ingatan dan imajinasi kita. Suara jeritanlah tidak bergema saat itu, karena ungkapan performatif kemerdekaan tidak lagi merupakan kata-kata yang saling menjalin dan saling menopang antara satu dengan lainnya. Tanda-tanda yang mereka ingat tidak mampu lagi ditarik ke depan sebagai teks tertulis (novel, syair lagu, buku sejarah dan ilmu pengetahuan lainnya) yang mengembara ke jagat tanda bersinggungan dengan benda-benda. Setiap sepak terjang dari pelaku sejarah yang gagah berani tidak pernah merampungkan episode petualangannya tiba-tiba berubah menjadi tanda-tanda, dimana mereka menukarkan jejak-jejak (dari ingatan ke buku, dari naskah cerita novel-buku ke film) yang titik tolaknya masih tetap sebagai teks tertulis.

Namun demikian, perayaan atau peringatan Hari Kemerdekaan yang kita dambakan menjadi bermakna hanyalah pengulangan peristiwa berlangsung secara hikmat sekaligus maknanya berangsur-angsur menguap tanpa meninggalkan jejak-jejak perubahan. Saat ia menyerupai kata-kata atau teks, dimana ia adalah benda-benda, reprensentasi dan bukti yang melengkapi tanda yang nyata padanya. Ia bukan lagi melengkapi bukti-bukti yang telah ada, kecuali tanda yang pasti menyediakan pelintasan batas-batas dan pengulangan tanpa mengatakan kebenaran sedikitpun. Mengapa demikian? Bahwa seluruh jejak yang mereka tinggalkan, teks dan tanda, penanda dan petanda terdapat celah-celah dari setiap pelintasan batas-batas dan pengulangannya memungkinkan seluruh makna di dalamnya telah lenyap ditelan oleh bahasa logis dunia.

Teks-teks pengetahuan tentang narasi kemerdekaan tidak memperhitungkan lagi ada atau tidak ada makna. Penyebaran dan pelenyapan makna-makna baru tidak bergantung lagi pada titik ketidakstabilan makna diantara penanda dan petanda yang masing-masing memproduksi dirinya sendiri. Penyebaran makna melalui peringatan Hari Kemerdekaan bersifat terbuka dan bebas, bukan bersifat tetap dan stabil. Ada seorang memaknai Hari Kemerdekaan sebagai kesia-siaan. Karena itulah, makna teks Proklamasi Kemerdekaan tidak berada dalam teks, melainkan hasil pembacaan secara individual dan sosial. Teks selalu menantang bahaya, melawan tanda zaman dan saling berinteraksi dengan kondisi ketidakterputusan tatkala lintasan dari tatanan tanda dan teks telah membebaskan dirinya dari ketransendenan pemikiran. Permulaan tema dan topik kemerdekaan merupakan satu wilayah bekerjanya sisi tekstual yang berbeda. Jika kita memperhatikan pergerakan yang terus-menerus tanpa berakhir bukan hanya sebagai tanda dirinya sendiri tanpa permulaan absolut, tetapi juga penerimaan tanda-tanda yang memisahkan bacaan atas teks lainnya.

