Hidupku Ceritaku Bukan Ceritamu

Ingatkah kita saat duduk di sekolah dasar (SD), guru kita yang cantik tersenyum lalu bertanya dengan lembut, “Anak – anak, apa cita –cita kalian saat sudah besar?” lalu semua berlomba mengangkat tangan untuk bercerita atau maju ke depan kelas untuk menceritakan cita – cita tersebut dengan antusias, malu – malu, gembira, bahkan bingung karena belum terbayang apa yang akan diceritakan. Masa – masa penuh kebahagiaan dan antusiame, lalu kita pulang dan bercerita pada orangtua kita tentang kejadian di sekolah.

Mungkin tak semua mengalami persis kejadian diatas seperti yang diceritakan, masing – masing memiliki kisahnya sendiri. Anda ya anda yang sedang membaca tulisan ini tentu memiliki pengalaman serupa dan dalam pikiran anda sekarang berkelebat gambar – gambar dari masa itu. Mungkin sekarang anda sedang tersenyum, tertawa atau cemberut berdasarkan pengalaman pribadi tersebut. Tetapi satu hal yang sama, kita semua memiliki CITA – CITA.

Seiring berjalannya waktu, cita –cita yang kita idam – idamkan semasa SD akan memiliki dua kemungkinan, ia akan terus bertahan hingga akhirnya mengakar dalam hati dan pikiran hingga kita dewasa atau ia pun berganti – ganti seiring berubahnya usia, lingkungan pergaulan,dorongan orangtua atau lainnya. Yang manapun anda jalani sekarang, saya berharap anda tak memilih pilihan ketiga, TIDAK lagi memiliki cita – cita. Pilihan yang terakhir akan sangat berbahaya untuk dipilih, karena ibaratnya seperti air yang mengalir mengikuti alur, semua akan bermuara di Laut. Saat tiba dilaut, apa yang membedakan anda dengan orang lain? Semua terlihat sama kan, seperti buih – buih dilautan yang banyak tetapi tak memiliki kekuatan.

Kata cita – cita identik dengan profesi yang akan kita pilih, tetapi yang saya bicarakan adalah lebih besar dari itu. Bukan hanya profesi tetapi sebuah VISI. Akan seperti apa kita, bagaimana meraihnya, siapa yang bisa membantu dan lainnya. Mengapa kita membutuhkan VISI? Karena dengan visi kita menancapkan sebuah target dalam hidup. Apapun profesi yang anda jalani sekarang tentu anda berharap itu dapat menjadi “Kendaraan” anda tuk mencapai VISI.

Beratkah membuat VISI? Hmm, tergantung menurut saya. Loh tergantung apa? sebesar apa anda ingin BERUBAH. Ahhh bicara tentang visi dan perubahan saya jadi ingat sebuah kisah, mau tahu kisah saya??….. hmm, ceritakan gak ya?? Hehehe oke yuk kita simak.

Alkisah di masa lalu ada sebuah kerajaan kecil yang sedang diinvasi daerahnya oleh sebuah kerajaan besar di seberang lautan. Seorang jenderal muda diutus untuk menghadapi pasukan musuh sebelum mereka memasuki wilah kerajaan. Menyeberangi lautan luas dengan ratusan prajurit, sang jenderal harus menghadapi sebuah dilemma. Musuh yang dihadapi berjumlah 10x lipat dari jumlah pasukannya. Selama perjalanan ia pun harus berfikir keras.

Saat tiba di sebuah pulau tempat pasukan musuh membangun markas sebelum menyerang, sang jenderal dan pasukannya mendarat dengan diam – diam. Sesampainya ia di tepi pantai, ia memerintahkan beberapa anak buahnya untuk membakar habis kapal – kapal yang membawa mereka. Setengah tidak percaya, para prajurit tersebut menyalakan api dan dalam waktu singkat kobaran api besar membumbung di angkasa menghanguskan kapal – kapal mereka.

Ditengah kobaran api yang dahsyat, sang jenderal berjalan di depan pasukannya yang mayoritas menunjukkan ekspresi tidak suka, kaget, bingung dan putus asa. Lalu sang jenderal naik ke sebuah batu karang yang besar dan berteriak pada pasukannya.

