OPINI: Kebenaran dan Subyektifitas (3)

Kebenaran dan Subyektifitas (3)

Oleh: Ermansyah R. Hindi
(ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Jeneponto)

Muat Lebih

Kita mungkin tidak terlalu jauh mengambil pilihan-pilihan khas dari kesenangan pada yang nyata, sekalipun kita tidak begitu tertarik dengan serba penalaran logis atas keadaan. Kesenangan itu sendiri tidak eksesif sejauh kesenangan terbebas dari lingkaran dan hirarki. Misalnya, pilihan pada fotografi, sinema atau video rekaman menjadi sisi lain dari alotnya kesenangan sebagai proses reproduksi-pengingatan kembali. Benda-benda yang tidak nyata untuk mendukung pembentukan nilai materialitas kesenangan sebagai pertimbangan bagi kelangsungan ingatan itu sendiri. Sebagaimana kita mengetahui, benda-benda yang bersifat material atau teknologi merupakan bagian dari teks ‘yang tidak tertulis’ dalam kesenangan yang tidak terelakkan. Pertautan antara auto-teks dan benda-benda ‘yang tidak nyata’ atau tidak tertulis memasuki diskursus lebih mengakar dibandingkan pikiran berlangsung tidak secara psikis, tetapi secara mekanis dalam dunia. Nilai universal dari kesenangan menyusut dalam nilai materialitas setelah selisih dapat ditemukan kembali di tengah ketidakterukuran kesenangan yang berbeda. Permasalahan terletak bukan yang sama, tetapi yang berbeda. Pada satu pihak, logika matematika berbeda dengan kesenangan, tetapi keduanya memiliki kemiripan pada perhitungan yang tidak terhingga. Tentulah, kesenangan pada hakikatnya adalah sesuatu yang tidak terukur. Kemiripan ini menandakan ada kemungkinan ingatan, imajinasi dan mimpi atau hal-hal yang tidak terpikirkan diisi dan ditopang oleh kesenangan melalui angka atau alfabet tetap selalu selisih yang nyata antara wujud alami-aktual dan wujud virtual-citra artifisial yang membuat pertukaran tanda tidak lebih dari selingan kecil.

Meskipun tidak berlangsung sepenuhnya pada keseluruhan, tetapi juga sebagian yang lain dari kekuatan bergerak berbolak-balik. Kita juga mencoba memusatkan perhatian pada pembentukan relasi yang bersifat mekanis. Akhirnya, kita perlu melangkah pada sesuatu yang remeh, tetapi terberat, dimana kita melihat bukanlah pemisahan antara penderitaaan, dusta dan kebencian, melainkan relasi antara kesenangan, kegemaran dan kecanduan saling bertumpang-tindih atau bercampur-aduk antara satu dengan yang lainnya. Bagi sesuatu hal yang tertunda, kita juga mencoba tidak merampungkan secara teliti terhadap pembentukan relasi yang bersifat mekanis. Dari sebagian dari kekuatan yang bergerak secara tidak linear, mesin produksi tidak memiliki relasi dengan mesin modal mencakup sirkulasi modal-uang, nilai tukar, nilai surplus dan sebagainya. Sementara, mesin analisis seperti auto-geometris, energi non organik-otak komputer atau laboratorium pengetahuan. Jadi, sebagian yang lain adalah selisih setelah terjadi pengurangan antara bagian yang satu dengan bagian lainnya hingga mencapai keseluruhan merupakan celah kosong bagi pengetahuan.

Arus pergerakan solid menuju mesin analisis memberi tantangan sekaligus mengakhiri kerja mesin pikiran, sekalipun ia tidak dapat dipisahkan dengan kesalahan identifikasi atau verifikasi. Kata lain, mesin analisis tidak memiliki keterkaitan dengan mesin pikiran dan mesin ingatan. Setelah titik akhir dari auto-kepuasaan, ‘mesin analisis’ mampu merekayasa sesuatu dibalik gambaran pikiran. Dalam pengetahuan selanjutnya ditemukan suatu mesin pendaur-ulang yang beracak dan bertukar menjadi mesin penerjemah universal melalui kata-kata.

Permainan kebenaran atas kesenangan sejalan kegilaan sebagai selingan hanyalah efek dari selisih dusta dibalik struktur permukaan yang terbuka, terukur dan tidak terukur. Hal ini berbeda dengan kelenyapan realitas dalam citra virtual merupakan selingan bagi selisih produksi kesenangan yang beragam tidak memiliki efek bagi dusta dari kebenaran sebagai paradoks yang tidak obyektif dan terukur.

