Kaum Gay, Penyumbang Terbanyak Kasus Baru HIV – AIDS Di Sukabumi

SUKABUMI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi mencatat, jumlah pengidap penyakit HIV – AIDS sepanjang tahun 2019 di Kota Sukabumi sebanyak 169 kasus baru. Dari data kasus baru yang tercatat tersebut, didominasi akibat prilaku seks menyimpang atau LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Sukabumi, dr Lulis mengatakan, jumlah pengisap penyakit menular HIV – AIDS di Kota Sukabumi pada setiap tahunnya cenderung meningkat. Pada tahun 2019 misalnya, jumlah kasus baru terbilang rekor terbanyak secara YoY (year on year) di Kota Sukabumi sejak tahun 2000.


“Berdasarkan data laporan SIHA hingga Desember 2019, trennya terus meningkat, bahkan tahun 2019 yang lalu itu, dikatagorikan rekor terbanyak jika dilihat dari grafik tahun ke tahun sejak tahun 2000 silam,” katanya.

Ia menyebutkan, berbeda dengan tahun 2001 hanya terdapat 2 kasus baru dan dikatagorikan sebagai temuan kasus baru HIV – AIDS paling terendah di Kota Dikagumi. Kenaikan jumlah pengidap penyakit mematikan tersebut nampak terlihat pada tahun 2017 dimana tercatat sebanyak 160 kasus baru dan ini merupakan jumlah terbanyak kedua di Kota Sukabumi.

“Jumlah terbanyak kasus baru penderita HIV – AIDS pada tahun 2019, kemudian jumlah terbanyak kedua pada tahun 2017, dan trennya memang terus meningkat pada setiap tahunnya,” ungkap Lulis.

Disinggung dengan jumlah kasus baru yang terjadi setiap tahunnya di Jawa Barat, lanjut Lulis, Kota Sukabumi sempat menempati peringkat ke tiga se Jawa Barat, kemudian turun menjadi peringkat ke lima dan data terakhir menyebutkan bahwa saat ini Kota Sukabumi menempati peringkat ke sembilan se Jawa Barat.

“Meskipun trennya di Kota Sukabumi pada setiap tahunnya terus menanjak, akan tetapi di tingkat Jawa Barat tren jumlah kasus baru HIV – AIDS Kota Sukabumi terus menurun,” ujarnya.

Kasus HIV – AIDS yang ditemukan di Kota Sukabumi berdasarkan faktor risiko pada tahun 2019, yang terbanyak adalah lelaki suka lelaki (LSL) dengan 58 kasus. Indikator inipun dipertegas dengan grafik penemuan kasus HIV Aids berdasarkan jenis kelamin. Yang terbanyak adalah laki-laki dengan 112 kasus dan perempuan sebanyak 57 kasus.

“Intinya, LGBT adalah masalah kesehatan jiwa. Hal ini memiliki risiko terpapar IMS dan HIV – AIDS lebih tinggi dan menjadi penyumbang terbesar kasus HIV AIDS khususnya LSL atau Gay,” pungkasnya. (Eko Arief)

Print Friendly, Pdf & Email