“Pasukanku. Aku terima tugas berat dari raja kita tuk menyelamatkan negeri. Kita berlayar sejauh ini untuk satu tujuan, menghalangi musuh tuk sampai di negeri kita. kita datang ke pulau ini dengan satu tujuan menghancurkan pasukan musuh dan memulangkan mereka kembali ke negeri mereka nun jauh disana. Kita disini bukan untuk kehormatan, kejayaan atau kekayaan. Kita hadir disini untuk menyelamatkan keluarga kita, anak istri kita, para orang tua dan mereka yang menitipkan nyawa ditangan kita sekarang”

Sang jenderal memandangi pasukannya satu persatu, lalu dengan satu tarikan nafas ia melanjutkan, 

“ Kalian lihat kapal – kapal kita sudah terbakar. Sekarang tak ada lagi yang bisa lari. Pilihan kita hanya dua. berperang hingga tetes darah terakhir atau pulang dengan membawa kemenangan. Jangan berfikir tuk menyerah, karena sekarang menyerah berarti MATI. Perjuangkan negeri kita, perjuangkan anak istri kita, perjuangkan diri kita untuk mengalahkan musuh. Tak ada lagi keraguan, tak ada lagi jalan tuk mundur. SEKARANG atau TIDAK SELAMANYA”

Teriakan pun membahana di angkasa, mereka pun bergerak menuju perkemahan musuh. Dalam gelapnya malam, mereka menyerang secara mendadak melumatkan setiap orang yang ada. Memberikan signal agar tak membunuh teman. Memberikan sebuah serangan kejutan yang mematikan. Bukan karena jumlah mereka yang membuat mereka berani, tetapi kesatuan tujuan dan kemauan kuat yang menjadikan mereka pulang dengan sebuah kemenangan gemilang.

Bagi saya, VISI membuat hidup seperti sang jenderal. Ada sesuatu yang penting di dalam diri kita yang kita yakini dan akan kita lakukan. Mayoritas orang – orang sukses memiliki visi. Semua pedagang memiliki kemampuan menjual, tetapi berapa orang yang bisa menjadi pengusaha dengan ratusan pegawai? Semua mahasiswa memiliki ilmu, tetapi berapa yang mencapai tingkatan tertinggi baik profesi, kekuasaan dan pendapatan? Yang membedakan mereka adalah cita – cita atau VISI mereka.

Mereka tak menjadikan hidup mereka mengalir bagaikan air tetapi ibarat sebuah cerita petualangan yang penuh tantangan, mereka mengidamkan klimaks yang dahsyat hingga cerita mereka tak lagi sama dan menginspirasi orang lain. Bagaimana dengan ANDA? Sudahkah anda tentukan VISI hidup anda? Bila belum, SEKARANGlah waktu yang TEPAT…

Ingatkah kita saat duduk di sekolah dasar (SD), guru kita yang cantik tersenyum lalu bertanya dengan lembut, “Anak – anak, apa cita –cita kalian saat sudah besar?” lalu semua berlomba mengangkat tangan untuk bercerita atau maju ke depan kelas untuk menceritakan cita – cita tersebut dengan antusias, malu – malu, gembira, bahkan bingung karena belum terbayang apa yang akan diceritakan. Masa – masa penuh kebahagiaan dan antusiame, lalu kita pulang dan bercerita pada orangtua kita tentang kejadian di sekolah.

