Kader HMI Harapan Masyarakat Indonesia

Oleh : *Sofyan Mohammad***
———————————————————————————–


LIPUTAN4.COM,”Masa-masa bangku kuliah melahirkan sejarah dan pemimpin-pemimpin negeri.”

Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam atau KAHMI adalah wadah bagi alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korp HMI Wati (KOHATI). KAHMI sendiri saat ini diakui telah menjadi ladang sumber daya manusia (SDM) Indonesia sebab telah terbukti mampu berperan di berbagai bidang, baik pemerintahan (birokrat), partai politik, ormas, akademisi, pengusaha, profesional dan lain sebagainya.

Sejak awal awal pemerintahan Indonesia yaitu sejak Orde Lama, Orde Baru hingga Orde Reformasi saat ini para anggota KAHMI telah berperan nyata dan kongkrit didalam mewarnai sejarah perjalan bangsa ini.

Peran kongkrit KAHMI dalam mewarnai sejarah perjalanan bangsa juga telah diakui oleh Presiden Joko Widodo. Hal ini disampaikan Presiden dalam acara grand launching Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) pada 22 Juli 2021, Jokowi menyampaikan jika para anggota KAHMI bertebaran di mana-mana dan nyaris disemua Partai Politik ada anggota KAHMI.

HMI sendiri adalah organisasi mahasiswa yang berdiri di Yogyakarta pada 5 Februari 1947, yang dianggap sebagai organisasi Mahasiswa tertua di Indonesia setelah masa kemerdekaan.

Organisasi ini diprakarsai oleh Lafran Pane seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) atau yang sekarang disebut UII. Salah satu alasan Lafran mendirikan HMI adalah karena mahasiswa pada masa itu masih banyak yang belum benar-benar memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam. Melalui HMI, Lafran berharap para mahasiswa lebih tahu menerapkan ajaran agama dengan baik dan benar dalam kehidupan sehingga melalui HMI Mahasiswa diajarkan tentang Keislaman dan Keindonesiaan.

Sejak era Orde Lama HMI dianggap sebagai pemasok birokrat dalam pemerintahan dan kader kader bangsa. Dikisahkan saat itu meski HMI masih terbilang berumur muda namun kader HMI sudah bertebaran di mana-mana, mulai dari akademisi, birokat, militer, profesional hingga politisi.

Hampir semua aspek kehidupan berbangsaan yang langsung bersinggungan dengan kehidupan masyarakat luas, diyakini alumni HMI memiliki peran yang sangat signifikan. HMI yang awalnya hanya organisasi mahasiswa lantas semakin membesar dan beranak-pinak hingga kemudian melahirkan beberapa organisasi lainnya yaitu Korps Alumni HMI (KAHMI) dan Forum Alumni HMI-Wati (FORHATI)

KAHMI sendiri adalah suatu wadah yang bersifat kekeluargaan, yang berawal dalam Kongres VIII di Solo pada 10-17 September 1966 telah digagas untuk menggelar pembentukan organ alumni. Pada 15 September, munas menyepakati dibentuknya Korps Alumni HMI yang disahkan pada 17 September 1966.

Pada awal mulanya KAHMI merupakan badan khusus HMI yang berfungsi sebagai tempat informasi dan wadah konsultasi bagi alumni HMI. Namun seiring perkembangan zaman, KAHMI berdiri sendiri secara organisatoris pada tahun 1987 yang dibentuk Presidium KAHMI Nasional.

KULIAH GRATIS BEASISWA

KAHMIdengan kapasitas kesarjanaan dan intelektual telah memiliki rumusan visi kebangsaan yang berkelanjutan. Karenanya kini KAHMI menjelma menjadi jamaah atau jejaring yang solid dan militan dalam semangat korps kekeluargaan yang semakin terberdayakan bagi kepentingan Nusa dan Bangsa.

