Buka Kegiatan Konferda III DPD GMNI Tanah Papua, Bupati Maybrat:: GMNI Harus Kritis

Reporter: Redaksi Papua Topik: Informasi Publik, Papua
  • Bagikan
Buka Kegiatan Konferda Iii Dpd Gmni Tanah Papua, Bupati Maybrat:: Gmni Harus Kritis
Bupati Maybrat Bernard Sagrim Bersama Kader GMNI

SORONG | Bupati Maybrat, Bernard Sagrim membuka rangkaian kegiatan Konferensi Daerah III Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia dengan tema “Merajut kembali semangat gotong royong demi mewujudkan cita-cita revolusi 1945 di gedung keik malamoi. Selasa,(22/11/2021).

Dalam kegiatan tersebut Bernard menyampaikan bahwa GMNI harus memberikan kontribusi yang positif, misalnya mengkaji UU No 21 tahun 2001 tentang Otsus provinsi Papua yang juga diperkuat dengan peraturan pemerintah No 106 dan 107 tentang otonomi khusus.


“Sekiranya GMNI bisa mengkaji dalam konferensi ini, apa saja kontribusi dan masukan sehingga implementasi UU Otsus ini bisa dilaksanakan dengan baik, terutama terkait dengan kedaulatan hak hak orang asli Papua,” ungkap Bernard.

Saya berharap ade ade mahasiswa bangkit, baik yang dimotorik oleh GMNI maupun kelompok Cipayung untuk berkolaborasi sehingga mengkritisi persoalan persoalan daerah terkait implementasi otonomi khusus di tanah Papua.

Sementara itu Ketua umum DPP GMNI, Imanuel Chayadi mengatakan kita bicara nasionalisme itu dari Sabang sampai Merauke, nasionalisme itu tidak sekedar ucapan saja tetapi ada hal yang harus tempu misalnya harus ada demokrasi, dalam hal ini demokrasi ekonomi dan juga politik. Seluruh masyarakat Indonesia punya akses terhadap hal itu, punya akses terhadap ekonomi dan punya akses terhadap politik.

Kalau berbicara soal nasionalisme, musuhnya itu satu pasti yaitu transnasionalisme. Ideologi ideologi transnasional itu sangat banyak, baik yang berlandaskan agama, suku, ras ataupun secara politik ekonomi.

Kita harus menelaah kenapa dengan mudah ideologi transnasional masuk, tidak harus dengan cara cara represif tetapi dengan membuka dialog.

Kita dituntut untuk hidup di tengah masyarakat dalam kaderisasi kaderisasi GMNI jadi kita semua turut mengalami apa yang dirasakan oleh masyarakat, itu yang buat GMNI bedah dengan organisasi organisasi lain.

Selain metode kaderisasi yang turun langsung ke masyarakat, kita juga wajib punya basis advokasi untuk berjuang.

“Berjuang itu bukan untuk diri sendiri tetapi berjuang untuk rakyat,”ucap Imanuel.

Saya berharap untuk kepengurusan ke depan kawan kawan GMNI di Papua mampu untuk mewujudkan konsep tadi dalam situasi dan relevansinya pada situasi masyarakat terkini untuk mengembangkan analisa berpikirnya, menelaah permasalahan sehingga punya jawaban untuk menghadapi tantangan zaman.

Imanuel menambahkan kita kuliah ini karena subsidi rakyat jadi apa bisa kita berikan, salah satunya dengan kita ber-GMNI dan kita datang ke masyarakat untuk tahu permasalahannya sehingga bisa memberikan advokasi semampu kita berdasarkan ilmu yang kita dapat.

Reporter: Ochen
Editor: Redaksi/Papua
Print Friendly, Pdf & Email
  • Bagikan