Kisah epik yang nyata diwariskan pada masa depan anak-anak bumi, dimana makna teks tertulis dari Proklamasi yang dibacakan dan diucapkan kembali setelah mengajukan mereka pada pemikiran menjadi kata-kata atau kalimat mengasingkan dirinya, tanpa arus untuk melintasi kedalaman yang kosong dari maknanya. Pergerakan yang terus-menerus tanpa berakhir dari tanda-tanda akan menjadi titik pembebasan dunia di tengah realitas tanda tanpa isi dan pesan dari teks pengetahuan tentang makna kemerdekaan. Setiap arus tanda-tanda yang menyelesaikan kalimat demi kalimat, halaman demi halaman dari teks tertulis (buku, novel) tidak lagi menjadi pusat ungkapan banyak orang bagi jejak-jejak lainnya, tetapi dari perbedaan dan pertukaran tanda yang terbuka dan menyebar. Roland Barthes, Derrida, Foucault, Delueze hingga Umberto Eco menawarkan pada kita suatu tulisan di atas tumpukan debu bacaan atas teks melalui tanda-tanda dalam realitas. Setiap teks Proklamasi Kemerdekaan memiliki kuasa dibentuk tanda-tanda bahasa, sehingga ia terpisah dari pergolakan fiksi yang mereka tampilkan. Penyebaran dunia tanda diselingi teks dengan kata-kata dan benda-benda saling mengisi kekosongan dan saling menopang antara satu sama lainnya. Teks Proklamasi Kemerdekaan seakan-akan telah terputus dari dunia tanda atau realitas setelah ketidakhadiran teks tunggal, dalam pemikiran kita akan menarik kembali dirinya untuk keluar dari obyek narasinya. Belum berakhirnya catatan atau jejak pengembaraan sang pahlawan karena ia ditafsirkan ulang dengan makna awal yang kosong, kecuali pergerakan tanda ke tanda baru tanpa keterlibatan teks lainnya.

Sebagaimanan teks tertulis masih setia pada tanda, mimpi dan fantasi akan menemui ruang kemerdekaan, dimana sekarang masih sebagai jejak-jejak petualangan nan heroik. Tetapi, teks lenyap tidak berarti tanda ikut menghilang dalam realitas. Sebaliknya, tanda menghilang berarti makna teks turut mengalami kekosongan isi dan dirinya sendiri; ia menandai bahasa (lisan, pesan) yang direpresentasikan juga lenyap kekuatannya. Tanda serta merta kembali mengumpulkan kekuatannya demi kata-kata atau teks tertulis yang terlepas dari realitasnya sendiri.

Kembali pada kekuatan tanda menurunkan ‘kelenyapan kedalaman’ yang menandai celah antara teks dan makna, realitas dan realitas baru, penanda dan petanda. Penulisan teks semakin mendekat dan makna mengambil arah pembalikan menuju kekosongan isi, tanpa kemiripan dan tiruan yang disalurkan. Boleh dikata, bahwa penulisan teks tentang Hari Kemerdekaan menunggu pembalasan dari penggila tulisan. Tatkala tanda lenyap, ia muncul menjadi tanda baru untuk mengisi kekosongan makna teks kemerdekaan. Hanya saja, kita masih melihat perayaan atau peringatan Hari Kemerdekaan mengandung celah:

(1) Hubungannya dengan teks-teks seremonial ditandai dengan rangkaian perayaan atau peringatan. ‘Pengulangan tanda’ perayaan kemerdekaan tidak dipisahkan dengan simbol diantara ritual upacara melalui pergerakan tanda-tanda bahasa, dari anak-anak ke orang dewasa, dari pemerintahan pusat menuju pemerintahan daerah, dari kota ke desa. Setelah teks-naskah Proklamasi Kemerdekaan dibacakan seantero dunia menjadi ‘arsip’ sebagai teks tertulis tidak lebih dari suatu ‘ungkapan performatif’, dimana Derrida telah memikirkan melalui tulisan tentang kemunculannya (1988: 15-19, 58, 86-87). Ungkapan performatif dimaksud agak berlebihan apabila dihadirkan dari persfektif Keindonesiaan. Berkenaan dari ungkapan performatif merupakan pergerakan citra bahasa melalui ujaran performatif menjadi suatu ungkapan performatif, dimana tujuan dari tindakan perayaan-peringatan Hari Kemerdekaan secara serimonial berada dalam tatanan simbolik hanya dikelilingi dunia tanda. Setiap tanda keluar dari produksi dan penyebaran kebenaran dari kepalsuan yang khas, baik kemampuan performa maupun efek yang memproduksi celah bahasa yang tidak masuk akal.

