"MARI SIAPKAN JIWA RAGA UNTUK MENJEMPUT KEAGUNGAN LAILATUL QADAR DAN KITA SEMUA MENJADI PILIHANNYA UNTUK MENDAPATI RAHMAT DAN MAGFIRAH-NYA DAN KEMBALI MENJADI HAMBA YANG DIKASIHI. MARHABAN YA RAMADHAN.""JIKA HATI SEPUTIH AWAN, JANGAN BIARKAN IA MENDUNG. JIKA HATI SEINDAH BULAN, HIASI DENGAN SENYUMAN. MARHABAN YA RAMADHAN. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA."

Direktur CISA Minta Evaluasi BNPB dan Kemensos Soal Banjir

  • Bagikan
Direktur CISA Minta Evaluasi BNPB dan Kemensos Soal Banjir

LIPUTAN4.COM, Jakarta- Bencana Banjir Bandang dan juga longsor kembali melanda beberapa wilayah di Indonesia. Teranyar terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Bima, Nusa Tenggara Barat. Pengamat Sosial-Politik dari Centre for Indonesia Strategic Actions menyampaikan responsnya.

“Hemat saya bahwa faktor alam sudah tidak relevan dijadikan alasan penyebab bencana alam di Indonesia. Harusnya Pemerintah sudah bisa mengantisipasinya,” ucap Herry Mendrofa, Direktur Eksekutif CISA melalui keterangan persnya, Rabu (7/4/2021).

Herry pun meminta keseriusan dan komitmen pemerintah dalam upaya penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia.

“Setahu saya ada anggaran 5 triliun rupiah untuk penanggulangan bencana sudah termasuk mitigasi. Saya melihat justru disinilah faktor ketidaksiapan pemerintah yakni tahapan mitigasi yang dimaksud belum dioptimalkan oleh Pemerintah,” ujar Herry.

Lebih lanjut Dia menerangkan bahwa temuan CISA di beberapa wilayah yang dilanda bencana alam di Indonesia mayoritas adalah bencana banjir.

“Hasil survei kami di beberapa tahun belakangan ini, sebanyak 79,4% Bencana Banjir mendominasi bencana alam di Indonesia. Hal ini harus menjadi evaluasi dari Pemerintah untuk memaksimalkan tahapan pencegahan, tanggap darurat dan pasca bencana,” tuturnya.

Selain itu Herry menganjurkan Pemerintah Indonesia bisa belajar dari beberapa negara lainnya di dunia termasuk Asia Tenggara soal penanganan Banjir.

“Misalnya saja di Malaysia mitigasi bencana banjirnya sudah menjadi sebuah sistem melalui Stormwater Management and Road Tunnel (SMART) atau dengan pola pembangunan radial segaris-bercabang yang mengkombinasikan pengaturan zona lahan dan transportasi publik di Brazil,” ungkapnya.

Herry juga mengingatkan agar Pemerintahan Jokowi mampu membangun sinergi dengan Masyarakat yang memiliki passion yang sama untuk meminimalisasi dampak yang diakibatkan oleh bencana alam.

“Presiden Jokowi kan memiliki suprastruktur politik, ada kebijakan ada lembaga misalnya BNPB dan Kemensos harus dievaluasi untuk lebih maksimal. Di sisi masyarakat juga tetap konsisten memberikan sumbangsih kritikan yang disertai solusi. Artinya semua pihak berkolaborasi,” pungkas Herry.

Print Friendly, PDF & Email
  • Bagikan

Channel Liputan4 TV – Live News

Kel. Hj.Rampeani Rachman Gelar Bukber Dan Malam Pisah Bersama Kepala UPBU Timika Syamsuddin Soleman

27
0
0

Desa Bumi daya Dalam Pengelolaan Bumdes patut di jadikan percontohan

45
0
0

Peresmian Usaha Unit Bumdes Maju Bersama Oleh Camat Palas Program one Village one outlet

22
0
0

Trobosan Baru Budidaya Udang Dengan Air Tawar Di Palas

71
0
0