Hewan Taman Satwa Taru Jurug Harus Tetap Bertahan Hidup di Masa Covid- 19

  • Bagikan
Hewan Taman Satwa Taru Jurug Harus Tetap Bertahan Hidup di Masa Covid- 19

Liputan4.com – Solo, Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) di Solo, Jawa Tengah, telah diputuskan hanya beroperasi sebagai lembaga konservasi. Keputusan ini tak lepas dari dampak pandemi Covid-19 yang mengharuskan kebun binatang itu ditutup untuk pengunjung, namun pekerja tetap bekerja demi kelangsungan hewannya.

Penutupan tersebut demi mencegah terjadinya zoonosis, arti dari zoonosis adalah penyebaran penyakit dari manusia ke hewan atau sebaliknya penyebaran penyakit dari hewan ke manusia terang Bimo Wahyu Widodo Dasir Selaku Direktur Utama Taman Satwa Juruq Taru ( TSTJ )pada konferensi pers di Hotel Red Chilies Solo, Sabtu 28/02/2021

Seperti halnya di banyak kebun binatang lainnya, ataupun pusat keramaian lain, tak ada pengunjung berarti nihil pemasukan dari tiket. Sumber biaya perawatan pun menjadi persoalan.

Seperti dituturkan kembali Direktur Utama TSTJ Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, kebutuhan tersebut harus dipikirkan. Kebutuhan pakan dan obat-obatan di TSTJ disebutkannya minimal sebesar Rp 125,5 juta per bulan. “Ini belum gaji karyawan, belum operasional lain seperti listrik. Saat ini kami memiliki 407 satwa,” katanya

Ia mengatakan sesuai dengan aturan maka lembaga konservasi harus memastikan lima hal untuk keberlangsungan satwa. Kelimanya adalah jangan sampai satwa kelaparan, jangan sampai kehausan, jangan sampai stres, bisa berkembang biak, dan kandang harus memenuhi syarat.

“Artinya satwa bisa hidup seperti di alam liar, misal kandang harimau dan pakan harus ada kolamnya, ada airnya, biar dia bisa mandiri, ada tempat berteduh, dia kan binatang tidur dan pakannya seperti daging harus tetap siap, biar bisa beristirahat dengan baik,” katanya memaparkan saat ditanya awak media Liputan4.com

Selain itu, ada kebutuhan perawatan kandang, atap, dan lantai. Ia mengatakan ketiganya sering mengalami kerusakan, apalagi jika gerakan satwa aktif. “Jadi, untuk kebutuhannya nanti kami hitung ulang, yang penting upayanya kebun binatang tidak tutup,” katanya.

Menurut dia, saat ini langkah lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan TSTJ sebagai lembaga konservasi sedang digodok oleh Pemerintah Kota Surakarta. “Nanti keputusan final seperti apa, kami juga sedang menunggu,” katanya.

Sebelumnya, pada Senin, Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo telah mengatakan akan ada langkah merumahkan karyawan TSTJ Surakarta menyusul penutupan kembali objek wisata tersebut akibat pandemi Covid-19. Semua akan dirumahkan sementara kecuali keeper, dokter hewan, dan satpam.

Dia mengaku masih mempertimbangkan untuk bisa mempertahankan seluruh karyawan di taman satwa itu namun terbentur ketiadaan anggaran. “Dipikir menggunakan anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) boleh, ternyata nggak boleh untuk gaji karyawan administrasi sampai direktur,” kata dia.

Dari pemasukan saat ini diperoleh dari pengunjung anak anak 40 persen, 40 persen dari orang tua yang mengantarkan selebihnya 20 persen dari kunjungan para pelajar SMP dan SMA tutur Bimo

Sedang untuk mengaji keeper dan dokter hewan, juga untuk memberi pakan telah dialokasikan dari anggaran itu senilai Rp 1,9 miliar untuk setahun ini, atau hampir Rp 160 juta per bulan. Dia berjanji, jika situasi sudah kembali normal, kebun binatang itu akan kembali dibuka untuk masyarakat umum.

Alhamdulilah berkat bantuan dari Pemerintah dan dibuka kembali Taman Satwa Jurug Taru ( TSJT ) sampai saat ini tidak ada hewan yang mati akibat sakit atau keterlambatan pakannya tutup Bimo

( AGUS MAULANA )

Print Friendly, PDF & Email
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Suka
Waww
0
Waww
Haha
0
Haha
Sedih
0
Sedih
Lelah
0
Lelah
Marah
0
Marah
  • Bagikan
Pemerintah Kabupaten Lombok Timur