Kata lain, bahwa kegegap-gempitaan ritual kebangsaan, kemeriahan dari perayaaan Hari Kemerdekaan dan rangkaian-rangkaian menyertainya terlepas dari tujuan tindakan yang mengilustrasikan bahasa tanpa efek terhadap penyebaran kebenaran dari kepalsuan. Penyebaran kata-kata, akhirnya terjatuh dalam kekosongan isi dan makna dari peristiwa perayaan kemerdekaan. Ia akan merahi makna kembali sejauh konteks peristiwa yang menopang dan menguasainya melebihi teks-teks lainnya yang ditandai dalam pemikiran. Sesuatu yang tidak mewaspadai konteks peristiwa termasuk peristiwa tanda tangan atau penandaan berupa nama termuat dalam teks Proklamasi Kemerdekaan RI masih tetap menjadi kekosongan makna’ dari ungkapan performatifnya. Kita masih membayangkan konteks peristiwa perayaan kemerdekaan ternyata memiliki kemiripan konteks lain dalam perbincangan yang cukup menarik. Anda begitu fasih melafalkan dirgahayu Hari Kemerdekaan, persis bagaimana saya mengucapkan selamat mengarungi bahtera rumah tangga pada kedua mempelai, pria dan wanita dalam acara seremonial pernikahannya. Disitulah kata-kata diluncurkan dalam dunia tanda, melebihi ungkapan yang permanen. Tanda memberi makna teks yang tidak stabil. Mereka merupakan suara jeritan tersendiri keluar dari tanda yang dipadatkan, tidak bergantung pada ungkapan performatif yang ia buat sendiri.

(2) Hubungannya dengan konteks perisitiwa penandaan tanpa ketergantungan pada kata-kata diungkapkan, melainkan tanda-tanda yang mengkonstitusi seluruh ungkapan. Dalam hubungannya dengan perayaan Hari Kemerdekaan bersifat seremonial dibedakan pula dari logika pengulangan atas permukaan dipertontonkan melalui perlombaan dan jenisnya. Setiap perlombaan dengan ritual tersendiri dianggap memiliki makna seperti penderitaan akibat penjajahan, sulitnya untuk mendapatkan hak pemenuhan pangan dan sandang, peristiwa pembatasan hak berbicara bertumpang tindih dengan pembentukan solidaritas melawan penjajahan. Anehnya, seluruh makna muncul dibalik perlombaan sebagai teks nampaknya disimulasi melalui media sosial; ia memiliki keterkaitan dengan obyek pengetahuan berubah menjadi tanda kelucuan. Memudarnya esensi kemerdekaan menandai kematian makna yang tercekik antara teks dan konteks peristiwa menampilkan rangkaian narasi dan diskursus, perbedaaan dan identitas, kehidupan dan pemikiran. Bagaimana cara kita sekarang untuk membebaskan diri dari lingkaran teks dan konteks peristiwa perayaan kemerdekaan? Tanda yang jelas ditandai oleh diskursus terjadi dalam perlombaan untuk memperingati Hari Kemerdekaan. Dua jenis perlombaan, diantaranya:

“Si A berbicara. Anak-anak menjulurkan mulutnya ke atas dengan tangan diikat di belakang. Merebut kerupuk hingga ludes. Lalu di tempat lain, gerombolan anak-anak muda tanggung juga berebut mengambil koin dalam tepung melalui mulut. Ada tangan mereka juga terikat di belakang. Si B menimpali. Demikian pula di sebagian kampung lainnya. Lomba mengambil koin dengan mulut pada buah kates tergantung. Buah itulah berlumur minyak dan arang hitam. Lagi-lagi tangan mereka juga diikat ke belakang”.

