DPP GPI MEMBONGKAR DUGAAN SINDIKAT PEMERASAN MODUS METERAN LISTRIK BODONG

Dpp Gpi Membongkar Dugaan Sindikat Pemerasan Modus Meteran Listrik Bodong

LIPUTAN 4 Sumut,30-1-2021. Seorang Warga lingkungan Jalan Seikera Medan Perjuangan, jadi korban pembebanan pemutusan atau pembongkaran meteran listrik dengan alasan adanya Koneksi Ilegal, dan mengalami pemerasan senilai Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah), yang dilakukan oleh rekanan tukang pencatat daya listrik keliling bernama Muhammad Haswar dan 3 (tiga) orang rekannya yang lain dalam lidik pada saat itu.


 
Perbuatan pemerasan itu terjadi pada hari Selasa, (26/01/2021), sempat diproses dan pelakunya ditangkap oleh Unit Reskrim Polsek Medan Timur – Polrestabes Medan.
 
Namun, karena pelaku minta tolong ingin dibebaskan, lantaran sang istrinya sedang dalam mengandung dan dalam waktu dekat akan melahirkan.
 
“Karena pelakunya minta tolong, dengan pengakuannya kalau istri akan melahirkan,” kata Korban.
 
Lantas, pelaku diberi kesempatan menjalani hidup dan mengurus keluarganya. Sehingga korban pemerasan dengan pelaku berdamai dan uang hasil dari pemerasan dikembalikan kepada korban.
“Kamipun kasihan dan berdamai, serta pelaku mengembalikan uang yang diambilnya sama kami.” Bebernya.
 
Berdasarkan hasil monitoring Dewan Pimpinan Pusat Garda Peduli Indonesia (DPP GPI) menemukan ada kejanggalan ketika dilakukan pemutusan atau pembongkaran meteran yaitu lembaran bukti Surat kepada pemilik rumah tidak ada diberikan oleh pihak PLN Rayon Medan Kota.
 
“Kita menemukan ada kejanggalan dari tindakan pemutusan atau pembongkaran meteran listrik tersebut, karena seperti biasanya, pihak PLN yang menindak itu, meninggalkan selembaran warna merah atau bukti pembongkaran meteran listriknya.” Ungkap Ketum DPP GPI, Frisdarwin A.B.S, St Jumat (29/01/2021).
 
Kemudian,Pihak Media Mengkonfirmasi kepada Manager PLN Rayon Medan Kota OKTAFO NAIBAHO yang diklarifikasi , merasa tidak ada urusan dan tanggungjawab terhadap perbuatan rekanan kerjanya sebagai pencatat daya keliling dari Rumah ke Rumah
“Kami tidak ada urusan dan tanggung jawab atas perbuatan oknumnya, karena itu diluar SOP yang sudah kami berikan” Ujar Manager Oktafo Naibaho, Jumat siang (29/01/2021). 
 
Kemudian, ketika dipertanyakan tindakan apa yang dilakukan kepada Muhammad Haswar yang mengaku petugas P2TL itu oleh karenanya sebagai pimpinan atau Manager, enggan menanggapi.
 
“Itu bukan tanggung jawab kami, tidak urusan kami atas perbuatannya Tukas Oktafo Naibaho.
 
Sementara itu, konsumen atau penghuni rumah yang baru yang dikonfirmasi, mengaku bahwa rumah yang mereka huni saat ini, sebelumnya bekas pabrik dan meteran listrik nya juga yang dipakai yang sudah dibongkar oleh PIHAK PLN Rayon Medan itu, bekas pakai oleh pemilik hunian atau pabrik sebelumnya.
“Rumah yang kami tempati ini, bekas pabrik dulunya, meteran listrik itu juga bekas milik pabrik, kami tidak ada niat melakukan hal yang jahat seperti tuduhan Pihak PLN itu, karena dari awal kami tempati rumah ini, pembayaran tagihan listriknya segitu-gitu juga, kami kaget lah atas perlakuan seperti ini,” ungkap pemilik rumah yang tidak mau disebutkan namanya.
 
Pemilik rumah juga menambahkan, peristiwa pembongkaran meteran listriknya itu, karena unsur balas dendam (sakit hati) oknum pemerasan pencatat daya yang sempat diproses polisi sebelumnya.
 
“Ini sudah jelas unsur balas dendam karena dia tidak terima dan sakit hati, sehingga mereka bertindak seolah-olah yang tidak berkeadilan.” Tukasnya.
 
Pemilik rumah, berharap kepada Pihak PLN agar menindak tegas Oknum pencatat daya yang memerasnya, diproses sesuai prosedur aturan hukum yang berlaku diruang lingkup birokrasi PLN.
 
“Kami berharap, agar Pimpinan PLN Rayon Medan Kota, bertindak adil dan menindak tegas oknum rekenan kerjanya sebagai pencatat daya tersebut.” Pungkasnya.

 
 
(G.mrh)