Datangi RSUD Abepura, Puluhan Pengusaha Asli Papua Merasa Dilecehkan dan Tidak Dihargai

  • Bagikan
Datangi RSUD Abepura, Puluhan Pengusaha Asli Papua Merasa Dilecehkan dan Tidak Dihargai
Puluhan pengusaha asli Papua saat menyampaikan aspirasinya di depan Kantor Administrasi RSUD Abepura

JAYAPURA | Merasa dilecehkan dan tidak dihargai, puluhan massa yang terdiri dari pengusaha asli Papua datangi Kantor Administrasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura pada hari Senin (10/05/2021) siang, untuk menuntut kejelasan atas kebijakan yang telah dikeluarkan.

Hugo Merani sebagai Ketua LSM Gempur Kota Jayapura mengatakan bahwa pihaknya mendatangi RSUD Abepura karena dari pihak RSUD menerima sekitar 270 profil pengusaha tetapi yang dikeluarkan pihak RSUD hanya 22 paket pekerjaan.

“Dan 22 paket itu, satu paketpun kami tidak mengetahui berapa besarnya, tidak ada transparansi antara pihak rumah sakit dan kami sebagai pihak ketiga sebagai rekanan yang harus melakukan pekerjaan di rumah sakit Abepura,” ujar Hugo.

Pihaknya merasa kecewa karena panitia pengadaan membuat kebijakan yang sangat merugikan para pengusaha asli Papua tentang sistem lotre, ia merasa dilecehkan karena menurutnya sistem lotre itu tidak ada dalam aturan LKPP maupun regulasi Pemerintah, hanya sebuah kebijakan yang dikeluarkan oleh RSUD Abepura yang melanggar aturan dan melawan hukum yang bisa dikenakan melaui undang-undang perdata

“Kami selalu dibuat seperti ini, selalu dikelompokkan seperti ini lalu diberikan opsi opsi yang sangat merugikan kami orang asli Papua, pengusaha lokal orang asli Papua. Tidak ada transparansi, lotre ini dilahirkan dari rumah sakit Abepura akhirnya virusnya kena ke semua OPD yang ada di atas tanah Papua ini,” tegasnya.

Hugo Merani yang juga selaku Ketua LSM GEMPUR Papua mencurigai anggaran yang diberikan kepada pengusaha asli Papua hanya 1 miliar 100 juta yang menurutnya merupakan pelecehan kepada pengusaha asli Papua.

“Kalau ada orang pendatang terlibat dalam penunjukkan langsung itu keliru, karena apa ? Karena di Perpres 17 tahun 2019 jelas 2,5 miliyar itu punya orang asli Papua, nanti di atas 2,5 miliyar itu milik pendatang, ko boleh adu nasib di situ tidak boleh masuk dalam penunjukkan langsung 2,5 miliyar itu punyanya orang Papua, tapi selalu ada masuk disitu orang pendatang ini tidak boleh terjadi di atas tanah Papua,” jelasnya.

Ia juga semakin heran ketika ada wartawan yang datang mau meliput, Hugo mengatakan “orang Dinas hari ini takut, rumah sakit Abe takut kalau wartawan liput, malah yang mau diusir wartawan itu persoalan. Sebenarnya ada apa ? Apa yang harus mereka takut ? Tidak perlu takut, kalau mereka kerja benar, tidak perlu takut,” ungkapnya.

“Alasan dari rumah sakit Abe bahwa paketnya terbatas terus rekofusing anggaran, sementara di tahun 2020 kemarin dengan situasi yang sangat darurat Covid tapi kok pengusaha Papua hampir 100 lebih diakomodir di Rumah Sakit Abe dan hari ini hanya 22 paket yang jadi pertanyaan buat kami, apa yang sedang terjadi ? ,” kata Hugo.

Hugo menjelaskan bahwa Wakil Direktur RSUD Abepura akan bertemu dengan para pengusaha asli Papua, pada esok hari (11/05/2021) jam 10.00, dengan memberikan penjelasan terkait kebijakan opsi lotre yang telah dikeluarkan.

“Saya berharap pejabat publik yang ada di tanah Papua, baik Sekda Provinsi Papua dapat melihat persoalan ini. Ini merupakan pelecehan, ini bukan satu opsi yang baik ada opsi-opsi lain dan lotre bukan merupakan opsi yang baik untuk pengusaha orang asli Papua,” pungkasnya.

Pasca bubarnya massa, beberapa wartawan berusaha menemui pihak RSUD Abepura untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut tetapi tidak menemui pihak yang berkompeten untuk menjelaskan terkait permasalahan yang disampaikan oleh pengusaha asli Papua.

Reporter: Akim
Editor: Makatita
Bagaimana Reaksi Anda?
Suka
0
Suka
Waww
0
Waww
Haha
0
Haha
Sedih
0
Sedih
Lelah
0
Lelah
Marah
0
Marah
  • Bagikan
LIPUTAN4.COM Kami ingin menunjukkan kepada Anda pemberitahuan untuk berita dan pembaruan terbaru.
Dismiss
Allow Notifications