Saya melihat kata-kata dusta dan kebencian tidak lagi sebagai sintesis disjungtif, yang menyatakan perlawanan atas kesenangan, tetapi sintesis diskontinuitas, yang menyatakan terputus-putus pergerakan melalui relasi bolak-balik antara kesenangan dengan kegemaran dan kecanduan. Dari sini, kegemaran dan kecanduan adalah generalisasi dari kesenangan dalam perbedaan. Suatu kesempatan, pelepasan kegemaran pada berolah raga secara teratur dan terukur, misalnya dilakukan tiga kali dalam sepekan. Pada kesempatan lain, seringkali mengkonsumsi obat di saat sakit kepala menyebabkan kecanduan. Efek ganda akan terjadi dari kesenangan mengumpulkan bukanlah dari sebagian antara satu dengan lainnya, tetapi yang sama dalam keseluruhan membawa implikasi atau efek yang berbeda, tidak terpikir dan tidak terukur. Kesenangan membaca buku olahraga dan resep obat tidaklah serta merta berimplikasi atau berefek dalam keterbalikan langsung tentang bagaimana cara berolahraga dan meminum obat yang baik. Mereka perlu selingan dan selisih dalam kegilaan dari ada atau tidak adanya pemikiran. Secara paradoks, kita juga mesti berbicara bebas sesuai dusta dengan cara berbicara secara lihai pada lawan untuk memperoleh suara kebenaran.

Sebagian orang berada dalam kesenangan untuk berbicara bebas, berkedok kebenaran dalam keadaan tertentu dengan cara mengeksploitasi kesenangan untuk menghujat subyek, simbol dan kata-kata. Kesenangan dengan tulisan yang menopangnya terpinggirkan tatkala kesenangan itu sendiri disamarkan melalui kecanduan dan kesibukan. Pengaruh eksternal dalam kesenangan bukanlah kausalitas. Dia berbicara sesuai dengan isi pikirannya. Dari titik tolak inilah, berapapun jumlah kesenangan yang dilepaskan tidak memengaruhi benda yang tidak nyata. Mungkin kita dapat menghitung berapa jumlah obyek kesenangan seperti mengumpulkan kartu berharga atau berlibur di suatu tempat, tetapi tidak mengukur esensi dari kesenangan itu sendiri. Sebagaimana selera dan hasrat, kesenangan juga mempunyai rahasia tersendiri, sehingga esensi kesenangan berbeda dengan kata-kata yang diucapkan seseorang. Jika kemiripan figur yang berulang sebelumnya dimainkan oleh seseorang yang mencoba mengatur kepuasan dengan memainkan kata-kata dusta atau kebencian, berarti begitu pula cara memainkan kata-kata begitu membius akibat ketidakhadiran mesin pikiran di depan ruang umum dan bebas. Karena itu, dusta atau kebencian tidak lebih dari bagian mesin bunuh diri sekaligus cara membatasi kesenangan terperangkap oleh sifat alamiah. Mesin pembunuh akan berubah menjadi paradoks kesenangan seiring dengan pilihan yang terakhir bukan dari dusta dan kebencian berkedok kebenaran, tetapi disaat keduanya tidak menjadi obyek pengetahuan yang sebelumnya bersifat alamiah berubah menjadi sesuatu tidak memiliki apa-apa lagi didalamnya. Mungkin kita tidak berada pada keadaan terdesak yang membuat pikiran tidak berkutik, kecuali keputusan genting atas nama kebenaran. Hal ini, teror(isme) dan perlawanan terhadapnya sebagai contoh begitu dekat di sekitar kita.

Kita tidak menganggap kesenangan sebagai kebenaran atau aksioma yang asal-usulnya dari hasrat; boleh jadi kesenangan tidak lebih dari kata-kata permulaan, tetapi ia sekaligus bergerak tanpa akhir. Meskipun pada tingkatan tertentu, bentuknya muncul dari permukaan yang berbeda, dimana kemiripannya yang bersifat mekanis memiliki keterkaitan dengan kegemaran dan kecanduan yang terinci dalam mesin ketidaksadaran (hasrat, libido) yang melebihi pikiran.

