News, Opini  

Merangkul Untuk Jadi Wartawan

Merangkul Untuk Jadi Wartawan

Oleh : Rudhy Pravda


Ya, sudah menjadi rahasia umum, skandal memalukan, tak punya moral, termasuk dalam hal menulis menikmati anggur pengetahuan duitnya. Di jaman orde baru; media yang jadi anti orde kekuasaan harus di basmi, di breidel, tidak boleh hidup bahkan orang-orang yang menulis harus di interogasi (periksa) untuk segera di lenyapkan. Lihat saja "Harian Rakyat" di masa Soekarno, di pimpin oleh orang-orang baik, dan setelah itu hilang di basmi. 

Sebenarnya, enak juga selain menulis dengan sekedar menerima berita dari reporter lainnya, yang jujur, rajin kerja, sebagai koresponden dalam mewartakan berita kebanyakan penulis-penulis santai dan menerima saja berita dari koran, laporan lainnya dan tinggal menyalin lalu dianggap kerja keras mereka dengan segala upaya yang takzim. (Baca: santai ongkang-ongkang kaki dan minum kopi) sambil lalu selesai lah semua tugas-tugas mereka.

Fenomena umum ini lazim dan ghalibnya di temukan jauh sebelum hari ini, pada kekuasaan Soeharto pun menjamurnya penulis-penulis (wartawan dan media) yang berpihak pada rezim. Penulisan memang cukup untuk mendapatkan pujian, tak boleh menggelitik hati KEKUASAAN SEHINGGA TERANCAM yang MESKIPUN KEKUASAAN SANGAT keji.

Remah-remah untuk kepentingan duit (amplop) agar bisa bertahan lama. Masih kah ada hingga hari ini, (silakan cek faktanya) dan buktikan itu sebenarnya adalah kesalahan cukup fatal, terutama berpendapat dan berpihak pula pada pengusaha (kapitalis-pemilik perusahaan/tambang dan kaki tangannya) dan lain-lain dan lain-lain.

Jadi, seharusnya sebelum "merangkul" untuk jadi wartawan, harus buat dulu cara baru yang lebih bijaksana dan terhormat, bermartabat dan punya harga diri (prinsip) pada kepercayaan dan berpikir-berpihak pada kebenaran sejati (positif untuk perubahan) hari ini dan kedepankan lebih baik. Bisa dengan cara melakukan "psiko tes mental dan kejiwaan" dengan tujuan mulyanya; memangkas manusia-manusia yang mendaku diri kaum intelektual, cendekiawan, profesional, mahasiswa, bahkan tak sejumputpun malupun [secara terang-terangan] ngakunya aktivis sayang rakyat yang idealis. Kata-kata idealis ini jadi MANTERA yang cukup agung, padahal dusta dan bohong minta ampun; dengan mengukur sejauh mana mereka gila AMPLOP atau GILA PUJIAN TIDAK. 

Sehingga tulisan-tulisan (baik opini, esai, cerpen, reportase, dll) tidak syarat dan karena untuk uang saja; secara langsung menulis menikmati hidup dan mengejar uang semata.

[zombify_post]