Mungkin tak semua mengalami persis kejadian diatas seperti yang diceritakan, masing – masing memiliki kisahnya sendiri. Anda ya anda yang sedang membaca tulisan ini tentu memiliki pengalaman serupa dan dalam pikiran anda sekarang berkelebat gambar – gambar dari masa itu. Mungkin sekarang anda sedang tersenyum, tertawa atau cemberut berdasarkan pengalaman pribadi tersebut. Tetapi satu hal yang sama, kita semua memiliki CITA – CITA.
Seiring berjalannya waktu, cita –cita yang kita idam – idamkan semasa SD akan memiliki dua kemungkinan, ia akan terus bertahan hingga akhirnya mengakar dalam hati dan pikiran hingga kita dewasa atau ia pun berganti – ganti seiring berubahnya usia, lingkungan pergaulan,dorongan orangtua atau lainnya. Yang manapun anda jalani sekarang, saya berharap anda tak memilih pilihan ketiga, TIDAK lagi memiliki cita – cita. Pilihan yang terakhir akan sangat berbahaya untuk dipilih, karena ibaratnya seperti air yang mengalir mengikuti alur, semua akan bermuara di Laut. Saat tiba dilaut, apa yang membedakan anda dengan orang lain? Semua terlihat sama kan, seperti buih – buih dilautan yang banyak tetapi tak memiliki kekuatan.
Kata cita – cita identik dengan profesi yang akan kita pilih, tetapi yang saya bicarakan adalah lebih besar dari itu. Bukan hanya profesi tetapi sebuah VISI. Akan seperti apa kita, bagaimana meraihnya, siapa yang bisa membantu dan lainnya. Mengapa kita membutuhkan VISI? Karena dengan visi kita menancapkan sebuah target dalam hidup. Apapun profesi yang anda jalani sekarang tentu anda berharap itu dapat menjadi “Kendaraan” anda tuk mencapai VISI.
Beratkah membuat VISI? Hmm, tergantung menurut saya. Loh tergantung apa? sebesar apa anda ingin BERUBAH. Ahhh bicara tentang visi dan perubahan saya jadi ingat sebuah kisah, mau tahu kisah saya??….. hmm, ceritakan gak ya?? Hehehe oke yuk kita simak.
Alkisah di masa lalu ada sebuah kerajaan kecil yang sedang diinvasi daerahnya oleh sebuah kerajaan besar di seberang lautan. Seorang jenderal muda diutus untuk menghadapi pasukan musuh sebelum mereka memasuki wilah kerajaan. Menyeberangi lautan luas dengan ratusan prajurit, sang jenderal harus menghadapi sebuah dilemma. Musuh yang dihadapi berjumlah 10x lipat dari jumlah pasukannya. Selama perjalanan ia pun harus berfikir keras.
Saat tiba di sebuah pulau tempat pasukan musuh membangun markas sebelum menyerang, sang jenderal dan pasukannya mendarat dengan diam – diam. Sesampainya ia di tepi pantai, ia memerintahkan beberapa anak buahnya untuk membakar habis kapal – kapal yang membawa mereka. Setengah tidak percaya, para prajurit tersebut menyalakan api dan dalam waktu singkat kobaran api besar membumbung di angkasa menghanguskan kapal – kapal mereka.
Ditengah kobaran api yang dahsyat, sang jenderal berjalan di depan pasukannya yang mayoritas menunjukkan ekspresi tidak suka, kaget, bingung dan putus asa. Lalu sang jenderal naik ke sebuah batu karang yang besar dan berteriak pada pasukannya.
“Pasukanku. Aku terima tugas berat dari raja kita tuk menyelamatkan negeri. Kita berlayar sejauh ini untuk satu tujuan, menghalangi musuh tuk sampai di negeri kita. kita datang ke pulau ini dengan satu tujuan menghancurkan pasukan musuh dan memulangkan mereka kembali ke negeri mereka nun jauh disana. Kita disini bukan untuk kehormatan, kejayaan atau kekayaan. Kita hadir disini untuk menyelamatkan keluarga kita, anak istri kita, para orang tua dan mereka yang menitipkan nyawa ditangan kita sekarang”
Sang jenderal memandangi pasukannya satu persatu, lalu dengan satu tarikan nafas ia melanjutkan, 
“ Kalian lihat kapal – kapal kita sudah terbakar. Sekarang tak ada lagi yang bisa lari. Pilihan kita hanya dua. berperang hingga tetes darah terakhir atau pulang dengan membawa kemenangan. Jangan berfikir tuk menyerah, karena sekarang menyerah berarti MATI. Perjuangkan negeri kita, perjuangkan anak istri kita, perjuangkan diri kita untuk mengalahkan musuh. Tak ada lagi keraguan, tak ada lagi jalan tuk mundur. SEKARANG atau TIDAK SELAMANYA”
Teriakan pun membahana di angkasa, mereka pun bergerak menuju perkemahan musuh. Dalam gelapnya malam, mereka menyerang secara mendadak melumatkan setiap orang yang ada. Memberikan signal agar tak membunuh teman. Memberikan sebuah serangan kejutan yang mematikan. Bukan karena jumlah mereka yang membuat mereka berani, tetapi kesatuan tujuan dan kemauan kuat yang menjadikan mereka pulang dengan sebuah kemenangan gemilang.
Bagi saya, VISI membuat hidup seperti sang jenderal. Ada sesuatu yang penting di dalam diri kita yang kita yakini dan akan kita lakukan. Mayoritas orang – orang sukses memiliki visi. Semua pedagang memiliki kemampuan menjual, tetapi berapa orang yang bisa menjadi pengusaha dengan ratusan pegawai? Semua mahasiswa memiliki ilmu, tetapi berapa yang mencapai tingkatan tertinggi baik profesi, kekuasaan dan pendapatan? Yang membedakan mereka adalah cita – cita atau VISI mereka.
Mereka tak menjadikan hidup mereka mengalir bagaikan air tetapi ibarat sebuah cerita petualangan yang penuh tantangan, mereka mengidamkan klimaks yang dahsyat hingga cerita mereka tak lagi sama dan menginspirasi orang lain. Bagaimana dengan ANDA? Sudahkah anda tentukan VISI hidup anda? Bila belum, SEKARANGlah waktu yang TEPAT…

Leave a Reply