Dari titik tolak permukaan inilah, kata-kata mulai merenggut dan membangun kembali bahasa yang tidak mewakili atau merujuk pada dunia. Satu-satunya jalan bagi teks dan arus kesenangan ditambahkan teks pengetahuan untuk merujuk pada permukaan sebagai tanda lainnya seperti tanda produktivitas. Anda yang menitip kata-kata menjerumuskan. Saya mendengar kata-kata rayuan meletakkan bahasa pikiran yang tidak direpresentasikan dari kata-kata itu sendiri.

Kini, kata-kata nampaknya membutuhkan sedikit energi terakhir dari kekuatan retorika spontan yang memberikan umpan-balik bagi kesenangan lainnya melalui huruf demi huruf dan tulisan angka-angka yang tidak memiliki hubungan dengan seni dusta dan kebencian. Berapa jumlah korban kesenangan yang buta atau korban dusta dan kebencian bukanlah cara untuk menyingkap rahasia yang menyelimutinya dengan proses penyatuan dari kedua kekuatan yang berbeda. Kesenangan akan muncul dan lenyap, tetapi bagi prasangka buruk, dusta dan kebencian seperti menguap begitu saja tanpa bekas. Jika kesenangan merupakan bagian dari diskursus, dusta dan kebencian merupakan abortus dari pengetahuan yang tidak dikendalikan dari dalam. Kesenangan dengan segenap rahasia dan paradoksnya datang dari kemampuan mengendalikan lingkaran dan hirarki sebagai konsekuensi penciptaan batas-batas yang tidak membatasi relasi bolak-baliknya, yaitu kegemaran dan kecanduan. Kedua energi tersebut sebagai pengecualian pada akhirnya kesenangan mencoba untuk keluar dari suatu penampilan yang tidak nyata menjadi selisih bagi kelenyapan realitas yang berbeda. Apa yang dimaksud kelenyapan realitas yang berbeda, misalnya pada saat Anda menonton peristiwa melalui obyek atau citra virtual, dimana Anda tidak sedang bermimpi, melainkan terjaga dengan selisih yang berbeda dalam kata-kata rayuan yang sama dan berulang-ulang.

Kesenangan terhadap yang nyata diantara sisi gelap dan kosong, ia bukan sesuatu yang tidak nyata seperti kekayaan materi dari seseorang. Setiap sesuatu yang mempesona setelah dimaterialisasi terjatuh dalam kemustahilan nilai. Dari sini, keterkaitan autoproduksi atas reproduksi kesenangan melalui tubuh melintasi permukaan dirinya. Bandingkanlah dengan dusta atau kebencian memiliki keterkaitan pada kemustahilan nilai. Kesenangan menjadi suatu kemiripan dari sesuatu yang tidak nyata (imajiner, yang nyata dan simbolik seperti bedak, lipstik, parfum pria-wanita, dan lainnya dari mesin ketidaksadaran). Permukaanlah berupa tubuh yang memengaruhi kita, sehingga begitu kuatnya tubuh, dimana kesenangan yang memberi umpan balik padanya.

Setiap proses produksi berlangsung secara non seks manusia, maka kesenangan tidak lagi membagi sisaan dalam realitas dengan cara mengganti penderitaan menjadi kecanduan dan kegemaran pada sesuatu. Pada saat kita tidak lagi menemukan rayuan yang mematikan sekaligus ketidakhadiran sisaan (residual). Citra modal uang yang ditanam dan disebarkan oleh mesin fantasi dan mesin mimpi melingkari orang-orang tergabung dalam nepotitisme dan oligarki tidak lebih dari energi sisaan dalam masyarakat. Auto-teks secara umum yang dimainkan oleh kaum nepotis dan oligarkis untuk memperebutkan kepentingannya dengan cara dusta sebagai bagian dari kata-kata dalam tingkatan tersembunyi. Mesin fantasi buta dan mimpi kosong menopang energi sisaan yang dibentuk mesin kapitalis untuk mengisap aroma tubuh modal dan mencium analnya sendiri.