Disanalah konteks peristiwa penandaan sebagai ungkapan ganda, yaitu ungkapan retoris dan ungkapan performatif muncul di tengah peringatan Hari Kemerdekaan, yaitu kemerdekaan tanpa kebebasan dan kemerdekaan tanpa kemerdekaan yang berlindung di belakang kedaulatan negara. Kulit wajah kita pun diwarnai merah putih bersama bendera merah putih ditunjukkan di dasar laut dan di puncak gunung yang melintasi cara berpikir kita sendiri. Kita mengetahui, bahwa tanda-tanda dan permukaan membebaskan diri dari kedalaman makna menjadi simbol-simbol kebangsaan yang dimainkan sebagai kata-kata atau ungkapan, pernyataan dan identitas: bendera, busana, topi, tarian, dan sebagainya.

(3) ‘Penanda ironi’ dan permainan paradoks memiliki keterkaitan dengan gambaran peristiwa, menampilkan alur keterbalikan pengulangan perayaan. Satu sisi, penghargaan atas perbedaan atau keragaman berlawanan dengan pandangan dan sikap intoleransi, kedamaian berbeda kekerasan menyisakan tanda tanya besar. Pada sisi lain, pengulangan dan penyebaran tanda mengambang bebas dalam realitas akan mengaburkan makna teks sesungguhnya dengan menopengi kemiskinan dan ketidakadilan lainnya melalui bentuk seremonial-upacara. Sebagaimana ditunjukkan setiap tahun melalui pelaksanaan upacara formal dari rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan dilihat dari tanda-tanda paradoks ditandai dengan (a) teks tertulis Proklamasi ditandai: Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia …… Kata-kata dari “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan”, tetapi sepenuhnya bangsa dan negara kita belum berdaulat terutama dari bidang ekonomi politik. Mengapa kita masih melihat ekonomi mengalami ketergantungan pada pihak asing padahal kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah. Apalagi kita masih tetap menyatakan, bahwa ada alasan kemampuan sumber daya manusia masih rendah dan pemerintahan salah urus dalam pengelolaan sumber daya; (b) Penanda penjajah dalam bentuk penjajahan, berarti masih ada penindasan di atas permukaan dan di bawah permukaan. Apakah kita telah terbebas dari ketidakadilan sehingga kita tidak lagi menyaksikan kedalaman kesenjangan sosial dan diskriminasi hukum? Apakah kita sungguh-sungguh merdeka dari penipuan massal atau pembodohan rakyat? Dari titik tolak itu, tanda kemerdekaan berarti teater kejujuran dan parodi keadilan yang berbicara pada dirinya sendiri.

Sejarah kita sekarang sesungguhnya adalah sejarah kemerdekaan ‘tanpa kata-kata kemerdekaan’ dan ‘tanpa ilusi kebebasan’; dan (c) Penanda ironi menandai bagaimana cara kita selanjutnya untuk menghindari ‘pengulangan perayaan (kemerdekaan)’. Filsuf dan sejarawan tidak jarang menggunakan kata-kata sejarah pemikiran yang digambarkan ulang kekuatannya, maka setiap konsep yang diproduksi adalah bagian dari mata rantai ‘diskursus’ kepahlawanan dan petualangannya yang eksentrik kadangkala bertentangan dengan ‘logika baru dari pengulangan’. Seluruh pergerakan penanda ironi dibalik tanda kemerdekaan menyatu dengan logika pengulangan retorika ‘kemerdekaan untuk semua dari ketidakmerdekaan. Siapakah yang menikmati kemerdekaan? Lapisan masyarakat apakah yang menjaga toleransi? Siapakah yang menumpuk kekayaan dan memperkaya diri? Sejauh manakah mayoritas melindungi minoritas? Mampukah kita memberantas korupsi yang merajalela hingga ke akar-akarnya? Semuanya itu menjadi tanda tanya besar’ bertubi-tubi yang menandai setiap proses penerimaan dan pemisahan tanda-tanda kemerdekaan tanpa syarat yang digambarkan atau dituliskan kembali di hadapan kita.

*) Penulis adalah ASN Bappeda Pemda Jeneponto/Sekretaris Muhammadiyah Jeneponto

Banner iklan disini

Pos terkait