KAHMI memiliki rekam jejak yang sangat menyakinkan dalam sumbangsihnya terhadap bangsa dan negara. Sumber daya yang dimiliki KAHMI sangat besar dan cukup memegang kunci dalam fatsun kekuasaan dan politik di Indonesia. Dibidang akademisi KAHMI tercatat memiliki jumlah Doktor dan Guru Besar terbanyak di Indonesia yang tersebar diberbagai lembaga pendidikan seluruh Indonesia. Dibidang Politik nyaris semua Partai Politik ada Kader HMI bahkan bisa dikatakan adalah para elit elit partai itu sendiri karenanya dalam fatsun kekuasaan baik ditingkat daerah hingga nasional, KAHMI cukup diperhitungkan secara kualitas maupun kuantitasnya.

Kader HMI sejak dari dulu telah terdapat sangat berperan dalam berbagai bidang pemberdayaan masyarakat baik melalui LSM/NGO, Pers, Profesional, birokat pemerintahan hingga melalui Ormas bahkan kini dua ormas keagamaan terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama’ dan Muhammadiyah juga banyak diisi oleh kader kader HMI. Diantara kader HMI juga ada yang menyebar menjadi para Pengusaha sukses hingga berskala Nasional dan Internasional.

Karena jaringan HMI sudah terjalin secara solid cukup lama sehingga jaringan KAHMI dianggap telah memiliki spirit yang kuat dengan terbentuk mental sebagai “pemenang dan juara”. Kelebihan lain dalam KAHMI conections adalah jika menyangkut visi kebangsaan dan kemajuan Indonesia maka para kader HMI siap berbagi kue dan berafiliasi dengan pihak manapun, hal ini dapat dimaknai jika antara keislaman dan keindonesiaan adalah hal yang paling relevan untuk kemajuan Indonesia.

Para kader HMI bukan hanya sukses di negeri sendiri, namun nampaknya kader HMI juga mampu menorehkan prestasi di luar negeri seperti Anwar Ibrahim yang kini menjadi Perdana Menteri di Malaysia adalah kader HMI.

Anwar Ibrahim tercatat sebagai kader HMI sebab pada tahun 1967 telah ikut pengkaderan HMI di Pekalongan, Jawa Tengah. Sebagaimana dikutip apahabar.com Anwar Ibrahim mengakui kalau dirinya belajar banyak materi ideologi politik dan strategi di kancah pengkaderan HMI. Kedekatannya dengan Nurcholis Madjid telah berdampak dalam cakarawa pemikiranya tentang gerakan keislaman dan kebangsaan.

Anwar Ibrahim dan Cak Nur telah bersama sama memperluas jaringan HMI dengan membentuk organ yaitu Persatuan Pelajar Islam Asia Tenggara. Cak Nur sebagai ketua dan Anwar Ibrahim sebagai sekjend nya.

Di Palu Sulawesi Tengah saat ini (23-25 November 2022) sedang menggelar Musyawarah Nasional untuk membahas berbagai agenda keumatan dan kebangsaan untuk kejayaan Indonesia, dalam waktu hampir bersamaan maka Dato’ Seri Utama Haji Anwar bin Ibrahim selaku pimpinan Partai Keadilan Rakyat Malaysia juga sedang dilantik sebagai Perdana Menteri Malaysia yang ke 10.

Sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Malaysia Dato’ Seri Utama Haji Anwar bin Ibrahim sempat berujar “ide dan pikiran Cak Nur masih sangat relevan hingga hari ini.. “

“Menjadi mahasiswa aktivis adalah pilihan buat kamu yang ingin berpolitik setelah lulus. Tetapi, lebih dari itu, kamu yang aktif di organisasi adalah sosok yang memiliki nilai lebih terhadap seni manajemen hidup.”

“Yakin Usaha Sampai”
Bersambung
—————————————————
*Esai ditulis dalam lawatan Munas KAHMI Ke XI di Palu, Sulawesi Tengah

**Penulis adalah penggembira di Munas KAHMI ke XI di Palu, sehari hari tinggal di desa