Kelangkaan BBM Di SPBN IDI Rayeuk Diduga Ulah Mafia

  • Bagikan
Kelangkaan BBM Di SPBN IDI Rayeuk Diduga Ulah Mafia

Liputan4.com Aceh Timur Kamis 01/ 04/2021 Sejumlah nelayan skala kecil kesulitan memperoleh bahan bakar minyak (BBM) jenis solar di Idi Aceh timur. Penyebabnya belum diprioritaskan stasiun khusus BBM oleh Pertamina kepada nelayan tradisional hanya untuk pengusaha Kapal besar dan pukat harimau .

Hal inilah menyebabkan para mafia BBM menguasai solar sehingga nelayan kecil menjadi korban.“Kami nelayan kecil ini susah mendapat solar untuk melaut, apalagi solar bersubsidi sangat lah sulit,

Sebab, banyak mafia BBM yang menawarkan minyaknya ke pengusaha ( TOKE Bangku ) Jadi, kami (nelayan kecil) yang jadi korban,” Zainul Bahri (45) warga gulumpang Idi Rayeuk, Rabu (31/03/2021).

Bahri menyebutkan, selama ini kapal nelayan dengan tonase di bawah 5 GT, harus mencari BBM di beberapa Pengecer Dengan Harga 7000 ribu bahkan lebih. Sedangkan pengusaha Awal menyetor Uang Ke SPBN, Padahal BBM yang digunakan untuk ratusan kapal ikan skala besar di IDi Rayeuk Aceh timur, sebagian berasal dari produk Pertamina berdasarkan kouta untuk nelayan Mulai dari Seluruh SPBU dia Aceh timur Minyak Subsidi Untuk Nelayan faktanya..??

Selain itu, ada juga yang menyalahgunakan DO. Sebagian besar BBM yang digunakan untuk ratusan kapal ikan juga berasal dari BBM Bersubsidi Dengan cara Membawa surat Nelayan Ke SPBU seputaran Aceh timur, saat survei ke Lapangan (TPI) banyak nelayan tradisional (bot panjing) terlantar tidak mendapatkan BBM sedangkan pengusaha kapal Dengan Mudah mendapatkan BBM.

Sedangkan BBM yang didistribusikan resmi oleh Pertamina untuk kapal ikan di Pelabuhan Perikanan Idi Rayeuk, sesuai dengan jumlah kapal yang memiliki izin lengkap, sedangkan BBM ilegal digunakan untuk mencukupi kapal ikan yang tidak memiliki izin, seperti Kapal pukat harimau juga masih berlayar di laut Aceh timur khususnya umumnya Aceh.

“Jadi, BBM ilegal juga digunakan untuk mencukupi kapal ikan lainnya yang berpangkalan di luar Pelabuhan Perikanan di Aceh Timur, seperti di Bayeun, Bagok dan lainnya,” ungkap pria berusia 45 tahun ini.

Dijelaskan Bahri, kapal ikan di Pelabuhan Perikanan Idi dari berbagai jenis ada sekisar 500-an unit.

Jumlah tersebut meningkat menjadi 700-an unit di akhir tahun 2020. Setiap beroperasi kapal ikan itu membutuhkan solar sedikitnya 1 ton, sehingga solar subsidi maupun nonsubsidi yang disalurkan Pertamina dikuasai oleh mereka.

Sejumlah koperasi, PT, UD, ataupun perorangan yang menjual BBM untuk kapal ikan di Pelabuhan Perikanan IDI Rayeuk maupun luar Pelabuhan Perikanan, diduga banyak bermain dalan pendistribusian BBM tersebut, termasuk pendistribusian solar bersubsidi yang disalurkan Pertamina lewat SPBN (Sentra Bahan Bakar Minyak untuk Nelayan) yang terdapat di Pelabuhan Perikanan Gulumpang Idi Rayeuk.

“Kita meminta penegak hukum untuk mengusut penyaluran BBM oleh mafia minyak, sehingga jatah nelayan kecil yang seharusnya mendapatkan BBM subsidi tidak habis dimakan oleh mafia-mafia minyak,” tegasnya.

Sementara wakil Ketua Kesatuan Nelaya Tradisional Indonesia ( Lembaga panglima laot ), Sulaiman mengungkapkan, kelangkaan BBM bagi kalangan nelayan kecil disebabkan belum maksimalnya penyediaan SPBN (Sentra Bahan Bakar Minyak untuk Nelayan). Sehingga, pendistribusian BBM tidak merata diperoleh nelayan kecil. “Kita minta kepada PT Pertamina untuk menempatkan beberapa SPBN untuk nelayan kecil di IDi Rayeuk, dan sekitarnya agar keluhan ini dapat diatasi segera,” pungkas Sulaiman

Harapan nelayan tradisional, Polda Aceh mengusut penyaluran BBM, sehingga jatah nelayan kecil yang seharusnya mendapatkan BBM subsidi tidak habis dimakan oleh mafia-mafia minyak.

Reporter Saif Aceh

 

Print Friendly, PDF & Email
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Suka
Waww
0
Waww
Haha
0
Haha
Sedih
0
Sedih
Lelah
0
Lelah
Marah
0
Marah
  • Bagikan
Selamat Hari Raya Idul Fitri