Massa Aksi Masyarakat Nabire Menyampaikan Aspirasi Di Kantor Polres, Bukan Di Kantor Bupati Nabire

Massa Aksi Masyarakat Nabire Menyampaikan Aspirasi Di Kantor Polres, Bukan Di Kantor Bupati Nabire
STIK FAMIKA

LIPUTAN4.COM, NABIRE-Rakyat Papua dari berbagai lapisaan terus menyuarakan penolakan Otonomi Khusus (Otsus). Pada hari ini, Kamis 24 (23/09/2020), rakyat Papua di Nabire melakukan aksi damai menolak kelanjutan Otsus Jilid II di Papua.

Ketika massa aksi mulai kumpul dibeberepa titik kumpul, Aparat Keamanan menangkap 161 massa aksi, diantaranya dari Siriwini 25 orang, Karang Tumaritis 15 orang, Kampus Uswim 16 orang, Kalibobo 15 orang, dan dari SP1 90 orang, kemudian mereka dibawah ke kantor Polres Nabire.


Menurut penelususuran kami, salah satu alasan pihak Kepolisian menahan massa aksi karena berkaitan dengan protokol kesehatan Covid19 yang menurut pihak Kepolisian harus ditaati oleh massa pendemo.

Tidak samapai disitu, setelah beberapa jam kemudian massa aksi berkumpul lagi di Bumi Wonorejo. Kepolisian sempat menghadang massa aksi, tetapi dengan negosiasi kedua belah pihak, aksipun dilanjutkan menuju Polres Nabire bertujuan membabaskan massa aksi yang sebelumnya diamankan di Polres,  dan setelah itu melanjutkan aksi menuju Kantor Bupati Nabire.

Aparat keamanan mengawal massa aksi sampai tiba di kantor Polres, dan aspirasi massa aksi (masyarakat) di sampaikan di Kantor Polres Nabire.

Kepala suku Dani, Moni, Lani, Ndayak, Damal, dan Ngalik Yunus  Wenda (salah satu kepala suku La Pago wilayah Nabire) dengan tegas menolak kelanjutan Otsus Jilid II.

“Otonomi Khusus telah lama dikubur oleh seluruh rakyat Papua karena iplementasi Otsus jauh sekali dari tujuan dan Otsus sama sekali tidak membangun Papua, maka itu untuk apa Otsus Jilid II dilanjutkan lagi, itu hanya membumkam seluruh perjuangan Papua. Oleh karena itu saya mewakili semua kepala suku wilaya adat La Pago dengan tegas menolak Otsus Jilid II,” tegasnya di Kantor Polres.

Salah satu Kordinator Lapangan (Korlap) yang tidak ingin menyebutkan identitasnya, meyampaikan pernyataan sikap massa aksi mewakili seluruh rakyat Papua khususnya wilayah Nabire, berikut pernyataan sikap atau aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat.

  1. Dengan tegas menolak kelanjutan Otonomi Khusus Jilid II
  2. Meminta menarik TNI/Polri yang ada Nduga
  3. Golput Pilkada Kabupaten Nabire tahun 2020

Massa aksi juga dengan keras mengutuk TNI/Polri yang telah menembak tiga Pendeta, diantaranya Pdt. Yeremia Zanambani, Pdt. Geyimin Nirigi, dan Pdt. Elisa Tabuni.

Print Friendly, Pdf & Email