PPDB KOTA MEDAN 2022

Masyarakat Adat Keerom, Mengutuk Keras Ketua Dewan Adat Mamta Dan Sekum Dewan Adat Papua (Dap)

Masyarakat Adat Keerom, Mengutuk Keras Ketua Dewan Adat Mamta Dan Sekum Dewan Adat Papua (Dap)

Keerom (Papua), Liputan4 – Masyarakat Adat Kabupaten Keerom, dalam sebuah diskusi di Arso Kota sabtu 18/6/2022 mengutuk keras Ketua Dewan Adat Mamberamo Tami (MAMTA) Yakonias Wabrar dan Sekertaris Umum Dewan Adat Papua (DAP) Leo Imbiri, hal ini di lakukan atas tindakan keduanya yang hadir di Keerom guna mendorong rencana kongres hingga pengukuhkan Ketua Dewan Adat baru secara sepihak yang  berakibat pada perpecahan  internal Masyarakat Adat Keerom menjadi dua kubu.

Seharusnya pemipin lembaga culture di tingkat Wilayah Tabi maupun Papua tersebut hadir secara netral untuk melihat apa permasalahan yang terjadi dalam internal Dewan Adat Keerom, untuk selanjutnya mencari solusi dalam menyelesaikan masalah tersebut, jika menemui masalah yang  harus di tangani oleh pihak Dewan Adat Mamta maupun, Dewan Adat Papua melalui sebuah diskusi bersama masyarakat adat keerom


Demikian Longginus Fatagur mewakili masyarakat adat di sela sela diskusi antara sejumlah intelektual keerom dan masyarakat adat, usai  menyikapi kegiatan pengukuhan ketua dewan adat keerom yang baru

Kata Longginus, Pihak Dewan Adat Papua (DAP) melalui Sekertaris Umum maupun Ketua Dewan Adat Mamta hadir di Kabupaten Keerom dengan dua kepentingan, pertama mencari makan melalui kelompok yang memiliki kepentingan, yang kedua menciptakan konflik antar Masyarakat Adat Keerom, sangat jelas mereka hadir bukan untuk kepentingan atau hak hak masyarakat adat secara umum di Keerom.

Seharusnya tidak mengambil keptusan sepihak  sebelum mengakomodir berbagai ide, kepentingan dan kebutuhan yang beragam dari masyarakat adat. Namun telah terlanjur Keputusan yang di ambil justru menjadi sebuah bumerang terhadap pengambil keputusan itu sendiri maupun kepada kepentingan oknum oknum  tertentu yang telibat dalam keputusan tersebut

Sebelum terjadi pengukuhan kami telah mengingatkan, terutama  kepada Ketua Dewan Adat Mamta agar  tidak di lakukan pengukuhan, karena akan terjadi hal hal yang negatif namun hal itu tidak di indahkan bahkan dokumen dan daftar hadir serta berita acara persetujuan untuk pengukuhan dari dewan adat yang sedang berjalan di nilai di palsukan, sehingga kami juga akan terus mengusut kasus ini hingga ke pihak yang berajib untuk memproses Ketua Dewan Adat Mamta dan Sekertaris Umum Dewan Adat Papua dan pihak yang terlibat. Ujar Longginus

Menurutynya, Aktor yang terlibat dalam memainkan peran guna membagi Masyarakat Adat Keerom menjadi dua kubu adalah Sekertaris Umum Dewan Adat Papua dan Ketua Dewan Adat  Mamta. Mereka telah memunculkan konflik , mereka pintar melihat masyarakat adat yang lemah  serta mereka juga pintar membaca posisi hukum adat yang tak bisa di  lindungi, walaupun di sisi lain Seharusnya mereka  hadir dan berperan memberikan pendampingan, melakukan pengorganisasian dan penguatan kapasitas pengurus dewan adat maupun masyarakat adat.

Lebih Jauh Longginus menambahkan, Walau Dewan Adat Keerom (DAK) yang di jabat Servo Tuamis masa jabatannya  berakhir 2023, namun pada cara pandang mereka bukan soal masa jabatan atau tentang apa masalah,bahkan bukan pula tentang kepentingan Masyarakat Adat seutuhnya di Keerom ini,  tetapi lebih kepada siapa yang memiliki kepentingan dan berapa yang saya bisa peroleh dari orang yang memeliki kepentingan tersebut karena saya adalah pengambil keputusan.

Secara tegas kami masyarakat adat Keerom dari alang alang lima hingga towe hitam, mengutuk secara adat kepada Sekertaris Umum Dewan Adat Papua, (DAP) Leo Imbiri, dan Ketua Dewan Adat Mamta Yakonias Wabrar atas cara kerja mereka yang memanupulasi data ketua dewan adat keerom yang sah (Servo Tuamis) demi kepentingan rupiah.

Kepada Masyarakat Adat Papua maupun Masyarakat Adat Mamta/Tabi, di harapkan kedepannya dapat melihat secara baik jika ada keterlibatan oknum oknum ini dalam berbagai proses kepentingan masyarakat adat. Terbukti kemarin di Kabupaten Keerom, pergerakan mereka yang berorientasi pada rupiah, mengakibatkan terpecahnya Masyarakat Adat Keerom menjadi dua kubu.

Pertemuan yang di hadiri sejumlah Intelektuan Keerom dari kalangan birokrasi hingga swasta ini telah menghadirkan komitmen yang di nilai akan menjadi sebuah kekuatan besar  dalam berbagai kepentingan kedepan.

Silahkan saja mereka bergerak, tetapi ingat bahwa kekuatan masyarakat adat masih ada pada kami, tim kami justru memiliki kekuatan besar hamper seluruh intelktual keerom ada pada kami seperti hari ini jelas kita ketahui siapa yang hadir bersama kami dalam pertemuan ini.

Pengukuhan ketua dewan adat keerom yang baru ini tentunya di boncengi kepentingan politik 2024. Selain itu  bahwa scenario ini secara tidak sadar telah di mainkan oleh oknum oknum yang memiliki kepentingan tertentu seperti Sekertaris Umum Dewan Adat Papua (Leo Imbiri) dan Ketua Dewan Adat  (Mamta Yakonias Wabrar) tanpa memprediksi akibatnya kedepan.. Tutup Longginus.

Print Friendly, Pdf & Email