Dalam kesenangan didukung oleh kata-kata dan diskursus, kedok itu dapat disingkap. Berkat titik permukaan, sisi kehidupan atau pemikiran manusia berangsur-angsur berubah. Justeru permukaan merupakan sudut pandang yang khas melalui kesenangan seseorang terhadap kata dengan logika-bahasa sesuatu yang membuatnya tertarik. Sejauh bahasa lisan sesuai dengan bahasa tulisan ada dalam pikiran pembaca sekaligus pikiran penulis melalui kesenangan. Arus kata-kata akan mengambang bebas di atas permukaan bergerak dari citra hasrat ke realitas yang diputuskan relasinya dengan kesenangan berada sekitar kita, seperti daun-daun mengambang di permukaan kolam air. Satu sisi, benda-benda terpisah dengan permukaan. Pada sisi lain, titik permukaan menandakan celah dibalik benda-benda yang dapat terukur dan berbicara pada kita, sekalipun orang-orang yang memiliki hasrat untuk menandai tubuh tidak lagi terungkap dalam ketidakbenaran terhadap keindahan. Kata-kata kembali berada dalam ketidakhadiran gaya dan tata bahasa kesenangan. Bentuk dan ruang kosong yang menyelimuti kata-kata itu sendiri. Kata-kata eksis dalam tulisan menjadi titik pergerakan dari satu diskursus ke diskursus lainnya. Diskursus mencoba menggambarkan sesuatu mengenai eksis atau tidaknya (deseksualitas) kesenangan. Jadi, bukan hal-hal besar dari dusta atau ujaran kebencian, melainkan suatu hal yang sederhana bersifat terbuka dan teracak dari kesenangan yang mengalami perubahan terus-menerus.

Tersingkapnya lekuk pikiran yang menubuh nampak dari luar sebagai akibat kata-kata, tuturan, perbincangan, tulisan atau teks itu sendiri di bawah pengendalian institusi bernama rezim kuasa sebagai kemungkinan atau kemustahilan terjadi. Ada saatnya kemungkinan kesenangan menciptakan kuasa. Pada saat yang lain kemustahilan dari kesenangan menjadi aparatur kuasa tidak bergerak secara terbuka tanpa memiliki kuasa yang produktif dengan cara mengelola dusta dan ujaran kebencian secara manusiawi. Bukan cara kekerasan atas kekerasan lainnya. Sentuhan kreatif dan manusiawi itulah cara bekerja kesenangan melalui tubuh itu sendiri berlangsung lama atau sekejap begitu saja melalui rezim diskursus yang sebagian pihak tidak ingin dimanifestasikan dan dikonsolidasikan menjadi rezim kuasa yang terinstitusionalkan. Suatu hal, bahwa kita perlu melepaskan sejenak relasi bolak-balik pemikiran di sekitar kuasa atas tubuh dan kuasa itu sendiri dalam kaitannya dengan sesuatu yang produktif dan kesenangan dibalik kuasa dan tubuh itu sendiri. Ia tidak melihat, bahwa kesenangan dapat saja teracak dan tertukar tatkala kegemaran pada sesuatu begitu beragam yang membuat kesenangan hanya mengejar bayangannya sendiri, sekalipun tubuh menjadi aparatur sekaligus titik memantulkan bayangannya. Pikiran, fantasi, mimpi, dan citra yang dipantulkan melalui tubuh menjadi lapisan pertama dan benda-benda yang bersifat lahiriah menjadi lapisan kedua bayangan bagi kesenangan. Semakin lama kita tidak berpikir lagi mengenai tautan pada sintesis yang terputus-putus (discontinues synthetic) melalui subyek kesenangan sebagai dorongan pengetahuan.

Saat ini, bukanlah momentum yang tepat untuk membicarakan secara rinci mengenai esensi atau rahasia kesenangan, karena sisi permukaan benda-benda dan kata-kata banyak menentukan cara berpikir, dimana kesenangan itu sendiri memiliki keterkaitan kuat dengan hal-hal yang kasat mata di atas permukaan. Bahwa paling penting dari semuanya itu adalah pembebasan kesenangan pada yang tidak nyata dari serangkaian mainan senyuman, pujian, undangan menghadiri acara atau membagikan paket hadiah tetapi pamrih dan menceritakan pemberiannya secara manipulatif. Karena itu, ia membahayakan pengetahuan dan merusak nilai universal dari yang partikular menjadi kemungkinan dan kemustahilan. Begitu pula pentingnya bagaimana kita berusaha menangani korban dusta dan kebencian dengan tidak menularkan dan memanfaatkan kesenangan melalui wujud alami sekaligus wujud virtual. Kesenangan terhadap berita dusta dan kebenciaan akibat tidak memiliki keterkaitan antara arus di atas permukaan dengan arus di bawah permukaan diantara benda-benda yang tidak terpikirkan (tanda, kegilaan atau tubuh). Karena itu, dusta dan kebencian bukanlah kedok kesalahan tanpa kebenaran yang nampak dari permukaan.

Banner iklan disini

Pos terkait